Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Quote:
Duhai sang Raja yg sedang asik menikmati singgasana, apakah kau sedang bingung melamun? Dikala pandemi menerpa, rasa iba, rasa duka, rasa gundah hadir dalam benakmu. Langkahmu seperti tertahan, diam tak bergeming. Menatap rakyat dengan mata terluka, sedangkan engkau tak dapat menggapai mereka.
Sayup-sayup angin mengabarkan. Rakyat semakin tertekan, dengan pandemi yg semakin meluas. Titahmu sudah di dendangkan. Tapi suaramu tak terdengar, mereka tetap saja berlalu. Kau berteriak diantara ketulian, hingga binar-binar matamu bercerita apa yg terjadi.
Kau utus para bentara yg sering ada disampingmu. Tapi, sungguh durjana dirimu seakan tak dianggap oleh mereka. Dharapnya singgasana menciptakan hatimu jadi beku. Tak dapat merasa! Kalau sebenarnya mereka ada keharapan jadi Raja. Bertitah diluar kendali. Membuat rakyat diambang dilema. Bingung, pasrah & tak ada yg dapat dilakukan kecuali harap mati dengan tenang.
Perlu diingat sekali saja, Tuan.
Kendalikan keadaan ini, dengan rasa hormat yg tinggi. Singgasana ini adalah milikmu. Rakyatmu ada di bawah kekuasaaanmu. Jangan biarkan para bentara mengambil alih tugasmu, cukup sudah Tuan.
Mereka yg terserak di antara reruntuhan pandemi. Berharap bantuan yg lebih akbar darimu. Dibandingkan harus berkelana melihat rakyatmu yg menderita. Sebuah titah yg kuat tanpa ada angin intervensi dari para bentara.
Biarkan langit pandemi jadi kelabu. Tanpa harus banyak berseteru. Aku tahu kau lelah, Tuan. Tapi jiwa ragamu sudah kau gadaikan untuk negeri ini, ketika sumpahmu terdengar ketika diangkat jadi Raja.
Enyahkan saja bentara yg mengganjal jalanmu. Tentu saja dengan senyumanmu yg banyak mengalahkan lawan hingga tersungkur tak dapat berkata. Sekali saja kau mainkan kembali bidak yg sudah kau miliki. Demi harmonisnya negeri ini, dari para bentara yg kini sudah berubah jadi Rahwana.
Satu suara, satu titah, satu kata. Semoga air mata yg menggenang di pipimu dapat kau tahan, Tuan. Perlu kerja keras & cerdas, tanpa harus menurunkan harga diri.
Untuk itu saya ucapkan, terima kasih, Tuan.
Salam, saya c4punk yg baru saja belajar menulis sebuah prosais, entah ini disebut prosais atau bukan mohon petunjuk & jalan yg benar dari suhu-suhu literasi disini.
Mungkin, disini masih bingung tentang apa itu prosais. Sebenarnya kata-kata puitis yg menurut puisi kontemporer berbentuk sebuah prosa.
Saya akui, contoh diatas belum sempurna dapat jadi itu bukanlah sebuah prosais. Karena puisi prosais sebenarnya adalah puisi yg tetap tersusun dari banyaknya mengatakan puitis tetapi tipografinya berbentuk prosa yg berparagraf.
Untuk itu bila ada ilmu yg dapat dishare oleh gansist semua monggo jangan disimpan, ungkapkan saja. Bagaimana menciptakan prosais yg benar, mohon dijabarkan. Setidaknya kita sama-sama belajar dirumah, belajar dari ketidaktahuan jadi paham.
Salam, saya c4punk see u next thread.
"Nikmati Membaca Dengan Santuy"
--------------------------------------
Tulisan : c4punk@2020
referensi : klik
Pic : google
GIF