Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
#SELF_IMPROVEMENT
Disaat banyak para pakar memisahkan antara passion & hobby. Dan menyuruh untuk menemukan passion. Temukan passion mu, kalau harap sukses maka wajib menemukan passion mu.
Karena menurut mereka passion itu bawaan lahir yg tidak dapat di ubah. Sementara kalau Hobi itu cuma aktivitas yg disukai aja. Dan diciptakan oleh dengan kesengajaan.
Padahal kalau melihat kamus & definisi passion adalah hasrat/ghairah. So dalam mengerjakan aktivitas Hobi apakah ada hasrat gak sih?
Saya yakin kalau gak ada hasrat gak bakal dilakuin
Itulah sebenarnya bagian dari passion. Jadi bagi saya passion sama hobi itu sama saja
Apakah passion harus dicari?
Enggak harus susah susah dicari, di coba semua satu satu semua profesi.
Anda membentuk dengan sengaja, aktivitas yg sama sekali di awal tidak disukai sekalipun. Kalau anda terus di cekokin. Dengan sengaja lama kelamaan pasti akan di sukai.
Nah tugas kita adalah tinggal terus mengasah nya salah satu aktivitas apapun itu untuk jadi expertis di salah satu dibadang. Ketika kita jangok di bidang itu maka di creating jadi uang. Dijadikan sumber penghasilan atau profesi.
Permasalahan passion biasanya susah berkembang dalam diri seseorang adalah kurang nya pencerahan akan hal ini.
Yaitu salah nya pemaknaan atas passion ini.
Maksud nya bagaimana?
So karena seseorang kebingungan dia passion nya apa, seperti definisi sebelum nya akhirnya dia gak mulai mulai menekuni satu bidang. Yang ada waktu habis energy habis untuk mencari cari apa sih passion gue, dimana, dibidang apa
Nah kalau anda punya definisi passion seperti ini so gak masalah sih, mungkin kita cuma beda sudut pandang aja.
Cuma bagi saya, kalau memiliki definisi passion seperti itu. Sama saja menyusahkan diri sendiri.
Justru saya disini mengemuka kan, sudut pandang saya. Yang dimana Pandangan saya kepada passion itu sederhana
Gak rumit, gak harus begini begitu cukup jalan kan saja tetapkan saja anda mau jadi apa. Sudah selesai
Terus kalau belum ada ghairah nya bagaimana?
Oke saya akan cerita kan pengalaman saya.
Dulu saya ketika perdana kali berdagang/berjualan sebenarnya karena terpaksa saja. Mau melamar kerja sana sini gak diterima. Sebenarnya saya punya impian tujuan itu ya saya harap kerja di Kantoran duduk sebagai minimal Manajer atau sebagai seorang CEO di perusahaan besar.
Itu awal awal saya jualan pisang cokelat di daerah bogor, nungguin depan gerobak. Rasanya malu banget, gila gue lulusan kuliahan kerja nya cuma jualan ginian. Itu kondisi sangat tersiksa nahan gengsi. Dan saya berjanji saya disini sementara untuk bertahan hidup. Sambil jualan sambil mencari cari cari lowongan kerja
Artinya awal awal saya menjalani nya sebagai seorang penjual itu tidak ada rasanya (ghairah nya) darimana hasrat perasaan gitu tentu darimana lagi kalau bukan dari keyakinan saya sendiri. Mindset saya. Saya dulu meyakini penjual itu profesi rendahan, kalau cuma jualan gerobakan ngapain saya sekolah tinggi tinggi.
Nah keyakinan inilah yg mengdrive perasaan saya. Sehingga hasrat nya tidak terasa sedap saat menjalani nya
Namun seiring berjalan nya waktu, saya justru malah jadi kelupaan cari kerja. Karena justru saya merasa punya kebebasan saat jualan. Beda hal nya saya pernah merasakan kerja di daerah cikarang di kawasan industri. Yang justru terpaku oleh aturan, disiplin tinggi, ini itu dsb nya.
Saya merasakan tuh ada Kenyamanan saat jualan akhirnya Kenyamanan ini yg menciptakan saya terlelap hampir 4 tahun sebagai penjual gerobakan.
Baru kepikiran lagi. Setelah saya meng evaluasi impian saya, yg dulu nya harap kerja di Kantoran. Sekarang malah jadi penjual. Terus saya mikir lah kenapa saya tidak seirusin aja. Jadi seorang penjual ini dalam bahasa bisnis nya yaitu marketing. Kenapa gak perdalam saja saya ilmu nya. Dari situ saya mulai belajar tentang marketing & saya menetapkan oke saya harus jadi seorang pengusaha. Dan saya harus jangok di bidang marketing nya. Dari situ impian baru muncul, hasrat lebih bergelora lagi Setelah saya tetap kan. Dan setelah saya beri makna akan profesi aktivitas yg saya jalani.
Saya yg dulu selain memimpikan kerja di perusahaan orang jadi seorang Manajer saya juga punya impian lain yaitu alternative dream. harap jadi penyanyi, artis, youtuber, penulis dllnya. Namun setelah saya memutus kan untuk jadi seorang pengusaha saya sudah buang jauh jauh semua impian itu. Saya akan fokus satu bidang saja. Dibidang marketing.
Untuk itu saya mengatakan dari dulu, saya menulis ini bukan mau jadi se orang penulis. Karena bukan bukti diri saya. Tapi saya akan mengambil skill lain dari menulis ini
Yaitu tetap saya katakan saya adalah seorang marketers. Profesi saya harus jangok jualan, harus jangok dibidang marketing. Dan didalam nya ada branding dsb
Bukan cuma itu ternyata marketing itu bukan ilmu yg absolut (mutlak). Tapi seperti seni yg terus berubah mengikuti perubahan perubahan yg ada, ketika seseorang menemukan strategy marketing yg tepat maka akan menaikan penjualan yg gila gilaan. Sama saja. Seperti seorang seniman saat misalkan seorang musisi menciptakan lagu yg hits maka akan mengangkat namanya & mendapatkan uang banyak dari ke populeran lagu itu. Sebenarnya sama saja. Jika saya menemukan strategy marketing yg tepat sama seperti sebuah seni. Untuk itu kenapa saya putus kan saya harus jangok di marketing. Dan mensayangi dunia marketing
Nah sekarang ketemu, bahwa sebenarnya hasrat itu diciptakan oleh kita sendiri, dibuat oleh kita sendiri dibentuk oleh kita sendiri, di pilih oleh diri kita sendiri. Coba saja kalau seandainya saya masih memimpikan kerja di perusahaan orang sebagai Profesional. Maka sebenarnya dapat saja hasrat saya ada di sana. Dan saya pasti sama sekali tidak ada hasrat jadi seorang marketing di perusahaan sendiri seperti saat ini sebenarnya sama saja. Cuma beda jalan & jalur saja. Dulu saya memimpikan kerja sebagai Manager itu hebat itu nilai yg saya buat sendiri. Akhirnya sebenarnya hasrat saya sudah terbentuk disana. Dan sekarang kenapa yg tadi nya tidak ada hasrat jadi seorang penjual malah jadi berhasrat. Yang tadinya gengsi malah bangga. So darimana lagi kalau bukan dari hasil pemaknaan sendiri sehingga jadi keyakinan & dari sana hasrat terbentuk yaitu passion/hobi
sumber gambar: google
Jangan lupa join di channel telegram saya, Istana Pengetahuan Hari ini 01:33