• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Berita Pemilu Israel, Alarm Bahaya Palestina

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. 2shae
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

2shae

IndoForum Beginner D
No. Urut
60531
Sejak
2 Jan 2009
Pesan
621
Nilai reaksi
13
Poin
18
TRIBUN- Situasi politik di Israel semakin memanas menjelang Pemilihan Umum Parlemen, 10 Februari 2009, Selasa besok. Para kandidat bersaing memperebutkan popularitas, termasuk diantaranya menjadikan Hamas dan Palestian jualan politik.

Mereka mengklaim dirinya sebagai pihak paling berwenang dalam agresi Israel ke Gaza, Desember 2008.

Pemimpin Partai Buruh sekaligus Menteri Pertahanan Ehud Barak menyatakan sebagai orang yang tepat menjamin keamanan dan perdamaian Israel, jika terpilih menjadi perdana menteri. Barak dan Menteri Luar Negeri Tzipi Livni, yang juga pemimpin Partai Kadima, bersaing mendapat penghargaan atas agresi Israel itu.

Sementara Benyamin Netanyahu dari Partai Garis Keras Likud bersikukuh akan menggunakan kekuasaannya jika terpilih sebagai Perdana Menteri dengan mempertahankan Yerusalem dalam kekuasaan Israel.

Pemilu yang akan dilaksanakan hari Selasa, besok, merupakan pemilihan ke-18 sejak negara Yahudi itu menduduki Palestina tahun 1948. Sekitar lima juta warga akan memperoleh hak memilih di 9.263 tempat pemilihan di seluruh negeri itu.

Sebanyak 33 partai akan berjuang untuk kursi di Knesset mendatang, yang mencerminkan peta politik pemilih negara itu.

Adalah tanda bahaya jika kaum sayap kanan Israel yang berkuasa dan memenangkan Pemilu kali ini. Warga Palestina dan Jalur Gaza pantas cemas. Sebab, Pemilu di negeri Yahudi yang digelar besok (10/2) itu berpeluang memunculkan dua kekuatan ultranasionalis yang lebih mengedepankan opsi kekerasan dalam penyelesaian konflik.

Yang satu dan sudah pasti adalah Partai Likud pimpinan mantan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Satunya lagi, yang selama ini kurang disorot adalah Yisrael Beiteinu di bawah komando Avigdor Lieberman.

Beberapa pengamat menilai, Avigdor adalah sosok politikus “berbahaya” di Israel." Banyak orang menilainya sebagai tokoh rasis atas usulannya sebelum ini yang akan mengajukan hukuman bagi warganegara dari siapapun yang menolak untuk mengambil sumpah kesetiaan.

Selain Avigdor, ada pula nama Moshe Feiglin, anggota kubu ekstrim kanan Likud. Julukan Hitler pernah disematkan pada Feiglin dari Likud atas berbagai kebijakan politiknya.

Sebelum ini, berdasarkan hasil jajak pendapat, menunjukkan, kubu garis keras dari oposisi sayap kanan Israel Partai Likud diprediksi memimpin perolehan menyusul gencatan senjata di Jalur Gaza.

Likud yang kini menguasai 12 dari total 120 kursi parlemen Israel atau Knesset, akan menjadi 29 kursi, demikian survey dua suratkabar Israel, Maariv dan Yediot Ahronoth, seperti dikutip AFP.

Dengan menggandeng partai-partai keagamaan Yahudi dan meningkatknya kekuatan ultra kanan Israel, Beitenou, blok oposisi pimpinan Partai Likud akan meraih posisi mayoritas antara 62 - 63 kursi.

Beitenou yang didirikan kelompok Yahudi eks Uni Soviet pimpinan tokoh garis keras Avigdor Lieberman, akan memenangkan 14 - 16 kursi dari 11 kursi yang kini dikuasainya. Partai-partai agama ekstremis tampaknya akan memenangkan lagi kursi yang sempat lepas pada pemilu lalu.

Partai kanan-tengah yang sedang berkuasa, Kadima pimpinan Menteri Luar Negeri Tzipi Livni, diprediksi akan meraih 24-25 kursi, dari 29 kursi Knesset yang dikuasainya sekarang, sedangkan mitranya yang berhaluan tengah-kiri Partai Buruh pimpinan Menteri Pertahanan Ehud Barak akan mengumpulkan 16-17 suara, dari 19 kursi yang sedang dikuasainya.

Ternyata serangan militer 22 hari ke Gaza justru membuat popularitas Partai Buruh yang turut berkuasa, menurun sehingga kursinya di parlemen diperkirakan jatuh ke titik terendah dalam sejarah sekitar 10 kursi.

Yisrael Beiteinu pantas diwaspadai karena berdasar hasil poling terakhir Jumat lalu (6/2) yang dikutip The Independent, sukses menggeser mantan partai penguasa selama beberapa dekade yang juga masuk koalisi pemerintahan Ehud Olmert saat ini, Partai Buruh. Yisrael diperkirakan meraup 18-19 kursi, satu kursi di atas Partai Buruh yang beraliran kiri di bawah pimpin Menteri Pertahanan Ehud Barak.

Jika Yisrael bergandengan dengan Likud yang tetap di atas dengan kemungkinan perolehan 25-27 kursi, Israel bakal berada di bawah komando kubu yang sudah berkoar bakal menggusur Hamas sampai ke akar-akarnya. Lieberman bahkan mengusulkan pencabutan status kewarganegaraan warga Israel keturunan Arab yang dianggap tak menunjukkan kesetiaan kepada negeri Yahudi itu.

Namun, ada kemungkinan pula Lieberman memilih berkoalisi dengan Partai Kadima-nya Menteri Luar Negeri Tzipi Livni yang beraliran tengah. Itu karena Lieberman dan Livni sama-sama sekuler. Berbeda dengan Netanyahu yang dekat dengan kalangan ultraortodoks seperti Partai Shas. Namun, sejauh ini belum ada pembicaraan ke arah itu.

Keempat partai itu memang masih menahan diri berbicara soal koalisi karena sama-sama berpeluang menjadi pemenang. Itu mengingat hampir satu juta warga Israel belum menentukan pilihan atau yang lazim disebut massa mengambang (floating mass). Total suara tersebut sebanding dengan 30 kursi parlemen atau seperempat dari total 120 kursi yang tersedia di Knesset alias parlemen Israel.

Livni, misalnya, berusaha keras meraup simpati kaumnya, perempuan. "Ada sekitar satu juta pemilih belum menentukan pilihan, di antara mereka perempuan dan ibu-ibu. Apa yang mereka inginkan? Perubahan,'' kata Livni dalam pesan kampanye terakhir dua hari menjelang Pemilu seperti dilansir Daily Telegraph

Namun ada juga prediksi yang mengatakan, kemungkinan Pemilu Israel kali ini akan melahirkan banyak golput. Analisisnya adalah, para pemilih berusaha menghindari isu sensitif, seperti bagaimana mengatasi Hamas yang masih berkuasa di Gaza, Tepi Barat, Suriah, atau ancaman nuklir Iran.

"Sebaliknya, semua partai malah menjalankan kampanye negatif. Mereka saling menghujat satu sama lain," ujar Dan Caspi, analis politik dari Universitas Ben-Gurion di Negev, kepada The New York Times.

Meski demikian, isu Hamas dan Gaza tetap menjadi jualan utama kampanye. Baik partai sayap kanan Likud maupun Kadima dan Buruh yang beraliran tengah kiri sama-sama menjanjikan bakal menggulingkan Hamas yang menguasai Gaza sejak 2007.

Livni, sendiri, sejak gencatan senjata sepihak berlaku 18 Januari lalu bahkan berkali-kali berjanji menggelar operasi lebih masif di Gaza. Sementara itu, Netanyahu, seperti dikutip Associated Press, juga berkoar bakal menumpas Hamas sampai ke akar-akarnya. Tapi yang jelas, siapapun yang menang, kecil kemungkinan politik Israel bersikap ramah terhadap Palestina apalagi pejuang Hamas.

Sumber
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.