Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Children are like a blank sheet of paper. Demikianlah orang-orang barat berkata. Anak-anak bagaikan kertas putih, yg akan menerima apapun yg ditulis orang tuanya di atas kertas tersebut.
Jika anak diibaratkan seperti kertas, berarti metafora yg paling tepat untuk mengumpamakan orang tua adalah pensil! Wahai para orang tua, kita semua adalah seumpama pensil. Mari kita renungkan bagaimana jadi sebuah pensil yg baik.
Sebuah pensil kalau terus dipakai untuk menulis lambat laun akan jadi tumpul, maka pensil tersebut perlu diraut kembali supaya jadi tajam seperti sedia kala.
Sebagai orang tua, kita harus sering update pengetahuan baru setiap saat. Ingatlah bahwa zaman berubah, masa berganti, anak kita menerima informasi lebih cepat dari orang tuanya.
Jika orang tua terus mendidik dengan ilmu yg statis, lambat laun akan jadi tumpul. Maka meraut pensil itu berarti kembali belajar kepada ahlinya, membaca buku, & mencoba hal-hal baru.
Mungkin belajar itu sedikit melelahkan, apalagi kalau usia sudah tua. Sama seperti pensil, ketika ia diraut tentu terasa sedikit menyakitkan. Tetapi cuma dengan begini pengetahuan sang orang tua kembali jadi tajam seperti sedia kala.
Sifat berikutnya dari sebuah pensil adalah rela mengakui kesalahan. Coba lihat, bukankah banyak pensil yg kemana-mana sering membawa penghapus. Terkadang penghapus ini permanen berada pada pangkal bagian atas dari pensil itu sendiri.
Seolah-olah ia berkata, "Aku cuma sebuah pensil yg dapat salah saat menulis. Maka pakai penghapus ini untuk menghapus kesalahanku."
Orang tua yg baik tentu berani mengakui kesalahannya kepada anak-anak. Jangan maunya menang sendiri, apalagi kalau anak sebetulnya tahu kalau orang tuanya bersalah namun ia tak mendapat contoh seperti apa perbuatan meminta maaf itu.
Kelak anak seperti ini saat dewasa juga tidak akan dapat mengakui kesalahan, apalagi meminta maaf pada orang lain. Karena ia tidak pernah tahu contohnya dari sang orangtua.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir diceritakan, suatu hari Khalifah Umar berencana menciptakan peraturan supaya mahar perkawinan yg lebih dari 40 uqiyah akan dialokasikan untuk Baitul Mal.
Ketika itu seorang perempuan mendekatinya lalu membacakan Surat An-Nisa ayat 20, yg menyebutkan larangan seseorang mengambil kembali mahar yg sudah diberikan. Khalifah pun menyadari bahwa rencana beliau kurang tepat. Maka hal tersebut dibatalkan kembali sambil berkata,
"Perempuan itu yg benar, & lelaki ini yg salah."
Lihatlah bagaimana seorang Amirul Mukminin saja berani mengakui kesalahan. Maka pantaskah kita kalau saat berbuat salah, justru mencari-cari alasan & pembenaran.
Orang tua layaknya pensil, yg sering sedia penghapus & siap dihapus kesalahannya kalau memang bersalah. Dengan begitu anak-anak kita akan mendapati tulisan pensil yg benar dalam lembaran kertas putih mereka.
Jual Buku Pengembangan Diri
campsite.bio
Bisa Cek-cek dulu, barangkali ada diantara Anda sukai
JANGAN LUPA YA CENDOLNYA
Hari ini 09:03
Jika anak diibaratkan seperti kertas, berarti metafora yg paling tepat untuk mengumpamakan orang tua adalah pensil! Wahai para orang tua, kita semua adalah seumpama pensil. Mari kita renungkan bagaimana jadi sebuah pensil yg baik.
Sebuah pensil kalau terus dipakai untuk menulis lambat laun akan jadi tumpul, maka pensil tersebut perlu diraut kembali supaya jadi tajam seperti sedia kala.
Sebagai orang tua, kita harus sering update pengetahuan baru setiap saat. Ingatlah bahwa zaman berubah, masa berganti, anak kita menerima informasi lebih cepat dari orang tuanya.
Jika orang tua terus mendidik dengan ilmu yg statis, lambat laun akan jadi tumpul. Maka meraut pensil itu berarti kembali belajar kepada ahlinya, membaca buku, & mencoba hal-hal baru.
Mungkin belajar itu sedikit melelahkan, apalagi kalau usia sudah tua. Sama seperti pensil, ketika ia diraut tentu terasa sedikit menyakitkan. Tetapi cuma dengan begini pengetahuan sang orang tua kembali jadi tajam seperti sedia kala.
Sifat berikutnya dari sebuah pensil adalah rela mengakui kesalahan. Coba lihat, bukankah banyak pensil yg kemana-mana sering membawa penghapus. Terkadang penghapus ini permanen berada pada pangkal bagian atas dari pensil itu sendiri.
Seolah-olah ia berkata, "Aku cuma sebuah pensil yg dapat salah saat menulis. Maka pakai penghapus ini untuk menghapus kesalahanku."
Orang tua yg baik tentu berani mengakui kesalahannya kepada anak-anak. Jangan maunya menang sendiri, apalagi kalau anak sebetulnya tahu kalau orang tuanya bersalah namun ia tak mendapat contoh seperti apa perbuatan meminta maaf itu.
Kelak anak seperti ini saat dewasa juga tidak akan dapat mengakui kesalahan, apalagi meminta maaf pada orang lain. Karena ia tidak pernah tahu contohnya dari sang orangtua.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir diceritakan, suatu hari Khalifah Umar berencana menciptakan peraturan supaya mahar perkawinan yg lebih dari 40 uqiyah akan dialokasikan untuk Baitul Mal.
Ketika itu seorang perempuan mendekatinya lalu membacakan Surat An-Nisa ayat 20, yg menyebutkan larangan seseorang mengambil kembali mahar yg sudah diberikan. Khalifah pun menyadari bahwa rencana beliau kurang tepat. Maka hal tersebut dibatalkan kembali sambil berkata,
"Perempuan itu yg benar, & lelaki ini yg salah."
Lihatlah bagaimana seorang Amirul Mukminin saja berani mengakui kesalahan. Maka pantaskah kita kalau saat berbuat salah, justru mencari-cari alasan & pembenaran.
Orang tua layaknya pensil, yg sering sedia penghapus & siap dihapus kesalahannya kalau memang bersalah. Dengan begitu anak-anak kita akan mendapati tulisan pensil yg benar dalam lembaran kertas putih mereka.
Jual Buku Pengembangan Diri
selfdevelopment's Campsite.bio
selfdevelopment's Campsite.bio profile. Create your own bio link for free today.
JANGAN LUPA YA CENDOLNYA
Hari ini 09:03