• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Peluang Kembalinya Timtim ke Pangkuan RI Membesar

Handyplast

IndoForum Beginner D
No. Urut
10814
Sejak
29 Jan 2007
Pesan
608
Nilai reaksi
219
Poin
43
Mataram (ANTARA News) - Pengamat hukum dan politik Universitas Mataram (Unram), H. Satriawan Sahak, SH M.Hum, mengemukakan peluang kembalinya Timor-Timur (Timor Leste,red) ke pangkuan "Ibu Pertiwi" kian terbuka.

"Melihat situasi dan kondisi sosial politik yang terjadi di daerah bekas jajahan Portugal itu pasca kemerdekaan setelah jajak pendapat 1999, berpeluang besar kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi," katanya kepada wartawan di Mataram, Minggu.

Menurut dia, kondisi sosial politik yang kian memanas, khususnya setelah penembakan warga sipil oleh pasukan perdamaian asal Australia, merupakan wujud tidak mampunya negara-negara asing mengamankan daerah itu dari pergolakan "perang saudara".

Perang saudara yang berkepanjangan tidak akan pernah berakhir bila penanganan menggunakan pola-pola Barat, karena karakteristik masyarakat setempat sangat berbeda dengan budaya-budaya asing.

Kolonial Portugis pada 1974, pada saat terjadi "Revolusi Bunga" hengkang meninggalkan wilayahya dan membiarkan masyarakat Timor-Timur terlibat perang saudara.

Ketidakmampuan mengamankan daerah jajahannya ditandai dengan memberikan "kekuasaan" kepada salah satu partai, yakni Fretelin, sehingga terjadi pergolakan perang saudara yang melibatkan beberapa partai lain seperti UDT, Apodete, Trabalista, Kota.

Perang saudara yang berkecamuk didaerah bekas jajahan Portugis tersebut memaksa sebagian besar masyarakat Timor Leste, khususnya dibagian Barat Timor Timur seperti Dili, Liquisa, Ermera, Maliana (Bobonaro), Kovalima, Oecusi mengungsi ke wilayah
Timor Barat (Atambua, red).

Pengungsian seperti itu bukan hanya terjadi saat berkecamuknya perang saudara tahun 1974/1976 dan pasca jajak pendapat tahun 1999, tetapi beberapa kali sebelumnya saat terjadi pemberontakan masyarakat Timor Timur terhadap negara kolonial Portugis.

Berdasarkan catatan sejarah, pergolakan yang terjadi dalam masyarakat Timor Timur (Timor Leste) tidak akan pernah reda selama ditangani orang atau pihak asing.

"Seorang tokoh pejuang dan tokoh agama Timor-Iimur almarhum Pendeta Vicente pernah menyatakan bahwa berintegrasinya Timor-Timur ke NKRI merupakan kehendak Tuhan Yang Maha Esa," katanya.

Menurut Vicente, mantan Ketua Sinode Gereja Protestan setempat, berintegrasinya Timor Timor ke NKRI bagaikan seorang anak yang hilang dan kembali kepangkuan ibunya.

Dalam jajak pendapat tahun 1999 hasilnya dimenangi masyarakat "Prokem" (Pro Kemerdekaan) dengan perbandingan suara 71 dengan 29, tetapi berdasarkan sejarah suku etnis Timor Timur dengan Timor Barat tidak pernah bisa terpisahkan.

Dari berbagai sisi seperti bahasa dan adat istiadat, masyarakat Timor Timur yang mendiami wilayah Timur dan masyarakat Timor Barat yang mendiami wilayah Barat, memiliki kesamaan yang tidak terpisahkan.

"Kalaupun sekarang kedua bersaudara itu harus terpisah karena kepentingan politik, tetapi keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, dan masyarakat Timor Timur akan aman bila kembali bersatu dengan saudara-saudaranya di Timor Barat," katanya.


Relatif aman

Menjawab pertanyaan, Satriawan yang senantiasa mengikuti perkembangan wilayah negara Timor Leste menyatakan berdasarkan fakta saat masyarakat Timor Timor berintegrasi dengan NKR tahun 1976 hingga 1999, daerah itu relatif aman dan masyarakatnya menikmati kesejahteraan.

Dibanding dengan masa penjajahan Portugis dan setelah mendapatkan kemerdekaan tahun 2001, maka masa "emas" bagi masyarakat Timor Timur adalah saat berintegrasi (1976 s/d 1999).

Itu sebabnya, tidak sedikit masyarakat Timor Leste yang setelah merdeka dan melepaskan diri dari NKRI menyesal, karena janji Uskup Belo (pimpinan Gereja Katholik pada masa itu) akan hidup lebih sejahtera setelah merdeka, ternyata tidak
kunjung nyata.

Bahkan perang saudara kian menjadi, pertikaian antar kelompok etnis yang ada justru semakin tidak terkendali, kehidupan kian susah, karena harga-harga sandang-pangan mengalami peningkatan luar biasa.

Masyarakat sangat merindukan kehidupan d imasa-masa integrasi, sehingga peluang kembalinya masyarakat Timor Timur kepangkuan Ibu Pertiwi kian besar. Suka tidak suka, cepat atau lambat, pemerintah Indonesia harus mempersiapkan diri.

"Memang terlepasnya Timor Timur pasca jajak pendapat merupakan pengalaman yang sangat pahit bagi bangsa Indonesia, tetapi demi kemanusiaan, Indonesia tidak mungkin mampu menolak keinginan kembalinya masyarakat Timor Timur ke pangkuan Ibu
Pertiwi. Ibarat anak yang hilang tidak mungkin orangtua melakukan penolakan," demikian Satriawan Sahak
 
bagus lah kalau mau balik lagi ke indo /gg/gg/gg
 
ngapain sih kembali lagi ke indo? emang tuh pulau ada untungnya buat kita?
 
iya juga kk, tapi bagaimanapun Timor Timur bagian dari Indonesia juga, bikin Indonesia tambah berat juga sih...
tapi masak di tolak /sob
 
klo di liat dr tata letak geografis nya kan tim tim klo jd pangkalan militer luar serem jg utk bgs ind... klo ind mo di serang jd lebih gampang... ya bagus d klo mo gabung ke ind lg.. /gg
 
wah bagus deh klo mo balik... tapi harus revisi lagi deh.... keadaan dan letak geografis indonesia di peta /heh
 
balik nggak balik sama aja larrr,tim2 juga bukan penghasil devisa yang gede kok /gg/gg/gg
 
tim2 kayaknya ga ngasilin apa2 buat indo --' waktu dulu gabung k indo mala indo tekor buat ngebangun tim2 tapi hasilnya skrg ?
 
hehehehehe....

Gpp....Sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang berhasil keluar dari sejarah kelam dari perjalanan hidup bangsanya..... /gg

Kalo seandainya TimTim balik ke Indonesia itu berarti akan mengurangi juga gerakan kaum sparatis di Indo....
Soalnya mereka melihat kalo lepas dari indo mereka akan sulit untuk berdiri sendiri....Soalnya skarang uda jaman globalisasi.....Sedangkan mereka yang akan merdeka itu malah blum siap...

Sekarang aja negara2 eropa uda bersatu dengan membentuk negara UE....Kita diasia tenggara udah ada ASEAN (Yang masih blum bisa bersatu karna ketertinggalan di Vietnam n krisis ekonomi di Indonesia) soalnya kalo akhirnya bener2 dipaksain buat bersatu kayak UE, yang tadinya negara dengan ekonomi kuat jadi hancur....(intinya siy tinggal nunggu Indo aja, kalo indo da bener2 siap ASEAN sebagai pemersatu negara2 Asia tenggara akan sama kayak UE) soalnya Indo merupakan negara terbesar di ASEAN...

Trus kenapa GAM mao diajak beruding??
Jawabannya simple, karna Tsunami kemaren....

Soalnya kalo seandainya GAM masih tetep mo merdeka, sedangkan di Aceh sendiri perekonomiannya udah luluh lantak akibat Tsunami + gempa di Nias, maka untuk bangun kembali menjadi negara yang kuat butuh waktu bertahun....

Jadi daripada pemerintahan Aceh yang nantinya akan membuat rakyat menderita (akibat keterpurukan ekonomi karena Tsunami) maka mereka mungkin lebih berpikir supaya agar Indonesia saja yang mengurus mereka....

Trus soal OPM,skarang uda banyak jendral2 OPM yang menyerahkan diri, karna mereka menganggap perjuangan mereka itu gak ada gunanya....Soalnya dulu Papua barat ikut negara Indo emang karna murni hasil jajak pendapat mereka yang 70%++ mau ikut indonesia (kasih tau kalo gw salah)


Itu semua menurut pendapat gw loh....
emang gak terlalu pasti ada buktinya...cuma ini gw siy liatnya dari fakta sejarah yang uda terjadi....Jadi kalo nantinya salah ya gw minta maaf....Kalo ada orang yang bilang gw cuma banyak ngomong ya itu hak mereka juga.....
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.