• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Panja Netralitas Polisi Solusi Tengahi Perang Bintang Trunojoyo

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
11501120_20231201043148.jpg

11501120_20231201043244.jpg



Manuver Kapolri Listyo Sigit Prabowo (TB 1) membawa Kepolisian Republik Indonesia berpihak secara politik praktis untuk menolong pemenangan Prabowo-Gibran semakin santer terdengar. Dua sumber informasi dari Media Indonesia & sebaran PDF berkemas nama akbar Tirto-Kurawal Foundation mengupas secara tajam manuver yg diorkestrasi oleh TB 1 menghancurkan netralitas Polri demi Prabowo - Gibran. Para jenderal polisi pun terbelah jadi dua faksi. Tiga lawan tiga.

Sumber dari Media Indonesia mengungkap bagaimana dilema yg dihadapi para Pati Polri, ikut komando cawe-cawe TB 1 dalam Pemilu 2024 atau menjaga integritas & marwah Trunojoyo. Tulisan yg sempat dimuat di laman Media Indonesia dengan link berikut: https://mediaindonesia.com/politik-d...an-siapa-saja, langsung hilang tak dapat dibuka. Kemungkinan akbar akibat tekanan Trunojoyo kepada Media Massa. Untungnya, isi berita tersebut masih diselamatkan & disebarkan ulang melalui WAG oleh para jurnalis Media Indonesia. Sepandai-pandai Truno mengubur bangkai, baunya tetap tercium juga.

Rekan-rekan jurnalis pun, bahkan yg terbiasa meliput di Mabes Polri & DPR RI, kesulitan mengangkat pemberitaan yg mencoba mencari kebenaran soal tak netral polisi gawean TB 1.

Pada laman tersebut diungkapkan bagaimana sejumlah perwira tinggi di jajaran kepolisian Republik Indonesia (Polri) mengaku tidak nyaman dengan manuver TB 1. Mereka merasa bingung dengan sikap Kapolri yg menggerakkan sejumlah kepala satuan wilayah di internnal polri untuk menolong pemenangan Prabowo-Gibran.

Menurut pemberitaan yg diculik gerombolan TB 1 itu, banyak jenderal polisi yg mengungkapkan kegalauannya. Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri Komjen Ahmad Dofiri yg mengaku bingung dengan sikap keberpihakan Kapolri. Bagaimana tidak? Dofiri yg semula jabat Kabaintelkam Polri, dimutasi jadi Irwasum usai kesuksesan membongkar kasus biadab Ferdy Sambo & kroninya Komjen Fadil Imran yg kini duduk di kursi Kabaharkam, ditugaskan TB 1 mengerjakan pembenahan Polri. Ulah TB 1 membawa Polri berpihak secara politik, wajar menciptakan Irwasum melawan. Apalagi, Dofiri (Angkatan 1989) adalah senior TB 1 (Angkatan 1991).


https://kalsel.antaranews.com/berita...katkan-layanin


Tak cuma Irwasum, Kabareskrim Komjen Wahyu Widada (Angkatan 1991) juga disebut Media Indonesia menyampaikan hal senada seperti dengan Irwasum. Widada berupaya pertahankan Netralitas Polri karena ia memiliki peluang akbar naik Kapolri, kalau Listyo Sigit Prabowo pensiun pasca Pilpres 2024. Apalagi, Widada berasal dari satuan Polair, sehingga akbar peluang naik jadi Kapolri Polair perdana dalam sejarah Kepolisian.

Sayangnya, cita-cita mulia Widada sukar terwujud. TB 1 condong menjagokan Kabaharkam Fadil Imran (Angkatan 1991) sebagai Kapolri baru di 2024 atau 2025. Sebab musababnya jelas, Kabaharkam bernyali pasang badan hadapi panggilan DPR gantikan Kapolri. Terlebih, sahabat se-air mata Ferdy Sambo ini, punya nyali tantang Aiman Witjaksono berikan bukti soal pernyataannya "Polisi Tidak Netral di Pilpres 2024".


Hebat betul kongsi TB 1 & Kabaharkam ini. Bukankah dalam suatu kasus kejahatan, jadi tugas polisi yg mengerjakan pembuktian? Ini terbalik, polisi yg meminta Aiman mengerjakan pembuktian. Lantas apa tugas polisi? Jadi Timses Prabowo - Gibran?

TB 1 sempat terbitkan edaran bahwa 'Pelapor Suatu Kasus terkait ITE, Ujaran Kebencian, Hoax, & sejenisnya harus dilakukan langsung oleh Korban'. Dalam kasus Aiman, korbannya adalah Polisi. Kenapa 6 laporan kepada Aiman yg dilaporkan oleh 6 Pihak Bukan Korban, dapat diproses polisi? Dari sini saja, TB 1 sudah melanggar prinsip surat edarannya sendiri.


Wakapolri Komjen Agus Andrianto (Angkatan 1989) sudah tidak perlu ditanya lagi. Semua juga tahu posisi penting beliau pada karir politik menantu Presiden, Bobby Nasution di Sumatera Utara. Sudah jelas beliau ikut TB 1 dukung Prabowo - Gibran. Pertentangan Agus vs Sambo - Fadil, tentu dikesampingkan. Toh Sambo sudah dikurung, Agus naik Wakapolri, & Fadil naik Kabaharlkam. Bersatu untuk masa depan Trio TB 1 - Wakapolri - Kabaharkam kalau Prabowo - Gibran menang, tentu harga yg wajar untuk sepakat berdamai.

Sumber Media Indonesia juga melaporkan bahwa upaya serupa juga terjadi di berbagai wilayah polda lainnya. Misalnya apa yg terjadi di Sumatera Utara, yg langsung ditangani oleh Wakapolri Komjen Agus Andriyanto. Operasi pemenangan Prabowo-Gibran di Sumut bukan dikepalai Kapolda (Irjen Agung Setya Imam Effendi), tetapi Wakapolri Agus Andriyanto langsung yg mendapat tugas khusu dari Kapolri.

Masih dengan spektrum yg sama dalam membahas ketidaknetralan TB 1. PDF berkemas label Tirto-Kurawal Foundation ungkap hal lain. Ketidaknetralan TB 1 disebut juga memakan korban di poros Densus 88. Pasukan Elit Polri itu terbelah jadi faksi TB 1 vs Kepala Densus 88 yg masih berupaya menjaga netralitas Polri. Disebutkan di dalam PDF itu, sebuah telegram yg terbit diungkap bagaimana Kadensus menolak & bersikap di luar komando TB 1. TB 1 bersama Densus 88 yg loyal untuk memenangkan Prabowo-Gibran membentuk satgas Tim Senyap yg dipakai untuk memata-matai pergerakan para Jenderal Polri yg menolak untuk menolong pemenangan Prabowo-Gibran.

Unsur Ketidaknetralan TB 1 sangat jelas kentara pada laporan tersebut, baik dari sumber Media Indonesia & PDF Catut Nama Tirto - Kurawal. Meski terlihat ada sedikit disparitas antara uraian Media Indonesia & PDF catut nama Tirto - Kurawal, namun keduanya perlu jadi perhatian semua pihak. Apalagi, berita Media Indonesia diculik TB 1 sehingga semakin menyiratkan banyak kebenaran di dalamnya. PDF catut nama Tirto - Kurawal juga dilabel hoax cuma karena aspek catut nama Tirto & Kurawal. Isinya belum tentu hoax.


Saring sebelum sharing. Begitu kampanye CCIC Polri yg sering kita dengar. Fakta bahwa Tirto menyatakan Hoax karena ada pencatutan nama, jelas tidak menciptakan isinya juga hoax. Saring dulu. Verifikasi dulu. Sebelum dapat ditetapkan Hoax. Baiknya kita menahan diri untuk memberikan penghakiman. Hoaks atau bukan, siapa yg punya hak memutuskan itu? Hoaks karena mencatut nama atau substansi laporannya keliru? Di sini kita tidak boleh gegabah memutuskan.

Penulis sendiri pun masih mencoba mencari & menyusun benang merah keduanya & melihat bagaimana dinamika Polri saat ini.

Pada titik ini penulis merasa tawaran Komisi III DPR RI untuk membentuk Panja Netralitas Polri adalah tawaran paling logis untuk mengurai & mengusut sengkarut netralitas Polri ini. Di sinilah mengapa Panja Netralitas Polri harus segera dibentuk DPR. Agar informasi-informasi seperti ini secara cepat & tepat ditelusuri kebenarannya. Bukan serta merta dicap hoaks tanpa diverifikasi & dikritisi lebih lanjut.

Terlebih uraian Media Indonesia yg diculik polisi & uraian PDF yg catut nama Tirto - Kurawal, sedikit banyak sudah memperlihatkan adanya konfrontasi panas antara Faksi Kapolri - Wakapolri - Kabaharkam di barisan Polisi Berpihak ke Prabowo - Gibran melawan Faksi Irwasum - Kabareskrim - Kepala Densus 88 di barisan Polisi Tetap Netral.

Adalah tugas Panja Komisi III DPR RI untuk mengusut, mengurai, mem-verifikasi, hingga memutuskan cara menyikapi polemik tak netral polisi, karena telah berubah jadi Perang Bintang Polisi, kalau penulis boleh meminjam istilah dari Mantan Kepala Bais TNI, Soleman B Ponto.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.