roughtorer
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 44416
- Sejak
- 24 Mei 2008
- Pesan
- 6.755
- Nilai reaksi
- 175
- Poin
- 63
Setelah banyak membaca komentar-komentar dari masyarakat di berbagai media yang memutuskan untuk golput alias tidak ikut memilih dalam pemilu yang sebentar lagi akan dilaksanakan, serta adanya juga seruan dari salah satu tokoh nasional yang mengajak untuk melakukan hal yang serupa, menggambarkan terjadinya kekecewaan yang sangat besar dan sikap pesimisme dalam masyarakat terhadap pemerintahan dan wakil rakyat kita sekarang ini.
Lantas apakah sikap golput yang menjadi solusinya ?
Beberapa alasan-alasan yang sering diungkapan oleh para golput-er antara lain :
Jika kita analogikan pemilu dengan belanja suatu produk dengan merk tertentu, sebelumnya tentu kita akan membandingkan produk tersebut dengan produk yang lain yang sejenis, kita lihat keunggulan dan kekurangan dari produk tersebut, membaca review-review dari berbagai sumber, dan kemudian memutuskan memilih mana produk yang paling sesuai dengan kebutuhan kita. Memang tidak ada jaminan juga bahwa produk yang kita pilih itu tidak akan membuat kita kecewa, meski itu adalah produk dengan merk yang terkenal sekalipun, tetapi dengan mempelajarinya lebih dahulu sebelum memilih, kemungkinan kita untuk kecewa tentunya menjadi lebih kecil dan untuk sebuah produk yang mengecewakan kita, tentu kita tidak akan membelinya kembali.
Hal tersebut dapat juga diterapkan untuk pemilu, dengan banyaknya media cetak dan elektronik serta juga blog-blog yang banyak memberikan berbagai informasi, kita dapat mempelajari lebih banyak tentang orang-orang yang akan kita pilih. Kita dapat mengetahui lebih jauh tentang track-record dan prestasi yang telah dicapai orang-orang tersebut, karena seperti hal nya suatu produk yang baik biasanya juga terbuat melalui sebuah proses produksi yang baik. Dengan begitu akan memperkecil kemungkinan kita untuk kecewa dengan pilihan kita dan untuk pilihan yang telah mengecewakan kita sebelumnya tentu tidak layak untuk kita piih kembali.
Fakta menunjukan bahwa banyak oknum dari wakil rakyat dan juga pemerintah yang terlibat KKN, lantas apakah semua pihak di bidang itu terlibat ? sungguh tidak adil rasanya jika kita semua berasumsi demikian. Tentu masih ada orang-orang yang memiliki nasionalisme tinggi yang berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk negaranya, karena fakta juga menunjukkan bahwa ekonomi kita mengalami pertumbuhan dan peringkat persepsi korupsi Indonesia naik di mata dunia (dari 2,3 di tahun 2007 menjadi 2,6 di tahun 2008 berdasarkan data dari Transparency International).
Tanpa keberadaan orang-orang yang berdedikasi ini tentu berbagai kemajuan tersebut tidak akan terjadi. Hanya saja dengan banyaknya oknum yang terlibat KKN membuat keberadaan dan usaha dari orang-orang baik ini semakin tidak terlihat. Keberadaan mereka seperti halnya butiran pasir atau kerikil yang tercerai-berai tak kuasa menahan derasnya ombak, tak terlihat oleh mata tapi tetap dapat kita rasakan keberadaan mereka ketika kita berada di dalamnya. Ketika kerikil dan pasir tadi bertambah jumlahnya dan bersatu menjelma menjadi sebuah penahan gelombang barulah dapat lebih di rasakan kegunaannya. Oleh karena itu diperlukan orang-orang baik berkarakter kuat dengan jumlah yang tidak sedikit untuk dapat menahan laju dari ombak-ombak yang menerpa. Dan merupakan bagian dari tugas kita untuk memilih siapa orang-orang tersebut.
Kisah tentang sebuah desa yang banyak terjadi pencurian karena situasinya yang gelap. Lalu dengan uang hasil iuran warga diputuskanlah untuk membeli alat-alat penerangan. Setiap warga diminta untuk memberikan suaranya mengenai alat penerangan yang akan dibeli, sehingga diharapakan dapat terbeli alat penerangan yang baik dan berguna. Maka muncullah beberapa sikap yang terbagi menjadi beberapa golongan di masyarakat desa itu.
1. Golongan yang berusaha untuk menganjurkan membeli alat tertentu.
Mereka adalah para penjual lampu atau orang yang mempunyai kepentingan dengan penjual lampu. Golongan ini terbagi lagi menjadi beberapa bagian. Ada yang mengetahui dengan baik tentang kualitas dari lampu yang akan di jualnya. Ada juga yang tidak begitu peduli dengan kualitas lampu tersebut, bagi mereka yang terpenting lampu itu lah yang terpilih.
Dalam realita, golongan ini sedikit mirip halnya dengan partai-partai atau juru kampanye. Ada yang dengan jelas mengetahui kualitas yang akan dibawa atau dikampanyekan dan apa yang akan dilakukan kemudian. Ada juga yang berprinsip yang penting terpilih, tanpa dengan jelas mengetahui apa yang akan dilakukan kemudian.
2. Golongan yang memilih dan juga dengan sengaja menganjurkan untuk membeli alat dengan kualitas jelek.
Mereka adalah golongan yang senang atau banyak mendapat manfaat dari keadaan yang gelap ini. Tidak lain golongan ini adalah para pencuri. Berharap alat dengan kualitas yang jelek ini tidak dapat berguna dengan baik dan juga cepat rusak, sehingga keadaan tetap gelap dan mereka dapat terus mencuri.
Dalam realita dapat kita analogikan golongan ini dengan para koruptor. Dengan terpilihnya perangkat wakil rakyat dan pemerintahan dengan kualitas jelek, tentu mereka dapat dengan leluasa terus melakukan kegiatannya.
3. Golongan yang berusaha untuk memilih yang terbaik.
Adalah golongan terbesar dari penduduk desa, yang mengharapkan yang terbaik bagi desanya. Jika desa maju tentu hidup mereka juga akan maju. Dengan sistem penerangan yang baik mereka berharap pencurian akan berkurang dan hidup bisa menjadi lebih tentram. Tetapi sungguh disayangkan, karena terkadang kurangnya pengetahuan mereka akan mana alat yang baik dapat menghambat apa yang mereka harapkan.
Dalam realita golongan ini adalah sebagian besar dari para peserta pemilu, tanpa memiliki kepentingan dengan partai atau golongan tertentu, hanya mengharapkan yang terbaik dan kemajuan bagi bangsanya.
4. Golongan yang tidak memilih sama sekali.
Golongan ini hanya berharap dan berdo’a semoga pilihan yang dipilih oleh golongan lain itulah pilihan yang terbaik. Jika benar adanya maka mereka ikut merasakan kebaikan yang dibawa, cukup egois jika mengingat kebaikan itu dibawa tanpa mereka mau ikut berusaha. Tapi jika yang terpilih bukanlah yang baik, maka golongan ini juga tidak punya hak untuk protes, karena mereka juga tidak berusaha sama sekali, mereka hanya bisa ikut merasakan keterpurukan yang dibawa akibat kesalahan pilih tersebut dan juga tentu saja menyesal karena mungkin saja suara mereka bisa mencegah hal itu untuk terjadi. Bukankah dalam berbagai agama dikatakan bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum tersebut berusaha untuk mengubahnya.
Tentu kita semua bisa mengetahui dengan mudah siapa yang termasuk dalam golongan ini. Ya, inilah anda para golput-er.
Dampak dari pemilu memang tidak dapat langsung kita rasakan, hal ini dikarenakan cakupannya yang begitu luas. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa secara tidak langsung dampaknya akan kita rasakan juga. Seperti kisah desa diatas tadi, pemilu juga di danai oleh iuran pajak kita, dengan jumlahnya yang sangat besar sehingga hak kita untuk memilih tetap terjaga.. Hak itu juga disertai dengan kewajiban dari kita untuk berpartisipasi didalamnya. Sebuah hal sederhana yang tidak sulit dilakukan tapi sudah menunjukan sebuah sikap kepedulian terhadap bangsa. Dengan tidak menggunakan hak pilih, bisa dikatakan juga bahwa kita telah turut serta menghamburkan uang negara.
Perlu diingat juga bahwa kita harus siap menerima segala kekurangan dari apa yang kita pilih, karena mereka bukanlah para malaikat ataupun dewa-dewa yang mempunyai kemampuan tanpa batas untuk mengatasi permasalahan bangsa yang begitu kompleks. Mereka tidak lain adalah manusia seperti kita juga yang tidak luput dari berbagai kekurangan, tapi dengan beberapa kelebihannya bisa kita percaya untuk membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik.
Lantas masih pantaskah kita untuk tetap golput ?
Remi Mathriqa.
Student of Master Program Computational Engineering
Ruhr Universitaet Bochum, Germany.
Lantas apakah sikap golput yang menjadi solusinya ?
Beberapa alasan-alasan yang sering diungkapan oleh para golput-er antara lain :
- Kecewa berat dengan pilihannnya terdahulu, putus asa, sehingga tidak tahu lagi apa yang harus dipilih.
- Tidak mengetahui tentang orang-orang yang akan dipilih.
- Tidak percaya akan masih adanya orang yang baik dalam dunia politik
- Siapapun yang terpilih tidak akan merubah nasibnya, dan sebagainya.
Jika kita analogikan pemilu dengan belanja suatu produk dengan merk tertentu, sebelumnya tentu kita akan membandingkan produk tersebut dengan produk yang lain yang sejenis, kita lihat keunggulan dan kekurangan dari produk tersebut, membaca review-review dari berbagai sumber, dan kemudian memutuskan memilih mana produk yang paling sesuai dengan kebutuhan kita. Memang tidak ada jaminan juga bahwa produk yang kita pilih itu tidak akan membuat kita kecewa, meski itu adalah produk dengan merk yang terkenal sekalipun, tetapi dengan mempelajarinya lebih dahulu sebelum memilih, kemungkinan kita untuk kecewa tentunya menjadi lebih kecil dan untuk sebuah produk yang mengecewakan kita, tentu kita tidak akan membelinya kembali.
Hal tersebut dapat juga diterapkan untuk pemilu, dengan banyaknya media cetak dan elektronik serta juga blog-blog yang banyak memberikan berbagai informasi, kita dapat mempelajari lebih banyak tentang orang-orang yang akan kita pilih. Kita dapat mengetahui lebih jauh tentang track-record dan prestasi yang telah dicapai orang-orang tersebut, karena seperti hal nya suatu produk yang baik biasanya juga terbuat melalui sebuah proses produksi yang baik. Dengan begitu akan memperkecil kemungkinan kita untuk kecewa dengan pilihan kita dan untuk pilihan yang telah mengecewakan kita sebelumnya tentu tidak layak untuk kita piih kembali.
Fakta menunjukan bahwa banyak oknum dari wakil rakyat dan juga pemerintah yang terlibat KKN, lantas apakah semua pihak di bidang itu terlibat ? sungguh tidak adil rasanya jika kita semua berasumsi demikian. Tentu masih ada orang-orang yang memiliki nasionalisme tinggi yang berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk negaranya, karena fakta juga menunjukkan bahwa ekonomi kita mengalami pertumbuhan dan peringkat persepsi korupsi Indonesia naik di mata dunia (dari 2,3 di tahun 2007 menjadi 2,6 di tahun 2008 berdasarkan data dari Transparency International).
Tanpa keberadaan orang-orang yang berdedikasi ini tentu berbagai kemajuan tersebut tidak akan terjadi. Hanya saja dengan banyaknya oknum yang terlibat KKN membuat keberadaan dan usaha dari orang-orang baik ini semakin tidak terlihat. Keberadaan mereka seperti halnya butiran pasir atau kerikil yang tercerai-berai tak kuasa menahan derasnya ombak, tak terlihat oleh mata tapi tetap dapat kita rasakan keberadaan mereka ketika kita berada di dalamnya. Ketika kerikil dan pasir tadi bertambah jumlahnya dan bersatu menjelma menjadi sebuah penahan gelombang barulah dapat lebih di rasakan kegunaannya. Oleh karena itu diperlukan orang-orang baik berkarakter kuat dengan jumlah yang tidak sedikit untuk dapat menahan laju dari ombak-ombak yang menerpa. Dan merupakan bagian dari tugas kita untuk memilih siapa orang-orang tersebut.
Kisah tentang sebuah desa yang banyak terjadi pencurian karena situasinya yang gelap. Lalu dengan uang hasil iuran warga diputuskanlah untuk membeli alat-alat penerangan. Setiap warga diminta untuk memberikan suaranya mengenai alat penerangan yang akan dibeli, sehingga diharapakan dapat terbeli alat penerangan yang baik dan berguna. Maka muncullah beberapa sikap yang terbagi menjadi beberapa golongan di masyarakat desa itu.
1. Golongan yang berusaha untuk menganjurkan membeli alat tertentu.
Mereka adalah para penjual lampu atau orang yang mempunyai kepentingan dengan penjual lampu. Golongan ini terbagi lagi menjadi beberapa bagian. Ada yang mengetahui dengan baik tentang kualitas dari lampu yang akan di jualnya. Ada juga yang tidak begitu peduli dengan kualitas lampu tersebut, bagi mereka yang terpenting lampu itu lah yang terpilih.
Dalam realita, golongan ini sedikit mirip halnya dengan partai-partai atau juru kampanye. Ada yang dengan jelas mengetahui kualitas yang akan dibawa atau dikampanyekan dan apa yang akan dilakukan kemudian. Ada juga yang berprinsip yang penting terpilih, tanpa dengan jelas mengetahui apa yang akan dilakukan kemudian.
2. Golongan yang memilih dan juga dengan sengaja menganjurkan untuk membeli alat dengan kualitas jelek.
Mereka adalah golongan yang senang atau banyak mendapat manfaat dari keadaan yang gelap ini. Tidak lain golongan ini adalah para pencuri. Berharap alat dengan kualitas yang jelek ini tidak dapat berguna dengan baik dan juga cepat rusak, sehingga keadaan tetap gelap dan mereka dapat terus mencuri.
Dalam realita dapat kita analogikan golongan ini dengan para koruptor. Dengan terpilihnya perangkat wakil rakyat dan pemerintahan dengan kualitas jelek, tentu mereka dapat dengan leluasa terus melakukan kegiatannya.
3. Golongan yang berusaha untuk memilih yang terbaik.
Adalah golongan terbesar dari penduduk desa, yang mengharapkan yang terbaik bagi desanya. Jika desa maju tentu hidup mereka juga akan maju. Dengan sistem penerangan yang baik mereka berharap pencurian akan berkurang dan hidup bisa menjadi lebih tentram. Tetapi sungguh disayangkan, karena terkadang kurangnya pengetahuan mereka akan mana alat yang baik dapat menghambat apa yang mereka harapkan.
Dalam realita golongan ini adalah sebagian besar dari para peserta pemilu, tanpa memiliki kepentingan dengan partai atau golongan tertentu, hanya mengharapkan yang terbaik dan kemajuan bagi bangsanya.
4. Golongan yang tidak memilih sama sekali.
Golongan ini hanya berharap dan berdo’a semoga pilihan yang dipilih oleh golongan lain itulah pilihan yang terbaik. Jika benar adanya maka mereka ikut merasakan kebaikan yang dibawa, cukup egois jika mengingat kebaikan itu dibawa tanpa mereka mau ikut berusaha. Tapi jika yang terpilih bukanlah yang baik, maka golongan ini juga tidak punya hak untuk protes, karena mereka juga tidak berusaha sama sekali, mereka hanya bisa ikut merasakan keterpurukan yang dibawa akibat kesalahan pilih tersebut dan juga tentu saja menyesal karena mungkin saja suara mereka bisa mencegah hal itu untuk terjadi. Bukankah dalam berbagai agama dikatakan bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum tersebut berusaha untuk mengubahnya.
Tentu kita semua bisa mengetahui dengan mudah siapa yang termasuk dalam golongan ini. Ya, inilah anda para golput-er.
Dampak dari pemilu memang tidak dapat langsung kita rasakan, hal ini dikarenakan cakupannya yang begitu luas. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa secara tidak langsung dampaknya akan kita rasakan juga. Seperti kisah desa diatas tadi, pemilu juga di danai oleh iuran pajak kita, dengan jumlahnya yang sangat besar sehingga hak kita untuk memilih tetap terjaga.. Hak itu juga disertai dengan kewajiban dari kita untuk berpartisipasi didalamnya. Sebuah hal sederhana yang tidak sulit dilakukan tapi sudah menunjukan sebuah sikap kepedulian terhadap bangsa. Dengan tidak menggunakan hak pilih, bisa dikatakan juga bahwa kita telah turut serta menghamburkan uang negara.
Perlu diingat juga bahwa kita harus siap menerima segala kekurangan dari apa yang kita pilih, karena mereka bukanlah para malaikat ataupun dewa-dewa yang mempunyai kemampuan tanpa batas untuk mengatasi permasalahan bangsa yang begitu kompleks. Mereka tidak lain adalah manusia seperti kita juga yang tidak luput dari berbagai kekurangan, tapi dengan beberapa kelebihannya bisa kita percaya untuk membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik.
Lantas masih pantaskah kita untuk tetap golput ?
Remi Mathriqa.
Student of Master Program Computational Engineering
Ruhr Universitaet Bochum, Germany.

