Handyplast
IndoForum Beginner D
- No. Urut
- 10814
- Sejak
- 29 Jan 2007
- Pesan
- 608
- Nilai reaksi
- 219
- Poin
- 43
PBB Desak Penyelamatan Orangutan di Indonesia
NEW YORK, RABU - Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mendesak dunia internasional untuk mengambil langkah-langkah darurat untuk menyelamatkan orangutan di Indonesia. Praktik pembalakan liar yang masih merajalela di Pualu Sumatera dan Kalimantan mengancam keberadaan satwa liar langka yang hanya hidup alami di kedua pulau itu.
"Tanpa adanya campur tangan langsung di lapangan, orangutan dan margasatwa lainnya di hutan akan semakin langka hingga akhirnya dalam jangka panjang sudah tidak dapat ditemui lagi," demikian laporan Tanggap Cepat yang dikeluarkan oleh Program Lingkungan Hidup PBB (UNEP) di New York, Selasa (6/2).
Penelitian tentang kelangkaan orangutan, menurut UNEP, menunjukkan bahwa hutan-hutan tropis di Sumatera dan Kalimantan telah dibabat dengan cepat sehingga pada tahun 2022, 98 persen luas hutan tersebut akan habis jika tidak ada tindakan segera. Sebelumnya, UNEP memprediksi kerusakan hampir seluruh hutan tropis di Indonesia baru akan terjadi pada tahun 2032 jika kondisi pembalakan seperti sekarang ini dibiarkan.
Untuk membantu populasi orangutan terus bertahan, PBB meminta dunia internasional antara lain dengan mengekang permintaan mereka terhadap pasokan kayu dari hutan-hutan tropis. Di tengah permintaan yang meningkat, sektor industri dan pasar internasional mengalami kekurangan pasokan kayu ilegal murah dan akibatnya saat ini taman-taman nasional yang menjadi harapan terakhir orangutan sudah mulai dirambah.
Menurut penelitian tersebut, jika melihat tingkat perambahan saat ini, kemungkinan beberapa taman nasional Indonesia akan mengalami kerusakan pada tahun 2012. Secara keseluruhan, kemusnahan habitat orangutan saat ini mencapai 30 persen lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya.
Laporan UNEP itu mencatat bahwa Indonesia memang sedang aktif memerangi pembalakan liar dan terus bekerja sama dengan berbagai program internasional dalam hal mengurangi praktek ilegal tersebut. Namun kebanyakan prakarsa bersifat jangka panjang, seperti mengurangi korupsi dan sertifikasi perdagangan kayu, sehingga masih memerlukan dukungan yang besar dari masyarakat internasional. UNEP juga meminta Indonesia untuk memperkuat upaya mengerahkan unit-unit pengintai di hutan, dengan tegas memusnahkan perkebunan ilegal, melakukan pembangunan pertanian di wilayah taman-taman nasional serta menegakkan hukum internasional melawan pembalakan liar.
Direktur Eksekutif UNEP, Achim Steiner, mengatakan bahwa pembalakan bukan dilakukan oleh orang-orang miskin secara individual melainkan oleh jaringan komersil terorganisir (mafia) yang sulit ditangkap. Ia meminta masyarakat internasional untuk memberikan bantuan kepada pihak berwenang Indonesia dalam hal peralatan, pelatihan serta pendanaan untuk mengawasi taman-taman nasional dari praktek pembalakan liar.
Orangutan di Kalimantan dan Sumatera saat ini dikategorikan Terancam dan Sangat Terancam. Menurut perkiraan baru-baru ini, 45.000 hingga 69.000 orangutam hidup di hutan-hutan Kalimantan dan tidak lebih dari 7.300 lainnya hidup di hutan Sumatera.
NEW YORK, RABU - Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mendesak dunia internasional untuk mengambil langkah-langkah darurat untuk menyelamatkan orangutan di Indonesia. Praktik pembalakan liar yang masih merajalela di Pualu Sumatera dan Kalimantan mengancam keberadaan satwa liar langka yang hanya hidup alami di kedua pulau itu.
"Tanpa adanya campur tangan langsung di lapangan, orangutan dan margasatwa lainnya di hutan akan semakin langka hingga akhirnya dalam jangka panjang sudah tidak dapat ditemui lagi," demikian laporan Tanggap Cepat yang dikeluarkan oleh Program Lingkungan Hidup PBB (UNEP) di New York, Selasa (6/2).
Penelitian tentang kelangkaan orangutan, menurut UNEP, menunjukkan bahwa hutan-hutan tropis di Sumatera dan Kalimantan telah dibabat dengan cepat sehingga pada tahun 2022, 98 persen luas hutan tersebut akan habis jika tidak ada tindakan segera. Sebelumnya, UNEP memprediksi kerusakan hampir seluruh hutan tropis di Indonesia baru akan terjadi pada tahun 2032 jika kondisi pembalakan seperti sekarang ini dibiarkan.
Untuk membantu populasi orangutan terus bertahan, PBB meminta dunia internasional antara lain dengan mengekang permintaan mereka terhadap pasokan kayu dari hutan-hutan tropis. Di tengah permintaan yang meningkat, sektor industri dan pasar internasional mengalami kekurangan pasokan kayu ilegal murah dan akibatnya saat ini taman-taman nasional yang menjadi harapan terakhir orangutan sudah mulai dirambah.
Menurut penelitian tersebut, jika melihat tingkat perambahan saat ini, kemungkinan beberapa taman nasional Indonesia akan mengalami kerusakan pada tahun 2012. Secara keseluruhan, kemusnahan habitat orangutan saat ini mencapai 30 persen lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya.
Laporan UNEP itu mencatat bahwa Indonesia memang sedang aktif memerangi pembalakan liar dan terus bekerja sama dengan berbagai program internasional dalam hal mengurangi praktek ilegal tersebut. Namun kebanyakan prakarsa bersifat jangka panjang, seperti mengurangi korupsi dan sertifikasi perdagangan kayu, sehingga masih memerlukan dukungan yang besar dari masyarakat internasional. UNEP juga meminta Indonesia untuk memperkuat upaya mengerahkan unit-unit pengintai di hutan, dengan tegas memusnahkan perkebunan ilegal, melakukan pembangunan pertanian di wilayah taman-taman nasional serta menegakkan hukum internasional melawan pembalakan liar.
Direktur Eksekutif UNEP, Achim Steiner, mengatakan bahwa pembalakan bukan dilakukan oleh orang-orang miskin secara individual melainkan oleh jaringan komersil terorganisir (mafia) yang sulit ditangkap. Ia meminta masyarakat internasional untuk memberikan bantuan kepada pihak berwenang Indonesia dalam hal peralatan, pelatihan serta pendanaan untuk mengawasi taman-taman nasional dari praktek pembalakan liar.
Orangutan di Kalimantan dan Sumatera saat ini dikategorikan Terancam dan Sangat Terancam. Menurut perkiraan baru-baru ini, 45.000 hingga 69.000 orangutam hidup di hutan-hutan Kalimantan dan tidak lebih dari 7.300 lainnya hidup di hutan Sumatera.

