• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Berita PANEN CABAI Di Cepogo Anjlok

yan raditya

IndoForum Addict E
No. Urut
163658
Sejak
31 Jan 2012
Pesan
24.461
Nilai reaksi
72
Poin
48
A2rU.jpg
BOYOLALI–Tanaman cabai milik sejumlah petani di beberapa wilayah Kecamatan Cepogo, Boyolali terserang penyakit. Akibatnya, hasil panen mereka baru-baru ini mengalami penyusutan cukup drastis.

Sukini, 55, salah satu petani cabai kriting di Ngelat, Jelok, Cepogo, menyebut penyakit tersebut menyerang daun pada tanamannya mulai sebulan terakhir. Gejala yang dia temui adalah dedaunan cabe terlihat keriting.

“Jika keritingnya mengarah ke bawah, itu lebih susah ditangani. Kalau ke arah atas, kami masih bisa mengejar, apalagi jika usia tanaman masih muda,” katanya saat ditemui Solopos.com, Minggu (13/5/2012).

Dari 20 panen, hasil yang diperoleh dari lahan seluas sekitar .1000 meter perseginya, susut. “Awal-awal bisa mencapai 70 kilogram, sekarang paling 10 kilogram, kadang delapan kilogram,” terangnya.

Beruntung harga cabai jenis itu, dianggap Sukini masih bergerak di level standar, yakni Rp11.000 perkilogramnya. Dia mengaku tak mengerti detil penyebab penyakit itu. Sejauh ini, obat semacam Demolis, Antrakol dan Supermas, belum cukup membantu. “Menyebar. Kebetulan untuk tanaman saya yang terserang yang usia tua. Ini lebih kuat dibanding lahan yang tak pakai pupuk kandang,” tandas dia.

Sementara itu, Dalimin, petani cabai setempat, mengaku belum sempat menikmati panen cabai di lahannya. “Daun tanaman ngretek sampai tak berbuah,” kata dia.

Di Desa Cabean Kunti, masalah serupa juga dihadapi petani. Ahmad, 39, salah satu petani disana, mengatakan penyakit itu menyebar seperti serangan wereng. “Kami tak tahu juga apa namanya, yang jelas banyak bagian lahan tak bisa dipanen. Soal untung rugi, itu bisa tertolong jika harga stabil,” ujarnya.

solopos
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.