yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
ANNAPOLIS - Masalah keamanan privasi akun merupakan bagian penting untuk dirahasiakan. Bahkan kini sepertinya pengguna harus berpikir ulang, bahwa perusahaan atau sekolanya tidak bisa mengetahui privasi pengaturan akun Facebook dan Twitter mereka.
Dilaporkan ada perusahaan atau perguruan tinggi yang menuntut akses penuh dari pelamar pekerjaan dan para mahasiswa. Misalnya di Department of Corrections, Maryland, pelamar kerja saat sesi wawancara diminta untuk log-in ke akun mereka, sementara pewawancara melihat mereka mengakses wall post, daftar teman, foto dan hal lain yang dirahasiakan di akun tersebut.
Sebelum itu, para pelamar telah diminta untuk menyerahkan nama pengguna dan password mereka. Beruntung, ACLU telah menghentikan tindakan tersebut sejak tahun lalu.
Direktur Legislative ACLU, Mellisa Corets Goeman, memberikan laporan yang cukup mengejutkan karena hampir semua pelamar mengikuti keinginan perusahaan untuk lolos dalam sesi wawancara.
“Ini merupakan pelanggaran privasi, saat ini orang-orang banyak memiliki informasi pribadi di halaman akun mereka. Pewawancara dan sekolah juga menyerang privasi orang lain untuk mendapatkan akses ke postingan dan tema-teman mereka, karena ada banyak iformasi di sana,” jelas Goemann.
Goemaan juga mengungkapkan, bahwa pemantauan media sosial yang terburu-buru menimbulkan kekhawatiran hukum yangs erring diabaikan. “Anda tidak akan berbagi password, membiarkan orang lain mengakses akun Anda atau melakukan hal lain yang membahayakan keamanan akun,” pungkasnya.
Dilaporkan ada perusahaan atau perguruan tinggi yang menuntut akses penuh dari pelamar pekerjaan dan para mahasiswa. Misalnya di Department of Corrections, Maryland, pelamar kerja saat sesi wawancara diminta untuk log-in ke akun mereka, sementara pewawancara melihat mereka mengakses wall post, daftar teman, foto dan hal lain yang dirahasiakan di akun tersebut.
Sebelum itu, para pelamar telah diminta untuk menyerahkan nama pengguna dan password mereka. Beruntung, ACLU telah menghentikan tindakan tersebut sejak tahun lalu.
Direktur Legislative ACLU, Mellisa Corets Goeman, memberikan laporan yang cukup mengejutkan karena hampir semua pelamar mengikuti keinginan perusahaan untuk lolos dalam sesi wawancara.
“Ini merupakan pelanggaran privasi, saat ini orang-orang banyak memiliki informasi pribadi di halaman akun mereka. Pewawancara dan sekolah juga menyerang privasi orang lain untuk mendapatkan akses ke postingan dan tema-teman mereka, karena ada banyak iformasi di sana,” jelas Goemann.
Goemaan juga mengungkapkan, bahwa pemantauan media sosial yang terburu-buru menimbulkan kekhawatiran hukum yangs erring diabaikan. “Anda tidak akan berbagi password, membiarkan orang lain mengakses akun Anda atau melakukan hal lain yang membahayakan keamanan akun,” pungkasnya.
