• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Internasional Pandemi & wajah sepak bola kemudian

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Diggie
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Diggie

IndoForum Activist C
No. Urut
287751
Sejak
6 Apr 2020
Pesan
13.997
Nilai reaksi
1
Poin
0
Berikut adalah berita Pandemi & wajah sepak bola kemudian.

Pandemi & paras sepak bola kemudian


Para pemain Midtjylland dalam salah satu laga persahabatan melawan klub China di Dubai pada 9 February 2020. Midtjylland jadi salah satu dari sekian klub di Eropa yg bersiap melanjutkan lomba yg tertunda akibat virus corona dengan menawarkan sebuah cara kreatif dalam menghidupkan lagi pertandingan sepak bola. (AFP/KARIM SAHIB)

Jakarta (ANTARA) - Dalam salah satu episode serial petualangan ruang angkasa televisi era 1980-an, "Buck Rogers", ada adegan menggelikan untuk kebanyakan pemirsa televisi Indonesia yg waktu itu cuma mengenal TVRI.

Adegan itu adalah saat pentas olahraga antar-galaksi yg tak dihadiri satu pun penonton. Hanya sorak sorai penonton sejagat yg ditransmisikan secara elektronis ke dalam stadion sehingga stadion seolah penuh penonton.

Ide menggelikan itu tercetus 20 tahun sebelum internet jadi kebutuhan primer kebanyakan manusia era ini & tiga hingga empat dekade sebelum smartphone, media sosial & transmisi video sudah sedemikian massal seperti saat ini terjadi.

Ketika pandemi virus corona baru yg seketika memadamkan hampir semua lomba olahraga, termasuk sepak bola, ide "Buck Rogers" 40 tahun silam itu agaknya jadi tak terlalu menggelikan lagi, paling tidak untuk era virtual di mana kecerdasan buatan bakal mendominasi zaman kemudian.

Salah satu sebab tidak terlalu menggelikan lagi ide "Buck Rogers" itu adalah apa yg ditempuh sebuah klub sepak bola Denmark, Midtjylland.

Mengantisipasi bukanya lagi musim yg tertunda oleh pandemi penyakit COVID-19 yg diakibatkan virus corona baru, Midtjylland mengakali format pertandingan tanpa penonton dengan memasang layar-layar raksasa di lahan parkir stadion MCH Arena yg jadi markas klub Liga Super Denmark itu.

Layar-layar raksasa ini memungkinkan orang tak perlu masuk stadion untuk menyaksikan regu kesayangannya bertanding. Mereka juga tak harus melanggar aturan jaga jarak sosial cuma demi menyaksikan ramai-ramai sebuah pertandingan sepak bola.

Baca juga: Klub-klub La Liga akan bermain tanpa penonton hingga 2021

Baca juga: Midtjylland pasang layar raksasa begitu Superliga Denmark dilanjutkan

Mereka cuma perlu tetap di dalam mobilnya masing-masing sambil mata terpicing ke layar-layar raksasa guna menyaksikan dua regu berebut bola, sedangkan suara komentator & atmosfer laga dapat mereka dapatkan dari radio di mobil mereka.

Dan apa yg terjadi di luar stadion itu ditayangkan balik oleh layar raksasa di dalam stadion sehingga para pemain sepak bola dapat merasakan kehadiran penonton kendati penontonnya berada di dalam mobil.

"Kami bekerja keras menciptakan kemungkinan pengalaman terbaik. Virus corona tak mengubah soal itu, cuma memberikan prakondisi-prakondisi," mengatakan direktur pemasaran Midtjylland Preben Rokkjaer.

Untuk keperluan ini, klub tersebut membuka lahan parkir yg dapat menampung 2.000 hingga 12.000 kendaraan yg mengepung stadion MCH Arena.


Psikologi ada penonton

Teknologi 1980-an sudah pasti terlalu berat untuk mengadopsi ide gila "Buck Rogers" itu, namun teknologi masa kini yg akrab sekali dengan live-video tentu tak terlalu sulit menciptakan sesuatu yg terlihat virtual jadi riil.

Ide unik lainnya ditawarkan oleh Borussia Moenchengladbach. Ide ini bahkan jauh dari mengatakan teknologi, tetapi lebih kepada menghadirkan psikologi "ada penonton" di dalam stadion yg penting bagi pemain sepak bola & juga atlet cabang olahraga mana pun.

Bersiap menghadapi kemungkinan bergeraknya lagi roda lomba Liga Utama Jerman awal Mei nanti, Moenchengladbach mengisi kursi-kursi penonton dengan 50.000 karton bergambar & seukuran penonton sungguhan.

"Kami akan jadi klub perdana yg membawa sedikit suasana hidup dalam stadion kami, sekalipun penonton sungguhannya menyaksikan laga itu dari rumah," tulis organisasi fans Fanprojekt Moenchengladbach (FPMG) dalam sebuah posting online.

Dengan mengeluarkan 19 euro (Rp115 ribu), seorang pendukung Gladbach dapat membeli karton bergambar dirinya, untuk kemudian nanti dipasang di dalam stadion Gladbach..

Tak melulu untuk komersil karena uang sebesar itu dapat dipakai untuk menciptakan tujuh staf FPMG tetap punya pekerjaan & sisanya untuk mereka yg berada di garis depan melawan virus corona.

Baca juga: Bundesliga diperkirakan kembali bergulir pada 9 Mei

Semua cerita itu adalah ilustrasi mengenai berubahnya pola lomba olahraga, khususnya sepak bola, yg bukan mustahil jadi tren baru seandainya atmosfer semarak dalam stadion sulit lagi dihadirkan selama pandemi terus berlanjut atau vaksin belum jua ditemukan.

Apa yg akan berlaku pada beberapa bulan ke depan, seandainya pandemi masih memaksa stadion-stadion mengunci diri, sepertinya bakal menciptakan suasana, tantangan & ciptaan baru dalam dunia olahraga.

Saat bersamaan nyaris mustahil dunia berjalan tanpa olahraga, apalagi pada era di mana olahraga sudah jadi eksibisi & industri seperti saat ini terjadi. Terlalu sulit bagi dunia untuk membiarkan lomba terus-terusan tak bergulir.

Yang dilakukan Midtjylland & Borussia Moenchengladbach hanyalah salah satu bagian dari episode kerinduan manusia era ini kepada hal-hal menarik dalam olahraga yg direnggut virus iblis yg merusak tatanan global itu.

Ada pelajaran penting dari langkah yg akan diambil Midtjylland & Borussia Moenchengladbach itu. Pelajaran itu adalah olahraga jadi kian mempedulikan kesehatan manusia.


Lebih manusiawi

Menjauhkan manusia dari risiko sakit jadi sama pentingnya dengan tetap menghadirkan semangat penonton dalam stadion yg jadi bagian tak terpisahkan dari pertandingan, sekalipun itu cuma di lahan parkir seperti dilakukan Midtjylland atau meletakkan karton seukuran manusia di stadion seperti ditempuh Moenchengladbach.

Itu semua dilakukan supaya lomba tetap hidup, pemain tetap berkompetisi, klub tetap berdiri, stadion-stadion terhindar jadi kota hantu, & industri tetap dapat menarik profit serta audiens.

Namun semua itu dilakukan tidak lagi melulu demi untung, melainkan juga demi pencerahan menciptakan manusia terbebas dari penyakit.

Baca juga: Bos sepak bola Italia sebut Serie A lanjut lagi Oktober

Ini pula yg mendasari maju mundurnya sejumlah akbar lomba elite olah raga di berbagai belahan duni, termasuk sepak bola Eropa, hingga-hingga Belgia, Belanda, & Prancis tak mau lagi diombang-ambing oleh ketidakpastian krisis virus dengan menghentikan & bahkan membatalkan lomba musim ini.

Kepedulian untuk terus sehat ini tampaknya bakal jadi lagu wajib di teater-teater olahraga di seisi buana, bahkan tatkala dunia normal kembali tanpa pandemi.

Presiden FIFA Gianni Infantino bahkan menyatakan, "Ada pelajaran yg saya & Anda mesti pahami, sepak bola yg muncul setelah virus akan sama sekali berbeda...lebih inklusif, lebih sosial, & lebih suportif, terhubung ke masing-masing negara & pada saat bersamaan lebih global, tak lagi eksklusif, & lebih terbuka."

Dan faktanya, terkurung dalam waktu bersamaan di rumah dari ujung utara hingga selatan Bumi, dari timur hingga barat, sudah menciptakan pencerahan bersama mengenai pentingnya kesehatan, tentang pentingnya kebersamaan & solidaritas dalam menghadapi virus yg sudah jadi musuh & masalah bersama, tak peduli ras, agama & orientasi politik manusia.

Inilah salah satu hikmah di balik era pandemi yg mengkerangkeng umat sejagat itu, yg disebut salah satu orang terkaya di dunia, sang inovator & pendiri Microsoft, Bill Gates, sebagai Once in a Century atau sekali dalam setiap seratus tahun itu.

Faktanya pula solidaritas muncul di mana-mana, bahkan dari dalam atlet sendiri, tidak saja untuk masyarakat global, tetapi bagi sesama atlet.

Fenonema yg kaya menyantuni yg miskin kini semarak hidup di olahraga, salah satunya ketika tiga petenis top dunia --Novak Djokovic, Roger Federer & Rafael Nadal-- memprakarsasi penggalangan danang untuk menyelamatkan para petenis berperingkat rendah dari kesulitan finansial akibat tutupnya turnamen-turnamen akibat krisis virus corona yg langsung memutus mata pencaharian mereka.

"Kami harus menunjukkan kepada mereka bahwa mereka tidak terlupakan," mengatakan Djokovic.

Kemuliaan seperti itu terjadi di mana-mana, dari satu cabang ke cabang olahraga, dari Formula 1 hingga golf, dari atletik hingga tinju, dari NBA hingga Liga Premier, & seluruh spektrum baik di dalam maupun di luar arena.

Akhirnya, sepak bola, & semua cabang olahraga, pasca-pandemi, meminjam hipotesis Gianni Infantino, "akan lebih baik, lebih manusiawi & lebih perhatian kepada nilai-nilai sejati."

Baca juga: Virus corona hampir bangkrutkan pemenang Liga Slowakia tujuh kali

Berita diatas dikutip dari internet, jika Pandemi & wajah sepak bola kemudian adalah spam, mohon beritahu kami.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.