Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Tidak dipungkiri Unilever adalah brand yg cukup familiar di kalangan masyarakat, utamanya negara 'berflower'. Berbagai produk Unilever memang cukup banyak diminati di pasaran. Kita ambil contoh Bango, Fair and Lovely, Sunlight & produk-produk lainnya.
Perlu diakui, produk keluaran brand ini memang cukup unggul dibanding, produk yg sama dari brand yg berbeda. Dengan harga yg relatif terjangkau kita dapat mendapatkan produk yg berkualitas.
Namun, akhir-akhir ini semakin marak permintaan pemboikotan kepada Unilever. Alasannya, karena brand ini secara terang-terangan pro LGBT. Ini berdasarkan unggahan di akun Instagram mereka & logo yg berubah jadi warna pelangi. Warna pelangi adalah logo para penganut LGBT.
Padahal kalau brand ini benar-benar diboikot berapa ribu orang yg terancam kehilangan mata pencahariannya. Ini tentu semakin menambah daftar pengangguran di Indonesia yg sudah cukup tinggi.
Apakah kalau Unilever benar-benar diboikot, mereka yg awalnya teriak-teriak pemboikotan akan menyediakan lapangan kerja untuk eks karyawan Unilever.
Walaupun LGBT itu 'penyakit' tetapi pemboikotan & pelarangan pembelian produk pendukungnya bukanlah solusi!
Kita juga tidak dapat menafikkan diri kalau medsos pun juga pro LGBT. Lalu kenapa medsos tidak ikut dimintakan untuk diboikot? Hari ini 11:54