RanDom
IndoForum Beginner E
- No. Urut
- 71336
- Sejak
- 23 Mei 2009
- Pesan
- 447
- Nilai reaksi
- 13
- Poin
- 18
EBUAH penelitian menyingkapkan, pembacakan perangkat lunak di wilayah Asia-Pasifik terus berkembang tahun lalu. Memburuknya pembajakan itu didorong oleh pertumbuhan pesat penjualan komputer dan ketersediaan program bajakan di online.
Survei tahunan yang dilakukan oleh Business Software Alliance (BSA) dan perusahaan riset industri IDC menunjukkan bahwa dalam 2008, rata-rata 61 persen dari perangkat lunak wilayah itu tidak berizin.
Angka tadi naik dari 59 persen dalam tahun sebelumnya.
Hal itu menyebabkan para penjual perangkat lunak legal menderita kerugian 15,26 milyar dolar AS, naik 8,3 persen dari 14,09 milyar dolar pada tahun sebelumnya. Rata-rata perangkat lunak ilegal global memburuk jadi 41 persen dalam 2008 dari 38 persen dalam tahun sebelumnya. Hal itu menyebabkan kerugian hampir 53 milyar dolar.
“Kenaikan pada rata-rata angka pembajaka itu disebabkan oleh hasil matematik pertumbuhan lebih pesat pasar-pasar PC (personal computer) di negara-negara yang mencatat angka pembajakan lebih tinggi,” papar Jeffrey Hardee, wakil presiden BSA dan direktur regional. “Bahkan jika pembajakan menurun di setiap negara rawan pembajakan, pangsa pasar mereka yang tumbuh bagi PC dapat memicu rata-rata kenaikan regional.
Faktor Lain
Meluasnya penggunaan Internet merupakan faktor lain di belakang naikan aksi pembajakan itu, ungkap studi tersebut. “Ketersediaan perangkat lunak bajakan di Internet, yang ironisnya difasilitasi naiknya penetrasi broadband di wilayah tersebut juga jadi keprihatinan besar,” papar Hardee.
Perangkat lunak termasuk sistem operasi, perangkat lunak sistem seperti database dan paket keamanan dan perangkat lunak aplikasi semisal paket kantoran, paket keuangan dan pajak dan games komputer PC.
Bangladesh merupakang biangkeladi utama di wilayah tadi tahun lalu dengan angka pembajakan 92 persen, disusul Sri Lanka pada 90 persen dan Pakistan pada 86 persen, ungkap studi itu. Japan mencatat angka paling rendah 21 persen, disusul Selandia Baru pada 22 persen dan Australia pada 26 persen. Di China, rata-rata angka pembajakan turun jadi 80 persen tahun lalu dari 82 persen pada 2007.
Membaiknya keadaan di China disebabkan “lebih tegasnya penegakan hukum dan pendidikan,” ungkap hasil penelitian tadi. BSA adalah sebuah kelompok industri yang mengupayakan perlindungan hak cipta dan memiliki anggota-angota yang sebagian berasal dari berbagai perusahaan teknologi paling besar di dunia, termasuk Apple, IBM, Microsoft dan Adobe.
Kalo Suka Please GRP yo
Survei tahunan yang dilakukan oleh Business Software Alliance (BSA) dan perusahaan riset industri IDC menunjukkan bahwa dalam 2008, rata-rata 61 persen dari perangkat lunak wilayah itu tidak berizin.
Angka tadi naik dari 59 persen dalam tahun sebelumnya.
Hal itu menyebabkan para penjual perangkat lunak legal menderita kerugian 15,26 milyar dolar AS, naik 8,3 persen dari 14,09 milyar dolar pada tahun sebelumnya. Rata-rata perangkat lunak ilegal global memburuk jadi 41 persen dalam 2008 dari 38 persen dalam tahun sebelumnya. Hal itu menyebabkan kerugian hampir 53 milyar dolar.
“Kenaikan pada rata-rata angka pembajaka itu disebabkan oleh hasil matematik pertumbuhan lebih pesat pasar-pasar PC (personal computer) di negara-negara yang mencatat angka pembajakan lebih tinggi,” papar Jeffrey Hardee, wakil presiden BSA dan direktur regional. “Bahkan jika pembajakan menurun di setiap negara rawan pembajakan, pangsa pasar mereka yang tumbuh bagi PC dapat memicu rata-rata kenaikan regional.
Faktor Lain
Meluasnya penggunaan Internet merupakan faktor lain di belakang naikan aksi pembajakan itu, ungkap studi tersebut. “Ketersediaan perangkat lunak bajakan di Internet, yang ironisnya difasilitasi naiknya penetrasi broadband di wilayah tersebut juga jadi keprihatinan besar,” papar Hardee.
Perangkat lunak termasuk sistem operasi, perangkat lunak sistem seperti database dan paket keamanan dan perangkat lunak aplikasi semisal paket kantoran, paket keuangan dan pajak dan games komputer PC.
Bangladesh merupakang biangkeladi utama di wilayah tadi tahun lalu dengan angka pembajakan 92 persen, disusul Sri Lanka pada 90 persen dan Pakistan pada 86 persen, ungkap studi itu. Japan mencatat angka paling rendah 21 persen, disusul Selandia Baru pada 22 persen dan Australia pada 26 persen. Di China, rata-rata angka pembajakan turun jadi 80 persen tahun lalu dari 82 persen pada 2007.
Membaiknya keadaan di China disebabkan “lebih tegasnya penegakan hukum dan pendidikan,” ungkap hasil penelitian tadi. BSA adalah sebuah kelompok industri yang mengupayakan perlindungan hak cipta dan memiliki anggota-angota yang sebagian berasal dari berbagai perusahaan teknologi paling besar di dunia, termasuk Apple, IBM, Microsoft dan Adobe.
Kalo Suka Please GRP yo
