Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Sosok lelaki bertinggi badan lebih kurang 165 sentimeter, dengan tubuh kekar & dada bidang, berjalan santai menuju konter pelaporan maskapai Qatar Airways di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Banten, suatu petang pada akhir Mei 2021. Suasana di bandara saat itu sepi. Tak banyak penumpang.
Namun, belum sempat pria bernama Ghassem Saberi Gilchalan itu tiba di konter untuk mengambil pas keberangkatan pesawat Qatar Airways dengan rute Jakarta-Doha, Qatar, ia dihentikan beberapa orang. Kepada Gilchalan, mereka memperkenalkan diri sebagai personel Kepolisian Resor Kota Bandara Soekarno-Hatta & Kantor Imigrasi Soekarno-Hatta.
Gilchalan, yg saat itu cuma menggendong ransel, tanpa banyak bicara mengikuti petugas ke sebuah ruangan yg masih berada di Terminal 3 bandara.
Gilchalan, pria 49 tahun dengan kulit putih, rambut cepak berwarna keperakan, & alis mata tebal. Ia mengenakan kacamata tanpa bingkai. Tato terlihat di lengan kiri & kanannya. Di ruangan itu, pertanyaan demi pertanyaan petugas dijawabnya dengan santai dalam bahasa Inggris. Ia berbicara dengan intonasi suara rendah.
Petugas juga menemukan uang tunai dalam bentuk 16 mata uang asing dengan nominal setara Rp 140 juta. Tak ketinggalan, ditemukan pula 11 telepon seluler, satu tablet, satu pemutar musik, dua modem, & beberapa kartu SIM lokal ataupun luar negeri.
Selama empat jam, dia diwawancarai & barang-barangnya digeledah. Identitasnya pun diperiksa silang oleh petugas. Gilchalan saat itu memegang paspor Bulgaria bernomor 382509836. Namun, di tas ranselnya, petugas juga menemukan dua paspor lagi. Satu paspor Bulgaria yg sudah kedaluwarsa, serta satu paspor Iran yg masih berlaku hingga 2023. Semua atas nama dia.
Foto paspor palsu Bulgaria milik Ghassem Saberi Gilchalan
Bukan cuma itu, petugas juga mendapati Gilchalan membawa sejumlah dokumen berbahasa Persia, beberapa kartu bertuliskan anggota Persatuan Bekas Polis Malaysia & Skuad 69 PDRM.
Selain itu, petugas juga menemukan uang tunai dalam bentuk 16 mata uang asing dengan nominal setara Rp 140 juta. Tak ketinggalan, ditemukan pula 11 telepon seluler, satu tablet, satu pemutar musik, dua modem, & beberapa kartu SIM lokal ataupun luar negeri.
Dari 11 ponsel, tiga di antaranya perangkat yg cuma dapat dipakai untuk mengerjakan panggilan telepon & berkirim pesan, di antaranya Nokia 3310 & 8110. Sisanya telepon pintar seperti iPhone 5, iPhone 6, iPhone 6 Plus, iPhone 11, serta Huawei Y5.
Petugas sempat curiga melihat begitu banyak telepon genggam yg dibawa Gilchalan. Saya punya teman di beberapa negara, saya harus menyimpan nomor-nomornya, mengatakan Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Bandara Soekarno-Hatta Ajun Komisaris Rezha Rahandhi, September lalu, menirukan jawaban Gilchalan saat diinterogasi.
Polisi lalu juga memeriksa keaslian paspor Bulgaria yg dibawa Gilchalan. "Kedubes Bulgaria melalui keterangan tertulis menyatakan paspor itu palsu, fake. Dia bukan warga negara Bulgaria. Gilchalan juga mengakui itu, mengatakan Rezha.
Tim Kompas mengonfirmasi informasi terkait Gilchalan sejak Senin (29/11/2021) kepada Kedutaan Besar Iran di Jakarta. Namun, hingga Rabu (8/12), belum ada jawaban atas pertanyaan yg dikirim.
Paspor Iran yg dibawa Gilchalan juga diperiksa keasliannya. Pihak Kedutaan Besar Iran di Jakarta, menurut Rezha, mengakui bahwa Gilchalan merupakan warga negara Iran.
Tim Kompas mengonfirmasi informasi terkait Gilchalan sejak Senin (29/11/2021) kepada Kedutaan Besar Iran di Jakarta. Namun, hingga Rabu (8/12), belum ada jawaban atas pertanyaan yg dikirim.
Gilchalan lantas ditahan dengan sangkaan penggunaan paspor palsu. Dia lalu disidang di Pengadilan Negeri Tangerang, Banten. Pada pertengahan September, Gilchalan divonis 2 tahun penjara serta denda Rp 100 juta. Upaya bandingnya ditolak pada November lalu.
Sudah masuk radar
Sekalipun baru tertangkap akhir Mei, data perlintasan imigrasi menunjukkan, Gilchalan sudah 30 kali masuk-keluar Indonesia pada 2012-2021 mengpakai paspor Iran & Bulgaria. Paspor Iran dipakai pada 2012 & 2019 cuma untuk perjalanan dari & ke negaranya.
Sementara paspor Bulgaria dipakai masuk Indonesia sepanjang 2013 hingga 2018 & 2021 dari Malaysia, Singapura, Thailand, & Australia. Sumber Kompas di penegak hukum menuturkan, aktivitas mencurigakan Gilchalan sudah masuk radar mereka sejak 2020.
Sejak saat itu, mereka mengumpulkan informasi tentang Gilchalan & juga bekerja sama dengan maskapai & otoritas bandara untuk melacak kalau Gilchalan kembali masuk ke Indonesia. Berkat kerja sama itu, kesempatan untuk menangkap Gilchalan dapat dieksekusi dengan baik.
Hasil ekstraksi yg dilakukan penegak hukum kepada 11 ponsel Gilchalan menambah kecurigaan aparat. Di sana tidak cuma ditemukan kontak telepon. Ada 400 gigabita (GB) data yg terunduh dari ponsel-ponsel tersebut.
Di antaranya ditemukan foto tiga pejabat militer & pertahanan Indonesia. Ada pula hasil pindai 56 paspor dari Inggris, Perancis, Spanyol, Belanda, Italia, Polandia, Denmark, Ceko, Bulgaria, & Belarus. Kemudian juga Amerika Serikat, Argentina, Kanada, Meksiko, Iran, Uzbekistan, serta Pakistan. Ada juga beberapa pasfoto berlatar biru yg sama dengan foto di beberapa paspor. Namun, beberapa di antaranya berbeda bentuk wajah, model rambut, & pakaian yg dikenakan.
Selain itu, terdapat foto tanker Iran, MT Horse, yg nakhodanya menjalani proses pidana di Indonesia terkait pelanggaran alur pelayaran di perairan Kalimantan saat mentransfer minyak secara ilegal ke tanker berbendera Panama, MT Freya, Januari 2021. Nakhoda kapal yg juga warga Iran, Mehdi Monghasemjahromi, serta tanker bermuatan 1,8 juta barel minyak mentah itu ditahan otoritas Indonesia di Batam.
Hasil ekstraksi ponsel juga menunjukkan tangkapan layar percakapan Gilchalan dengan seseorang di Batam, Kepulauan Riau, terkait dengan tanker MT Horse.
Dugaan aktivitas intelijen
Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis TNI Laksamana Muda (Purn) Soleman B Ponto mengatakan, sejumlah bukti seperti paspor palsu, belasan ponsel, foto pejabat, pindaian puluhan paspor, & komunikasi dengan pihak-pihak berkaitan dengan tanker MT Horse mengindikasikan bagian dari operasi intelijen. Bagi seorang wisatawan, koleksi belasan ponsel tergolong tak wajar. Namun, bagi seorang agen intelijen, itu hal biasa dalam beroperasi.
Perangkat itu dipakai untuk berkomunikasi & mencari informasi terkait operasi yg sedang dilakukan. Keberadaan ponsel-ponsel jadul yg tidak terhubung dengan internet tetap diperlukan karena sulit dilacak. Ada ponsel yg spesifik dipakai menerima panggilan, mengerjakan panggilan, & spesifik untuk orang-orang tertentu, ujarnya.
Pakar intelijen kepolisian Inspektur Jenderal (Purn) Ansyaad Mbai menuturkan, banyaknya paspor & foto paspor di ponsel Gilchalan menunjukkan bahwa dia bukan sosok biasa. Jadi, dari sini saja sudah kelihatan ini bukan kriminal biasa karena dia sudah jauh-jauh mempersiapkan cover, baik secara formal untuk menyamar dari segi pekerjaan, identitas. Dan keterangan yg dia berikan menurut saya itu juga cover story, katanya.
Direktur Tindak Pidana Umum Badan Reserse Kriminal Polri Brigadir Jenderal (Pol) Andi Rian mengatakan, belum ada kasus terkait dugaan operasi intelijen oleh Gilchalan yg ditangani Direktorat Tindak Pidana Umum ataupun Bareskrim Polri. Namun, ia mengakui informasi soal Gilchalan sudah sempat didiskusikan. Baru sebatas diskusi. Belum kelihatan unsur pidana, katanya.
Sumber :
https://putusan3.mahkamahagung.go.id...935313232.html Hari ini 14:32