yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Kementerian Keuangan menyatakan kemungkinan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada tahun ini masih terbuka. Namun, diakui, tren harga minyak Indonesia (ICP) menurun pada kuartal II ini.
"Kalau melonjak lagi, kami harus berpikir ulang lagi," ujar Kepala Pusat Kebijakan APBN Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu, Rofyanto Kurniawan, di kantornya, Jakarta, Jumat, 11 Mei 2012.
Rofyanto menilai, fluktuasi harga komoditas minyak memang sulit diprediksi. Selain faktor geopolitik yang tidak menentu, perubahan iklim ekstrem yang terjadi di dunia saat ini juga bisa mempengaruhi gejolak harga minyak dunia.
"Misalnya, kalau musim dingin, negara-negara di utara otomatis banyak pakai BBM. Kalau musim semi, udaranya kan nyaman, AC pun tak jalan, heater juga," tuturnya.
Melihat kondisi tersebut, pemerintah mengaku terus menyiapkan langkah-langkah untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.
Seperti diketahui, harga patokan ICP selama beberapa bulan terakhir memang terus mengalami penurunan. Tercatat, ICP Maret mencapai US$128 per barel atau menurun pada April sebesar US$124 per barel. Selanjutnya, pada pertengahan Mei ini terus menurun di kisaran US$118-119 per barel.
"Ada penurunan, kami tidak tahu kebijakan ke depan. Tergantung harga minyak dunia, turun atau malah naik lagi," katanya.
"Kalau melonjak lagi, kami harus berpikir ulang lagi," ujar Kepala Pusat Kebijakan APBN Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu, Rofyanto Kurniawan, di kantornya, Jakarta, Jumat, 11 Mei 2012.
Rofyanto menilai, fluktuasi harga komoditas minyak memang sulit diprediksi. Selain faktor geopolitik yang tidak menentu, perubahan iklim ekstrem yang terjadi di dunia saat ini juga bisa mempengaruhi gejolak harga minyak dunia.
"Misalnya, kalau musim dingin, negara-negara di utara otomatis banyak pakai BBM. Kalau musim semi, udaranya kan nyaman, AC pun tak jalan, heater juga," tuturnya.
Melihat kondisi tersebut, pemerintah mengaku terus menyiapkan langkah-langkah untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.
Seperti diketahui, harga patokan ICP selama beberapa bulan terakhir memang terus mengalami penurunan. Tercatat, ICP Maret mencapai US$128 per barel atau menurun pada April sebesar US$124 per barel. Selanjutnya, pada pertengahan Mei ini terus menurun di kisaran US$118-119 per barel.
"Ada penurunan, kami tidak tahu kebijakan ke depan. Tergantung harga minyak dunia, turun atau malah naik lagi," katanya.