Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Spoiler for :
Bagi beberapa rakyat negara berflower ini, punya pekerjaan yg di dambakan dengan gaji yg layak adalah suatu anugerah & mungkin mimpinya di masa kecil.
Apalagi bagi beberapa orang yg baru saja lulus dari sebuah pendidikan yg ditempuhnya. Seperti Ane dulu yg punya cita-cita harap jadi seorang enginering di sebuah pabrik perakitan mesin, namun kenyataan berbanding terbalik & sangat menciptakan Ane merasakan kecewa atas keadaan yg menimpa diri Ane.
Kenapa demikian?
Hal ini disebabkan oleh karena Ane yg cuma sanggup disekolahkan hingga kelas sembilan. Namun, dari sanalah ketegaran hati diuji & dibentuk jadi setegar sekarang ini.
Diri yg cuma mengenyam pendidikan yg tak seberapa ini pun mulai memikirkan masa depan dengan cara mencari pekerjaan. Yang kemudian membawa Ane jauh dari kampung halaman menuju Ibukota dengan jadi seorang kuli bangunan.
Jauh dari cita-cita, bukan?
Rentang tahun 2007 hingga 2015, dari kuburan megah, hingga rumah dibilangan elite pernah Ane kerjakan. Bahkan diantara orang yg rumahnya Ane dirikan, beberapa ada dari kalangan seniman & pejabat tinggi negara.
Bertahun-tahun Ane jadi seorang kuli bangunan, beragam model & gaya bangunan Ane kerjakan menciptakan pikiran Ane menimbulkan sebuah pertanyaan.
Apakah hidup harus seperti ini terus?
Apakah Ane harus ikut orang terus?
Lantas, kalau Ane keluar. Apa yg harus Ane kerjakan?
Pertanyaan demi pertanyaan itu terus saja menghantui pikiran Ane, yg kemudian sedikit demi sedikit Ane sisihkan penghasilan Ane untuk modal membangun sebuah usaha, apapun itu.
Tetapi hal ini semakin runyam, ditambah gaji yg sering nunggak yg kemudian menciptakan tabungan tak terasa terkuras untuk menutupi kebutuhan harian.
Akhirnya Ane putuskan untuk keluar sebagai kuli bangunan & ikut saudara berjualan. Kendala terjadi kembali, akibat dari kelalaian dari Ane & gaji yg saat bekerja sering nunggak menciptakan kendaraan Ane harus rela over kredit ke tangan kedua.
Dan secara otomatis, Ane berhenti berjualan, serta kembali bekerja di sebuah toko di bilangan Pasar Senen supaya cita-cita yg Ane harapkan terwujud meski dengan cara apapun itu.
Selama tiga tahun bekerja di toko, akhirnya Ane kembali keluar & ikut berjualan lagi, & puji syukur, meski di tengah-tengah pandemi, akhirnya Ane sanggup membangun usaha sendiri meski kecil, tetapi semua itu menciptakan diri ini bangga & sanggup membuktikan bahwa Ane dapat mewujudkan cita-cita untuk mempunyai usaha pribadi dengan cara berjualan.
Seperti yg Ane katakan di paragraf atas, alasan Ane memilih berjualan adalah bosannya Ane berada dilingkungan kerja. Menjadi budak korporat & patuh akan segala aturan.
Contohnya, waktu.
Jika kita jadi seorang pekerja, waktu kita sudah ditentukan & itulah yg perusahaan bayar. Tetapi, kalau kita punya usaha sendiri, dari segi waktu tidak akan ada yg menentukannya & tidak ada pula larangan serta aturan yg berlaku.
Seperti mengatakan Alm. Bob Sadino, sebesar apapun gaji & jabatan anda dalam sebuah pekerjaan, anda tetaplah seorang karyawan, tetapi kalau anda seorang pengusaha, sekecil apapun penghasilannya, anda adalah bossnya.
Namun, semua itu kembali pada diri masing-masing dari kalian, dimana fashion kalian. Apakah di bidang pekerjaan, jadi seorang pengusaha atau menjalani keduanya.
Dari Pengalaman Pribadi
Thanks For Visiting
Ditulis Oleh:
source
Hari ini 04:35
Bagi beberapa rakyat negara berflower ini, punya pekerjaan yg di dambakan dengan gaji yg layak adalah suatu anugerah & mungkin mimpinya di masa kecil.
Apalagi bagi beberapa orang yg baru saja lulus dari sebuah pendidikan yg ditempuhnya. Seperti Ane dulu yg punya cita-cita harap jadi seorang enginering di sebuah pabrik perakitan mesin, namun kenyataan berbanding terbalik & sangat menciptakan Ane merasakan kecewa atas keadaan yg menimpa diri Ane.
Kenapa demikian?
Hal ini disebabkan oleh karena Ane yg cuma sanggup disekolahkan hingga kelas sembilan. Namun, dari sanalah ketegaran hati diuji & dibentuk jadi setegar sekarang ini.
Diri yg cuma mengenyam pendidikan yg tak seberapa ini pun mulai memikirkan masa depan dengan cara mencari pekerjaan. Yang kemudian membawa Ane jauh dari kampung halaman menuju Ibukota dengan jadi seorang kuli bangunan.
Jauh dari cita-cita, bukan?
Rentang tahun 2007 hingga 2015, dari kuburan megah, hingga rumah dibilangan elite pernah Ane kerjakan. Bahkan diantara orang yg rumahnya Ane dirikan, beberapa ada dari kalangan seniman & pejabat tinggi negara.
Bertahun-tahun Ane jadi seorang kuli bangunan, beragam model & gaya bangunan Ane kerjakan menciptakan pikiran Ane menimbulkan sebuah pertanyaan.
Apakah hidup harus seperti ini terus?
Apakah Ane harus ikut orang terus?
Lantas, kalau Ane keluar. Apa yg harus Ane kerjakan?
Pertanyaan demi pertanyaan itu terus saja menghantui pikiran Ane, yg kemudian sedikit demi sedikit Ane sisihkan penghasilan Ane untuk modal membangun sebuah usaha, apapun itu.
Tetapi hal ini semakin runyam, ditambah gaji yg sering nunggak yg kemudian menciptakan tabungan tak terasa terkuras untuk menutupi kebutuhan harian.
Akhirnya Ane putuskan untuk keluar sebagai kuli bangunan & ikut saudara berjualan. Kendala terjadi kembali, akibat dari kelalaian dari Ane & gaji yg saat bekerja sering nunggak menciptakan kendaraan Ane harus rela over kredit ke tangan kedua.
Dan secara otomatis, Ane berhenti berjualan, serta kembali bekerja di sebuah toko di bilangan Pasar Senen supaya cita-cita yg Ane harapkan terwujud meski dengan cara apapun itu.
Selama tiga tahun bekerja di toko, akhirnya Ane kembali keluar & ikut berjualan lagi, & puji syukur, meski di tengah-tengah pandemi, akhirnya Ane sanggup membangun usaha sendiri meski kecil, tetapi semua itu menciptakan diri ini bangga & sanggup membuktikan bahwa Ane dapat mewujudkan cita-cita untuk mempunyai usaha pribadi dengan cara berjualan.
Seperti yg Ane katakan di paragraf atas, alasan Ane memilih berjualan adalah bosannya Ane berada dilingkungan kerja. Menjadi budak korporat & patuh akan segala aturan.
Contohnya, waktu.
Jika kita jadi seorang pekerja, waktu kita sudah ditentukan & itulah yg perusahaan bayar. Tetapi, kalau kita punya usaha sendiri, dari segi waktu tidak akan ada yg menentukannya & tidak ada pula larangan serta aturan yg berlaku.
Seperti mengatakan Alm. Bob Sadino, sebesar apapun gaji & jabatan anda dalam sebuah pekerjaan, anda tetaplah seorang karyawan, tetapi kalau anda seorang pengusaha, sekecil apapun penghasilannya, anda adalah bossnya.
Namun, semua itu kembali pada diri masing-masing dari kalian, dimana fashion kalian. Apakah di bidang pekerjaan, jadi seorang pengusaha atau menjalani keduanya.
Dari Pengalaman Pribadi
Thanks For Visiting
Ditulis Oleh:
source