Diggie
IndoForum Activist C
- No. Urut
- 287751
- Sejak
- 6 Apr 2020
- Pesan
- 14.028
- Nilai reaksi
- 1
- Poin
- 0
Berikut adalah berita Pandemi & epilog kompetisi sepak bola Eropa.
Para pemain Atletico Madrid merayakan keberhasil mereka dalam mengalahkan Real Valladolid FC yg sekaligus memastikan sukses mereka dalam menjuarai La Liga musim ini di Stadion Jose Zorilla di Valladolid, pada 22 Mei 2021. ANTARA/AFP/Cesar Manso/aa.
Jakarta (ANTARA) - Kecuali Bundesliga Jerman & La Liga Spanyol yg Sabtu malam kemarin sudah menuntaskan musim 2020/2021, tiga liga akbar Eropa lainnya baru akan menuntaskan musim kompetisinya Minggu malam ini & Senin dini hari nanti.
Hanya Ligue 1 Prancis & La Liga yg pemenang liganya mesti ditentukan oleh pertandingan terakhirnya.
Sabtu malam tadi, persaingan hingga laga terakhir antara Real Madrid & Atletico Madrid akhirnya mengukuhkan Atletico sebagai pemenang baru La Liga setelah membungkam tuan rumah Valladolid, sekalipun dalam waktu bersamaan Real juga menaklukkan tamunya Villarreal.
Baca juga: Atletico Madrid juarai Liga Spanyol
Dua kemenangan yg dicatat kedua regu satu kota ini menciptakan mereka tetap berselisih dua poin hingga hari terakhir kompetisi. Atletico 86 poin, Real 84 poin.
Di Prancis, Lille & Paris Saint Germain yg berselisih satu poin dituntut harus menang.
Tergelincir melawan Angers & saat bersamaan PSG mengalahkan Brest, akan membuyarkan impian Lille merengkuh gelar pemenang liga utama untuk perdana kali dalam kurun 10 tahun terakhir. Dan itu artinya bukan saja punah sudah asa Lille merebut gelar pemenang liga keempat sepanjang sejarah Liga Prancis, tetapi juga menciptakan PSG mempertahankan dominasi dalam empat musim terakhir.
Memang masih ada Monaco yg berselisih dua & tiga poin di bawah mereka, tetapi kalaupun Lille & PSG nanti kalah dari lawannya masing-masing, Monaco tetap tak dapat pemenang karena kalah selisih gol dari Lille.
Di tempat lain di Jerman, trofi Bundesliga untuk kesembilan kali berturut-turut kembali jadi milik Bayern Muenchen, bahkan sebelum regu Bavaria ini menyelesaikan tiga pertandingan terakhirnya. Ini juga untuk ke-30 kalinya Bayern menduduki singgasana liga sepak bola profesional tertinggi Jerman.
Di Italia, Inter Milan mengkudeta Juventus yg selama delapan musim terakhir berturut-turut jadi jawara Serie A. Ini perdana kali dalam kurun 11 tahun terakhir Inter kembali menjuarai Serie A.
Itu juga gelar pemenang liga ke-19 kali Inter sepanjang sejarah Serie A. Memang satu gelar di atas Milan, tetapi jumlah sebanyak itu tetap medioker dibandingkan dengan Juventus yg sudah 36 kali menjuarai Serie A.
Di Inggris, Manchester City jadi pemenang liga yg ketiga kalinya selama empat tahun diasuh Pep Guardiola sebelum menuntaskan tiga pertandingan terakhirnya.
Baca juga: Tujuh rekor yg hiasi gelar pemenang City musim ini
Dikawal protokol kesehatan yg ketat
Perebutan status pemenang liga adalah satu dari sekian atraksi yg sangat menarik & amat mendebarkan dari lima liga akbar Eropa yg paling banyak disaksikan penggemar sepak bola di seluruh dunia itu.
Apalagi itu semua terjadi pada musim yg sangat unik yg tak akan terjadi lagi dalam 100 tahun mendatang, seandainya omongan Bill Gates bahwa pandemi adalah fenomena sekali dalam setiap 100 tahun, benar.
Separuh musim lalu memang dilewatkan dalam suasana pandemi & lockdown sehingga terlarang ditonton di dalam stadion, tetapi pada musim 2020/2021 klub-klub liga akbar Eropa itu --dan begitu pula seluruh liga sepak bola & cabang olah raga lainnya di seluruh dunia—seluruhnya dilalui dalam suasana pandemi, dari awal hingga akhir kompetisi.
Sampai saat ini, COVID-19 sudah menulari 166 juta orang di seluruh dunia di mana 2,45 juta di antaranya berakhir dengan kematian.
Dari angka ini 27 persen atau sekitar 46 juta kasus terjadi di Eropa, namun jumlah korban meninggal dunia di Eropa mencapai 41 persen atau sekitar 1 juta kematian.
Dengan jumlah korban sebesar itu wajar kalau Eropa menempuh langkah-langkah keras dalam membendung penyebaran virus corona yg di antaranya mempengaruhi lomba olahraga, termasuk lomba sepak bola, digulirkan kembali.
Baca juga: Guardiola sebut gelar Liga Inggris musim ini pemenang tersulitnya
Jauh sebelum mereka menggulirkan kembali kompetisi, rapat-rapat antarlembaga & lintas-otoritas digelar oleh kebanyakan negara di Eropa, termasuk negara-negara tempat liga akbar berada. Dan ini termasuk musim lomba sepak bola 2020/2021 yg akhir pekan ini akan memasuki epilognya.
Kompetisi sepak bola Eropa sudah jadi industri sehingga sering berkaitan dengan bisnis, tetapi saat menggulirkan lagi musim tidak pernah melulu didasarkan kepada semata bisnis. Sebaliknya, kepatuhan kepada rekomendasi otoritas kesehatan jadi acuan utama bagaimana lomba harus dijalankan
Oleh karena itu, ketika waktunya tiba menggulirkan lomba itu mereka mengawalnya dengan protokol kesehatan yg sangat ketat. Dan itu bukan formalitas belaka atau demi mengikuti trend.
Uniknya, klub-klub kaya Eropa yg menganggap sepak bola bukan semata soal olahraga dengan pemain-pemainnya yg kaya raya, tak pernah melihat bergulirnya lagi lomba sepak bola, melulu dari kacamata mereka, termasuk kesejahteraan mereka.
Oleh karena itu pula, ketika lomba berjalan & setiap waktu dapat diinterupsi oleh aturan-aturan terkait pembendungan penyebaran virus corona, tidak ada yg protes atau mengakalinya.
Sampai-hingga klub-klub seperti Leicester City & Manchester City serta banyak lagi di Eropa, harus bermain dengan regu seadanya karena banyak pemainnya mesti menjalani isolasi berdikari berhari-hari cuma karena menjalin kontak dengan orang yg terpapar virus corona.
Dalam beberapa kasus, venue bahkan dipaksa pindah mendadak, atau laga dimundurkan ke waktu yg menciptakan mereka harus bertanding dalam jadwal yg amat ketat.
Baca juga: Daftar pemenang Liga Jerman: Bayern kuasai gelar sembilan musim terakhir
Tak menutup-nutupi
Mereka juga tak mau menutupi diri kalau ada pemain, staf atau awak yg terpapar virus corona. Semua mereka akui & hinggakan kepada publik, termasuk sejumlah pemain mereka. Mereka patuh pada aturan isolasi berdikari sekalipun nasib klub mereka dipertaruhkan karena ketidakhadiran mereka di lapangan hijau.
Sikap mereka itu selaras dengan otoritas pusat & daerah yg harap sering memastikan COVID-19 tidak menyebar luas. Dalam pemahaman mereka, bukan otoritas daerah yg mesti beradaptasi dengan lomba sepak bola, sebaliknya otoritas & semua pelaku kompetisilah yg harus menyelaraskan diri dengan ketentuan pembendungan pandemi baik di daerah maupun pusat.
Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan kekhawatiran terciptanya kerumunan akibat suporter yg bandel mengabaikan protokol kesehatan, komunitas sepak bola Eropa tak melulu mengandalkan sikap proaktif klub, pemain & otoritas sepak bola, tetapi juga dibentengi oleh aturan keras otoritas publik di daerah & kota di mana pertandingan dilangsungkan, atau otoritas nasional sendiri.
Para pemain & klub serta perkumpulan penggemar memang aktif mendorong suporter supaya menahan diri tidak berkerumun, sekalipun itu demi merayakan keberhasilan timnya menjuarai liga atau turnamen.
Tetapi yg jauh lebih penting dari itu adalah ketegasan otoritas daerah & pusat dalam mengendalikan pandemi. Tak ada yg berani bergerombol & berkerumun sekalipun suporter sangat harap merayakan keberhasilan timnya, apalagi mengerjakan anarki. Otoritas daerah konsisten menerapkan aturan pembatasan sosial.
Baca juga: Dua pemain Schalke positif COVID-19, laga lawan Hertha tetap dimainkan
Ini seperti negara bagian Victoria di Australia yg bahkan tak mau tunduk kepada siapa pun kecuali rekomendasi otoritas kesehatan, hingga menciptakan frustrasi para petenis kelas dunia.
Turnamen Grand Slam Australian Open bahkan sempat dibuat tanpa penonton lagi setelah Melbourne menerapkan lockdown singkat cuma karena ada kasus infeksi yg terjadi di sebuah hotel isolasi untuk mereka yg baru datang ke kota itu.
Ketegasan seperti itu terjadi di mana-mana. Semua orang taat protokol kesehatan.
Dan manakala lomba tuntas digelar, bukan cuma superioritas Manchester City atau Bayern Muenchen, keandalan rumus sepak bola Pep Guardiola atau Diege Simeone, & banyak hal sejenis itu yg menciptakan sepak bola Eropa sangat atraktif.
Karena yg juga tak kalah menariknya adalah cara mereka menjalankan lomba di tengah pandemi & cara orang-orang yg terlibat di dalamnya, termasuk pemain, tidak cuma mau mematuhinya tetapi juga bertanggung jawab memberi pesan kepada publik mengenai bahaya pandemi.
Intinya, atlet-atlet ini bahagia menciptakan semua orang yg sudah bosan dikungkung oleh pandemi jadi terhibur oleh atraksi mereka di lapangan hijau. Tetapi juga menyadari posisi sentral mereka sebagai agen sosial bagi pentingnya semua orang menghindarkan orang lain tak tertular virus corona.
Ini mungkin salah satu bagian yg perlu dilihat oleh siapa pun yg harap melanjutkan lomba sepak bolanya. Keberlangsungan lomba & kesejahteraan pemain serta klub memang penting, tetapi tak boleh menomorduakan kepentingan mengendalikan pandemi.
Baca juga: Positif COVID-19, Kross tidak dapat perkuat Real di laga penentuan
Baca juga: La Liga perluas kemitraan dengan Microsoft demi tingkatkan pendapatan
Berita diatas dikutip dari internet, jika Pandemi & epilog kompetisi sepak bola Eropa adalah spam, mohon beritahu kami.
Para pemain Atletico Madrid merayakan keberhasil mereka dalam mengalahkan Real Valladolid FC yg sekaligus memastikan sukses mereka dalam menjuarai La Liga musim ini di Stadion Jose Zorilla di Valladolid, pada 22 Mei 2021. ANTARA/AFP/Cesar Manso/aa.
Jakarta (ANTARA) - Kecuali Bundesliga Jerman & La Liga Spanyol yg Sabtu malam kemarin sudah menuntaskan musim 2020/2021, tiga liga akbar Eropa lainnya baru akan menuntaskan musim kompetisinya Minggu malam ini & Senin dini hari nanti.
Hanya Ligue 1 Prancis & La Liga yg pemenang liganya mesti ditentukan oleh pertandingan terakhirnya.
Sabtu malam tadi, persaingan hingga laga terakhir antara Real Madrid & Atletico Madrid akhirnya mengukuhkan Atletico sebagai pemenang baru La Liga setelah membungkam tuan rumah Valladolid, sekalipun dalam waktu bersamaan Real juga menaklukkan tamunya Villarreal.
Baca juga: Atletico Madrid juarai Liga Spanyol
Dua kemenangan yg dicatat kedua regu satu kota ini menciptakan mereka tetap berselisih dua poin hingga hari terakhir kompetisi. Atletico 86 poin, Real 84 poin.
Di Prancis, Lille & Paris Saint Germain yg berselisih satu poin dituntut harus menang.
Tergelincir melawan Angers & saat bersamaan PSG mengalahkan Brest, akan membuyarkan impian Lille merengkuh gelar pemenang liga utama untuk perdana kali dalam kurun 10 tahun terakhir. Dan itu artinya bukan saja punah sudah asa Lille merebut gelar pemenang liga keempat sepanjang sejarah Liga Prancis, tetapi juga menciptakan PSG mempertahankan dominasi dalam empat musim terakhir.
Memang masih ada Monaco yg berselisih dua & tiga poin di bawah mereka, tetapi kalaupun Lille & PSG nanti kalah dari lawannya masing-masing, Monaco tetap tak dapat pemenang karena kalah selisih gol dari Lille.
Di tempat lain di Jerman, trofi Bundesliga untuk kesembilan kali berturut-turut kembali jadi milik Bayern Muenchen, bahkan sebelum regu Bavaria ini menyelesaikan tiga pertandingan terakhirnya. Ini juga untuk ke-30 kalinya Bayern menduduki singgasana liga sepak bola profesional tertinggi Jerman.
Di Italia, Inter Milan mengkudeta Juventus yg selama delapan musim terakhir berturut-turut jadi jawara Serie A. Ini perdana kali dalam kurun 11 tahun terakhir Inter kembali menjuarai Serie A.
Itu juga gelar pemenang liga ke-19 kali Inter sepanjang sejarah Serie A. Memang satu gelar di atas Milan, tetapi jumlah sebanyak itu tetap medioker dibandingkan dengan Juventus yg sudah 36 kali menjuarai Serie A.
Di Inggris, Manchester City jadi pemenang liga yg ketiga kalinya selama empat tahun diasuh Pep Guardiola sebelum menuntaskan tiga pertandingan terakhirnya.
Baca juga: Tujuh rekor yg hiasi gelar pemenang City musim ini
Dikawal protokol kesehatan yg ketat
Perebutan status pemenang liga adalah satu dari sekian atraksi yg sangat menarik & amat mendebarkan dari lima liga akbar Eropa yg paling banyak disaksikan penggemar sepak bola di seluruh dunia itu.
Apalagi itu semua terjadi pada musim yg sangat unik yg tak akan terjadi lagi dalam 100 tahun mendatang, seandainya omongan Bill Gates bahwa pandemi adalah fenomena sekali dalam setiap 100 tahun, benar.
Separuh musim lalu memang dilewatkan dalam suasana pandemi & lockdown sehingga terlarang ditonton di dalam stadion, tetapi pada musim 2020/2021 klub-klub liga akbar Eropa itu --dan begitu pula seluruh liga sepak bola & cabang olah raga lainnya di seluruh dunia—seluruhnya dilalui dalam suasana pandemi, dari awal hingga akhir kompetisi.
Sampai saat ini, COVID-19 sudah menulari 166 juta orang di seluruh dunia di mana 2,45 juta di antaranya berakhir dengan kematian.
Dari angka ini 27 persen atau sekitar 46 juta kasus terjadi di Eropa, namun jumlah korban meninggal dunia di Eropa mencapai 41 persen atau sekitar 1 juta kematian.
Dengan jumlah korban sebesar itu wajar kalau Eropa menempuh langkah-langkah keras dalam membendung penyebaran virus corona yg di antaranya mempengaruhi lomba olahraga, termasuk lomba sepak bola, digulirkan kembali.
Baca juga: Guardiola sebut gelar Liga Inggris musim ini pemenang tersulitnya
Jauh sebelum mereka menggulirkan kembali kompetisi, rapat-rapat antarlembaga & lintas-otoritas digelar oleh kebanyakan negara di Eropa, termasuk negara-negara tempat liga akbar berada. Dan ini termasuk musim lomba sepak bola 2020/2021 yg akhir pekan ini akan memasuki epilognya.
Kompetisi sepak bola Eropa sudah jadi industri sehingga sering berkaitan dengan bisnis, tetapi saat menggulirkan lagi musim tidak pernah melulu didasarkan kepada semata bisnis. Sebaliknya, kepatuhan kepada rekomendasi otoritas kesehatan jadi acuan utama bagaimana lomba harus dijalankan
Oleh karena itu, ketika waktunya tiba menggulirkan lomba itu mereka mengawalnya dengan protokol kesehatan yg sangat ketat. Dan itu bukan formalitas belaka atau demi mengikuti trend.
Uniknya, klub-klub kaya Eropa yg menganggap sepak bola bukan semata soal olahraga dengan pemain-pemainnya yg kaya raya, tak pernah melihat bergulirnya lagi lomba sepak bola, melulu dari kacamata mereka, termasuk kesejahteraan mereka.
Oleh karena itu pula, ketika lomba berjalan & setiap waktu dapat diinterupsi oleh aturan-aturan terkait pembendungan penyebaran virus corona, tidak ada yg protes atau mengakalinya.
Sampai-hingga klub-klub seperti Leicester City & Manchester City serta banyak lagi di Eropa, harus bermain dengan regu seadanya karena banyak pemainnya mesti menjalani isolasi berdikari berhari-hari cuma karena menjalin kontak dengan orang yg terpapar virus corona.
Dalam beberapa kasus, venue bahkan dipaksa pindah mendadak, atau laga dimundurkan ke waktu yg menciptakan mereka harus bertanding dalam jadwal yg amat ketat.
Baca juga: Daftar pemenang Liga Jerman: Bayern kuasai gelar sembilan musim terakhir
Tak menutup-nutupi
Mereka juga tak mau menutupi diri kalau ada pemain, staf atau awak yg terpapar virus corona. Semua mereka akui & hinggakan kepada publik, termasuk sejumlah pemain mereka. Mereka patuh pada aturan isolasi berdikari sekalipun nasib klub mereka dipertaruhkan karena ketidakhadiran mereka di lapangan hijau.
Sikap mereka itu selaras dengan otoritas pusat & daerah yg harap sering memastikan COVID-19 tidak menyebar luas. Dalam pemahaman mereka, bukan otoritas daerah yg mesti beradaptasi dengan lomba sepak bola, sebaliknya otoritas & semua pelaku kompetisilah yg harus menyelaraskan diri dengan ketentuan pembendungan pandemi baik di daerah maupun pusat.
Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan kekhawatiran terciptanya kerumunan akibat suporter yg bandel mengabaikan protokol kesehatan, komunitas sepak bola Eropa tak melulu mengandalkan sikap proaktif klub, pemain & otoritas sepak bola, tetapi juga dibentengi oleh aturan keras otoritas publik di daerah & kota di mana pertandingan dilangsungkan, atau otoritas nasional sendiri.
Para pemain & klub serta perkumpulan penggemar memang aktif mendorong suporter supaya menahan diri tidak berkerumun, sekalipun itu demi merayakan keberhasilan timnya menjuarai liga atau turnamen.
Tetapi yg jauh lebih penting dari itu adalah ketegasan otoritas daerah & pusat dalam mengendalikan pandemi. Tak ada yg berani bergerombol & berkerumun sekalipun suporter sangat harap merayakan keberhasilan timnya, apalagi mengerjakan anarki. Otoritas daerah konsisten menerapkan aturan pembatasan sosial.
Baca juga: Dua pemain Schalke positif COVID-19, laga lawan Hertha tetap dimainkan
Ini seperti negara bagian Victoria di Australia yg bahkan tak mau tunduk kepada siapa pun kecuali rekomendasi otoritas kesehatan, hingga menciptakan frustrasi para petenis kelas dunia.
Turnamen Grand Slam Australian Open bahkan sempat dibuat tanpa penonton lagi setelah Melbourne menerapkan lockdown singkat cuma karena ada kasus infeksi yg terjadi di sebuah hotel isolasi untuk mereka yg baru datang ke kota itu.
Ketegasan seperti itu terjadi di mana-mana. Semua orang taat protokol kesehatan.
Dan manakala lomba tuntas digelar, bukan cuma superioritas Manchester City atau Bayern Muenchen, keandalan rumus sepak bola Pep Guardiola atau Diege Simeone, & banyak hal sejenis itu yg menciptakan sepak bola Eropa sangat atraktif.
Karena yg juga tak kalah menariknya adalah cara mereka menjalankan lomba di tengah pandemi & cara orang-orang yg terlibat di dalamnya, termasuk pemain, tidak cuma mau mematuhinya tetapi juga bertanggung jawab memberi pesan kepada publik mengenai bahaya pandemi.
Intinya, atlet-atlet ini bahagia menciptakan semua orang yg sudah bosan dikungkung oleh pandemi jadi terhibur oleh atraksi mereka di lapangan hijau. Tetapi juga menyadari posisi sentral mereka sebagai agen sosial bagi pentingnya semua orang menghindarkan orang lain tak tertular virus corona.
Ini mungkin salah satu bagian yg perlu dilihat oleh siapa pun yg harap melanjutkan lomba sepak bolanya. Keberlangsungan lomba & kesejahteraan pemain serta klub memang penting, tetapi tak boleh menomorduakan kepentingan mengendalikan pandemi.
Baca juga: Positif COVID-19, Kross tidak dapat perkuat Real di laga penentuan
Baca juga: La Liga perluas kemitraan dengan Microsoft demi tingkatkan pendapatan
Berita diatas dikutip dari internet, jika Pandemi & epilog kompetisi sepak bola Eropa adalah spam, mohon beritahu kami.