Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Hai agan & sista semuanya.
Welcome back to my thread.
Kali ini ane mau ngulik tentang fenomena yg terjadi dilingkungan kita yg terjadi sejak pandemi awal berlangsung, yakni belajar daring.
Spoiler for Contoh Daring:
Mohon doanya ya gan, semoga thread ane ini dapat lolos oleh akang Kurator seperti threads ane sebelumnya. Syukur-syukur dapat jadi Hot Thread lagi seperti yg sudah lalu.
Lanjut lagi ya gan. Ada beberapa istilah yg familiar terkait pembelajaran selama pandemi berlangsung, diantaranya ada daring & ada Luring. Hehehe. Familiar banget kan gan?
Namun tidak banyak diantara kita yg mengerti tentang kepanjangan dari istilah tersebut. Daring sendiri artinya adalah dalam jaringan alias online, sementara untuk Luring memiliki arti Luar Jaringan alias tatap muka (entah belajar tatap muka ke sekolahan secara bergantian terjadwal, atau ke rumah guru/ siswa secara bergantian). Jadi begitulah gan kurang lebih penjelasannya.
Nah tak terasa sudah adek-adek kita, bahkan mungkin putra-putri kita, sudah melaksanakan pembelajaran spesifik ini selama 1 tahun & sudah mau hampir 2 ramadhan gan.
. Banyak banget hal-hal tak terduga yg sebelumnya mungkin tak pernah terjadi di proses pembelajaran pada sistem pendidikan kita yg mana akhirnya terjadi juga.
Masih inget pada zaman Dahulu kala, saat kita dapat liburan 1 pekan atau 2 pekan saja senengnya bukan main. Bahkan kita pernah merasakan liburan 1 bulan penuh di bulan Ramadhan saat zaman Presiden Gusdur (yang kemudian liburan seperti itu tidak pernah terjadi lagi). Kita dapat jalan-jalan kemanapun kita mau, kita mau main bareng teman-teman sesuka hati (seperti renang di sungai, nyari ikan di sawah/ tambak, main layang2, dsj), bahkan kita dapat menyalurkan hobi-hobi yg sudah lama terpendam karena waktu liburan yg cenderung terasa singkat. Malah kadang kalau waktu liburannya mau habis pun kayak terasa duh cepet banget rek besok sudah mulai masuk lagi.
. Eh sekarang malah kehinggaan liburan yg super duper panjang (alias tanggal merah delima ga pake datang ke sekolah ) namun yg mengalami anak-anak kita & adek-adek kita. Ya walupun ga beneran tanggal merah yg berrati libur sih gan.
Lalu saat dulu saat ane ini ngeliat TV atau Film luar negeri kemudian ada scene tentang cara pembelajaran mereka yg udah futuristik (yakni pake gadget, laptop, kirim2 tugas lewat internet yg saat itu internet masih barang yg mewah alias harus sambang ke warnet dulu) itu ane ngeliatnya kayak keren banget. Sampai sempat berfikir kapan ya di Indonesia dapat mengadopsi gaya pembelajaran yg keren begitu. Ehh, sekarang kena masa pandemi begini, hampir semua imajinasi itu sudah terwujud gan.
Spoiler for Keren:
Selanjutnya di mari ini ane dapat ngulik tentang fenomena-fenomena atau akibat yg terjadi selama proses pembelajaran online yg sudah berlangsung selama kurang lebih 1 tahun berjalan ini:
1. Lelah persiapan
Yes gan. Mengajar online itu ga seenak yg dikira. Para guru diharuskan mengerjakan persiapan ngajar yg ekstra. Persiapan materi yg disusun secara digital yg hendak diajarkan pada pertemuan mendatang. Kalau sebelumnya para guru cuma perlu membuka materi dari buku ajar, kemudian menerangkan teori dalam bentuk lisan lalu memberikan tambahan penjelasan melalui media penulisan/ penjabaran di papan tulis, maka dalam edisi pembelajaran ala pandemi ini para guru diharuskan mempersiapkan materi ajar tersebut dalam bentuk presentasi.
Diantaranya ada beberapa metode yg sudah diperpakai oleh para guru.
Ada yg merangkum ulang lewat media Power Point untuk selanjutnya ditampilkan dalam slide show.
Ada pula yg merekam materi ajar dalam bentuk video berisi Micro teaching sang guru, bahkan ada pula yg menuliskan materi tersebut didalam file Ms Word yg selanjutnya nanti dipresentasikam dalam bentuk share screen (alias tampilan layar aplikasi belajarnya berisi tampilam layar Ms Word tadi).
Spoiler for :
Itupun tidak dapat maksimal diterapkan di sekolah2 yg kurang memiliki basis sumber daya yg mumpuni (baik sang guru maupun sang murid) ataupun layanin jaringan internet yg memadai untuk speed & kestabilan sinyalnya.
Untuk sekolah yg (maaf) agak pelosok, pembelajaran model seperti itu sangat- sangat butuh perjuangan gan (sinyal dsj), bahkan ada beberapa sekolah yg saat itu cuma kirim materi ajar & kirim hasil tugas cuma by WhatsApp/ app chat sejenis dikarenakan minimnya support sumber daya.
2. Psikologi yg tertekan.
Lelah gan. Ga cuma gurunya, muridnya pun juga letih mengikuti PBM online yg mana dia cuma sendirian dikamarnya menghadap ke depan layar tanpa ada teman yg dapat diajak bicara atau bercandaan receh ( biar tidak stress saat proses pembelajaran berlangsung).
Disamping itu, pembelajaran ala daring begini pastinya akan meninggalkan banyak tugas mingguan buat para murid. Ya salah satu bukti siswa mengikuti pembelajarannya adalah dengan wujud pengumpulan tugas yg sudah diberikan oleh sang guru di hampir setiap pertemuannya.
Jangan ditanya seberapa menjenuhkannya gan? Banget pakek ngett.
Spoiler for Syedih:
3. Ekstra Biaya Untuk Akses Internet
Kemudian kendala lain yg perlu dihadapin adalah tentunya harus adanya jaringan internet yg memadai & tentunya stabil. Karena seperti yg ada di meme yakni ada pepatah yg mengatakan bahwa saat pembelajaran on line itu adalah harus berprinsip "otot kuota balung wifi". Hahahaha.
. Ya tentunya kesemua itu untuk menunjang kelancaran proses pembelajaran baik itu sang guru maupun sang murid.
Memang sih dari pemerintah sudah memberikan bantuan berupa kuota data atau ada yg berupa kartu perdana. Namun sayangnya beberapa bantuan tersebut (kuota data/ kartu perdana) itu paketannya terkadang tidak dapat diperpakai untuk mengakses aplikasi pembelajaran ataupun untuk browsing dalam proses penyelesaian tugas belajar siswa. Ya walaupun kadang masih dapat diakali oleh aplikasi pihak ke 3, namun lagi-lagi tidak semua siswa dapat mengoprek2 caranya. Sehingga mau tidak mau pihak walimurid pun juga harus menyediakan ekstra duit buat support beli kuota karena tidak semuanya ready wifi di masing-masing kediaman.
4. Ekstra gadget
Items juga tentunya dibutuhkan gan. Coba kita dapat bayangkan proses pembelajaran daring yg sudah dimulai sedari pukul 7.30 hingga 13.30 an (di tempat lain kemungkinan jam belajarnya berbeda) yg mana memerlukan long durability battery life, yg mana dapat diraih dengan (mungkin) pc atau laptop. Namun sayangnya tidak semua murid memiliki benda tersebut. Akhirnya sang murid harus memperpakai ponsel mereka untuk mengikuti proses PBM daring yg harus diikuti dari jam perdana hingga jam terakhir yg pastinya power battery ponsel tidaklah kuat sepanjang waktu itu yg artinya Kondisi Battery yg tidak memadai. Disinilah dibutuhkannya cadangan gadget untuk terus mendukung kehadiran mengikuti pembelajaran. Ya memang sih ponsel dapat dicharge sambil belajar tetapi kan ya susah kalau setiap belajar harus sambil ngecharge ponsel.
Spoiler for :
Belum lagi untuk keluarga yg sangat terbatas ketersediaan ponselnya namun putra-putrinya belajar online di kelas-kelas yg berbeda.
Makin pening gan.
5. Murid kurang seberapa dapat menyerap materi.
Yes gan. Ini adalah masalah serius dalam pembelajaran daring.
Ketika pembelajaran berlangsung pastinya banyak sekali kendala yg ditemui khususnya dari penyaji pembelajaran, yakni sang guru. Ada beberapa kendala yg sering dialami oleh para pengajar diantaranya yg paling biasa adalah terganggunya sinyal, lalu error pada aplikasi belajar atau browser (reconnecting, camera error, suara error), bahkan terkadang gadget/ laptop yg overheat atau ngehang.
Spoiler for yuhuu:
Nah kemudian kendala yg dialami oleh pengajar tersebut sedikit banyak juga pastinya berefek pada penerimaan materi oleh para murid.
Padahal ketika saat belajar tatap muka saja anak kadang tidak seberapa paham. Apalagi saat online.
Kalau ketika tatap muka itu bila ditemui murid yg tidak seberapa paham pelajarannya dapat menanyakan ulang ke gurunya atau dapat juga ke temannya.
Artinya, Saat pembelajaran masih dilakukan secara klasikal di kelas (sebelum pandemi), para siswa yg kurang dapat memahami penjelasan sang guru masih dapat bertanya kepada teman duduk disampingnya, lah saat di belajar online hendak bertanya siapa? Mungkin dapat ke Google sih, tetapi pastinya ga senyaman kayak ke temannya tadi.
6. Management waktu yg buruk.
Ini adalah salah satu akibat yg terbesar yg dihadapi oleh para murid & walimurid pula tentunya. Saat pembelajaran sebelum pandemi, semua berjalan normal sesuai dengan rangkaian kegiatan harian. Bangun tidur, ibadah pagi, mandi, sarapan, persiapan sekolah, lalu otw sekolah yg kadang berangkatnya berbarengan dengan orang tua berangkat bekerja.
Namun saat pandemi berlangsung, siklus tersebut banyak berubah. Mungkin di awal pembelajaran online, jadwal rutin harian tersebut masih dapat terlaksana. Namun semakin kesini, kadang ada murid yg bangun tidur langsung masuk kelas online buka laptop buka ponsel lalu ON. Padahal masih rembes & belum cuci muka. .
Spoiler for :
Lalu seiring berjalannya waktu, para Siswa pun mulai banyak timbul rasa bosan & jenuh dengan proses pembelajaran & tugas yg datang bertubi-tubi. Yang akhirnya ya banyak dibiarkan begitu saja. Pending dulu nanti malam saja mengerjakannya. Lalu saat malam tiba waktunya begadang eh disambi mabar & ngegame. Lalu ketika esok paginya PBM berlangsung mereka yg tipikal anak easy going tersebut kurang minat mengikuti PBM, camera & microphone off dengan alasan error, ditinggal Chattingan dg teman, Youtuban, kadang lanjutin mabar yg sempat tertunda. Kasihan teman-teman siswa lainnya yg berusaha untuk mengikuti proses PBM daring dengan serius jadi terganggu dengan sikap murid-murid lain yg peduli tersebut. Walimurid yg mendapat informasi terkait kondisi tersebut pun juga tentunya tidak dapat memantau putra-putri mereka dirumah secara terus menerus karena ada kesibukan kerja ataupun juga mengurus keperluan rumah tangga.
7. Biaya SPP Bulanan
Pembiayaan bulanan yg banyak dikeluhkan oleh para walimurid gan. Ya gimana ga berat gan, pembelajaran dilaksanakan di rumah masing-masing secara online sementara pembayaran SPP bulanan pun terbilang masih tinggi (walaupun sudah ada potongan). Dan hal ini pun tidak cuma dirasakan oleh para walimurid gan sis. Yang kuliah pun juga merasakan hal yg sama. Berat di ongkos. ya gimana ga berat ya gan, kondisi ekonomi keluarga sedang terpuruk karena efek pandemi. Ada yg omzet menurun, bahkan hingga gulung tikar. Bahkan ada pula yg orang tuanya terkena PHK di tempat kerjanya. Pukulan berat gan.
Bahkan ada beberapa walimurid yg enggan membayar SPP dengan alasan anaknya tidak belajar ke sekolah.
Ya selama nomor induk siswa masih aktif di sekolah tersebut ya tentunya hak & kewajibannya harus dipenuhi dunk gan. Pihak sekolah sendiri juga tentunya membutuhkan pendanaan operasional (tagihan operasional bulanan, Gaji Guru & Tenaga kependidikan, perawatan alat fasilitas sekolah, perawatan gedung & lingkungan sekokah) untuk menjalankan proses administrasi keberlangsungan perjalanan sekolah & lembaga. Terutama sekolah- sekolah swasta yg tentunya sumber pembiayaan operasionalnya tidaklah sekuat sekolah yg berada dibawah naungan pemerintah.
Jadi begitu lah gan beberapa hal yg terjadi selama pembelajaran daring yg sudah berlangsung selama kurang lebih setahun terakhir.
Kurang lebihnya agan & sista dapat bantu ane buat mengisinya di kolom bawah ya gansis sekalian.
Akhirul kalam sebelum ane closing, agan & sista dapat juga mampir di thread ane yg lain berikut ini :
1. Modif Ringan Ini Bikin Scoopy ESP FI Kamu Makin Kece Dan Ngacir Gan
2. Review Tote bag Murah STARBUCKS
3. Belajar Oli Motor Di Sini Saja
Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Kemarin 20:04
Hai agan & sista semuanya.
Welcome back to my thread.
Kali ini ane mau ngulik tentang fenomena yg terjadi dilingkungan kita yg terjadi sejak pandemi awal berlangsung, yakni belajar daring.
Spoiler for Contoh Daring:
Mohon doanya ya gan, semoga thread ane ini dapat lolos oleh akang Kurator seperti threads ane sebelumnya. Syukur-syukur dapat jadi Hot Thread lagi seperti yg sudah lalu.
Lanjut lagi ya gan. Ada beberapa istilah yg familiar terkait pembelajaran selama pandemi berlangsung, diantaranya ada daring & ada Luring. Hehehe. Familiar banget kan gan?
Namun tidak banyak diantara kita yg mengerti tentang kepanjangan dari istilah tersebut. Daring sendiri artinya adalah dalam jaringan alias online, sementara untuk Luring memiliki arti Luar Jaringan alias tatap muka (entah belajar tatap muka ke sekolahan secara bergantian terjadwal, atau ke rumah guru/ siswa secara bergantian). Jadi begitulah gan kurang lebih penjelasannya.
Nah tak terasa sudah adek-adek kita, bahkan mungkin putra-putri kita, sudah melaksanakan pembelajaran spesifik ini selama 1 tahun & sudah mau hampir 2 ramadhan gan.
Masih inget pada zaman Dahulu kala, saat kita dapat liburan 1 pekan atau 2 pekan saja senengnya bukan main. Bahkan kita pernah merasakan liburan 1 bulan penuh di bulan Ramadhan saat zaman Presiden Gusdur (yang kemudian liburan seperti itu tidak pernah terjadi lagi). Kita dapat jalan-jalan kemanapun kita mau, kita mau main bareng teman-teman sesuka hati (seperti renang di sungai, nyari ikan di sawah/ tambak, main layang2, dsj), bahkan kita dapat menyalurkan hobi-hobi yg sudah lama terpendam karena waktu liburan yg cenderung terasa singkat. Malah kadang kalau waktu liburannya mau habis pun kayak terasa duh cepet banget rek besok sudah mulai masuk lagi.
Lalu saat dulu saat ane ini ngeliat TV atau Film luar negeri kemudian ada scene tentang cara pembelajaran mereka yg udah futuristik (yakni pake gadget, laptop, kirim2 tugas lewat internet yg saat itu internet masih barang yg mewah alias harus sambang ke warnet dulu) itu ane ngeliatnya kayak keren banget. Sampai sempat berfikir kapan ya di Indonesia dapat mengadopsi gaya pembelajaran yg keren begitu. Ehh, sekarang kena masa pandemi begini, hampir semua imajinasi itu sudah terwujud gan.
Spoiler for Keren:
Selanjutnya di mari ini ane dapat ngulik tentang fenomena-fenomena atau akibat yg terjadi selama proses pembelajaran online yg sudah berlangsung selama kurang lebih 1 tahun berjalan ini:
1. Lelah persiapan
Yes gan. Mengajar online itu ga seenak yg dikira. Para guru diharuskan mengerjakan persiapan ngajar yg ekstra. Persiapan materi yg disusun secara digital yg hendak diajarkan pada pertemuan mendatang. Kalau sebelumnya para guru cuma perlu membuka materi dari buku ajar, kemudian menerangkan teori dalam bentuk lisan lalu memberikan tambahan penjelasan melalui media penulisan/ penjabaran di papan tulis, maka dalam edisi pembelajaran ala pandemi ini para guru diharuskan mempersiapkan materi ajar tersebut dalam bentuk presentasi.
Diantaranya ada beberapa metode yg sudah diperpakai oleh para guru.
Ada yg merangkum ulang lewat media Power Point untuk selanjutnya ditampilkan dalam slide show.
Ada pula yg merekam materi ajar dalam bentuk video berisi Micro teaching sang guru, bahkan ada pula yg menuliskan materi tersebut didalam file Ms Word yg selanjutnya nanti dipresentasikam dalam bentuk share screen (alias tampilan layar aplikasi belajarnya berisi tampilam layar Ms Word tadi).
Spoiler for :
Itupun tidak dapat maksimal diterapkan di sekolah2 yg kurang memiliki basis sumber daya yg mumpuni (baik sang guru maupun sang murid) ataupun layanin jaringan internet yg memadai untuk speed & kestabilan sinyalnya.
Untuk sekolah yg (maaf) agak pelosok, pembelajaran model seperti itu sangat- sangat butuh perjuangan gan (sinyal dsj), bahkan ada beberapa sekolah yg saat itu cuma kirim materi ajar & kirim hasil tugas cuma by WhatsApp/ app chat sejenis dikarenakan minimnya support sumber daya.
2. Psikologi yg tertekan.
Lelah gan. Ga cuma gurunya, muridnya pun juga letih mengikuti PBM online yg mana dia cuma sendirian dikamarnya menghadap ke depan layar tanpa ada teman yg dapat diajak bicara atau bercandaan receh ( biar tidak stress saat proses pembelajaran berlangsung).
Disamping itu, pembelajaran ala daring begini pastinya akan meninggalkan banyak tugas mingguan buat para murid. Ya salah satu bukti siswa mengikuti pembelajarannya adalah dengan wujud pengumpulan tugas yg sudah diberikan oleh sang guru di hampir setiap pertemuannya.
Jangan ditanya seberapa menjenuhkannya gan? Banget pakek ngett.
Spoiler for Syedih:
3. Ekstra Biaya Untuk Akses Internet
Kemudian kendala lain yg perlu dihadapin adalah tentunya harus adanya jaringan internet yg memadai & tentunya stabil. Karena seperti yg ada di meme yakni ada pepatah yg mengatakan bahwa saat pembelajaran on line itu adalah harus berprinsip "otot kuota balung wifi". Hahahaha.
Memang sih dari pemerintah sudah memberikan bantuan berupa kuota data atau ada yg berupa kartu perdana. Namun sayangnya beberapa bantuan tersebut (kuota data/ kartu perdana) itu paketannya terkadang tidak dapat diperpakai untuk mengakses aplikasi pembelajaran ataupun untuk browsing dalam proses penyelesaian tugas belajar siswa. Ya walaupun kadang masih dapat diakali oleh aplikasi pihak ke 3, namun lagi-lagi tidak semua siswa dapat mengoprek2 caranya. Sehingga mau tidak mau pihak walimurid pun juga harus menyediakan ekstra duit buat support beli kuota karena tidak semuanya ready wifi di masing-masing kediaman.
4. Ekstra gadget
Items juga tentunya dibutuhkan gan. Coba kita dapat bayangkan proses pembelajaran daring yg sudah dimulai sedari pukul 7.30 hingga 13.30 an (di tempat lain kemungkinan jam belajarnya berbeda) yg mana memerlukan long durability battery life, yg mana dapat diraih dengan (mungkin) pc atau laptop. Namun sayangnya tidak semua murid memiliki benda tersebut. Akhirnya sang murid harus memperpakai ponsel mereka untuk mengikuti proses PBM daring yg harus diikuti dari jam perdana hingga jam terakhir yg pastinya power battery ponsel tidaklah kuat sepanjang waktu itu yg artinya Kondisi Battery yg tidak memadai. Disinilah dibutuhkannya cadangan gadget untuk terus mendukung kehadiran mengikuti pembelajaran. Ya memang sih ponsel dapat dicharge sambil belajar tetapi kan ya susah kalau setiap belajar harus sambil ngecharge ponsel.
Spoiler for :
Belum lagi untuk keluarga yg sangat terbatas ketersediaan ponselnya namun putra-putrinya belajar online di kelas-kelas yg berbeda.
Makin pening gan.
5. Murid kurang seberapa dapat menyerap materi.
Yes gan. Ini adalah masalah serius dalam pembelajaran daring.
Ketika pembelajaran berlangsung pastinya banyak sekali kendala yg ditemui khususnya dari penyaji pembelajaran, yakni sang guru. Ada beberapa kendala yg sering dialami oleh para pengajar diantaranya yg paling biasa adalah terganggunya sinyal, lalu error pada aplikasi belajar atau browser (reconnecting, camera error, suara error), bahkan terkadang gadget/ laptop yg overheat atau ngehang.
Spoiler for yuhuu:
Nah kemudian kendala yg dialami oleh pengajar tersebut sedikit banyak juga pastinya berefek pada penerimaan materi oleh para murid.
Padahal ketika saat belajar tatap muka saja anak kadang tidak seberapa paham. Apalagi saat online.
Kalau ketika tatap muka itu bila ditemui murid yg tidak seberapa paham pelajarannya dapat menanyakan ulang ke gurunya atau dapat juga ke temannya.
Artinya, Saat pembelajaran masih dilakukan secara klasikal di kelas (sebelum pandemi), para siswa yg kurang dapat memahami penjelasan sang guru masih dapat bertanya kepada teman duduk disampingnya, lah saat di belajar online hendak bertanya siapa? Mungkin dapat ke Google sih, tetapi pastinya ga senyaman kayak ke temannya tadi.
6. Management waktu yg buruk.
Ini adalah salah satu akibat yg terbesar yg dihadapi oleh para murid & walimurid pula tentunya. Saat pembelajaran sebelum pandemi, semua berjalan normal sesuai dengan rangkaian kegiatan harian. Bangun tidur, ibadah pagi, mandi, sarapan, persiapan sekolah, lalu otw sekolah yg kadang berangkatnya berbarengan dengan orang tua berangkat bekerja.
Namun saat pandemi berlangsung, siklus tersebut banyak berubah. Mungkin di awal pembelajaran online, jadwal rutin harian tersebut masih dapat terlaksana. Namun semakin kesini, kadang ada murid yg bangun tidur langsung masuk kelas online buka laptop buka ponsel lalu ON. Padahal masih rembes & belum cuci muka. .
Spoiler for :
Lalu seiring berjalannya waktu, para Siswa pun mulai banyak timbul rasa bosan & jenuh dengan proses pembelajaran & tugas yg datang bertubi-tubi. Yang akhirnya ya banyak dibiarkan begitu saja. Pending dulu nanti malam saja mengerjakannya. Lalu saat malam tiba waktunya begadang eh disambi mabar & ngegame. Lalu ketika esok paginya PBM berlangsung mereka yg tipikal anak easy going tersebut kurang minat mengikuti PBM, camera & microphone off dengan alasan error, ditinggal Chattingan dg teman, Youtuban, kadang lanjutin mabar yg sempat tertunda. Kasihan teman-teman siswa lainnya yg berusaha untuk mengikuti proses PBM daring dengan serius jadi terganggu dengan sikap murid-murid lain yg peduli tersebut. Walimurid yg mendapat informasi terkait kondisi tersebut pun juga tentunya tidak dapat memantau putra-putri mereka dirumah secara terus menerus karena ada kesibukan kerja ataupun juga mengurus keperluan rumah tangga.
7. Biaya SPP Bulanan
Pembiayaan bulanan yg banyak dikeluhkan oleh para walimurid gan. Ya gimana ga berat gan, pembelajaran dilaksanakan di rumah masing-masing secara online sementara pembayaran SPP bulanan pun terbilang masih tinggi (walaupun sudah ada potongan). Dan hal ini pun tidak cuma dirasakan oleh para walimurid gan sis. Yang kuliah pun juga merasakan hal yg sama. Berat di ongkos. ya gimana ga berat ya gan, kondisi ekonomi keluarga sedang terpuruk karena efek pandemi. Ada yg omzet menurun, bahkan hingga gulung tikar. Bahkan ada pula yg orang tuanya terkena PHK di tempat kerjanya. Pukulan berat gan.
Bahkan ada beberapa walimurid yg enggan membayar SPP dengan alasan anaknya tidak belajar ke sekolah.
Ya selama nomor induk siswa masih aktif di sekolah tersebut ya tentunya hak & kewajibannya harus dipenuhi dunk gan. Pihak sekolah sendiri juga tentunya membutuhkan pendanaan operasional (tagihan operasional bulanan, Gaji Guru & Tenaga kependidikan, perawatan alat fasilitas sekolah, perawatan gedung & lingkungan sekokah) untuk menjalankan proses administrasi keberlangsungan perjalanan sekolah & lembaga. Terutama sekolah- sekolah swasta yg tentunya sumber pembiayaan operasionalnya tidaklah sekuat sekolah yg berada dibawah naungan pemerintah.
Jadi begitu lah gan beberapa hal yg terjadi selama pembelajaran daring yg sudah berlangsung selama kurang lebih setahun terakhir.
Kurang lebihnya agan & sista dapat bantu ane buat mengisinya di kolom bawah ya gansis sekalian.
Akhirul kalam sebelum ane closing, agan & sista dapat juga mampir di thread ane yg lain berikut ini :
1. Modif Ringan Ini Bikin Scoopy ESP FI Kamu Makin Kece Dan Ngacir Gan
2. Review Tote bag Murah STARBUCKS
3. Belajar Oli Motor Di Sini Saja
Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh