JAKARTA - Sentimen negatif rupanya masih menghinggapi holding emiten grup Bakrie, yakni PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) serta salah satu anak usahanya, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).
Meskipun, harga saham beberapa anak usaha Grup Bakrie lain mulai menguat, namun nasib induk usaha raksasa bisnis milik keluarga Bakrie tersebut juga tetap stagnan.
Sejak awal bulan ini hingga pembukaan perdagangan sesi pertama hari ini, Rabu (10/12/2008), harga saham BNBR melorot di level terendah, yaitu Rp50 per lembar sahamnya.
"Saat ini keberadaan BNBR sebagai holding lima emiten Bakrie lainnya, belum memberikan dampak positif. Sebagai contoh, rasionalisasi utang yang mencapai USD1,2 miliar dalam jangka pendek belum bisa diselesaikan," ujar Head of Research Sarijaya Securities Danny Eugene, saat dihubungi okezone, di Jakarta, Rabu (10/12/2008).
Dia menambahkan, setiap hari, sejak otoritas bursa mencabut penghentian sementara atau suspensi perdagangan saham bersandi BNBR ini pada 18 November 2008, harganya selalu melorot capai 10 persen dan kena mekanisme auto rejection batas bawah.
Jadi, sejak sebelum suspensi hingga kini harga saham ini sudah terpangkas 65,5 persen, dan akhirnya terdiam di level Rp50 per saham sejak 2 Desember 2008.
"Jika tak ada pembatasan level terendah harga saham Rp50, pasti harga saham BNBR akan terus turun," katanya.
Indikasinya, hingga perdagangan kemarin, antrean jual saham BNBR hampir empat juta lot saham atau sekira 1,99 miliar saham. "Tapi, para investor hanya bisa melongok saja, karena mereka kurang berminat atau bahkan mau membelinya," tuturnya.
Sebagai informasi, mereka rela membanting harga saham BNBR di pasar negosiasi. Tak heran, perdagangan saham BNBR di pasar negosiasi lebih ramai ketimbang di pasar reguler. Tentu saja, harganya di bawah Rp50 per saham. Buktinya, harga saham BNBR di pasar negosiasi yang paling murah adalah Rp33 per saham.
"Tidak jauh beda dengan nasib yang menimpa anak usaha BNBR yaitu ENRG, harga saham perusahaan minyak dan gas bumi ini terus merosot 10 persen tiap hari sejak pencabutan suspensi 18 November 2008. kalau kemarin, harganya sempat jatuh 9,2 persen ke posisi Rp79 per saham. Antrean jual mencapai 209,54 juta saham," ujarnya.
Sedangkan, saham-saham anak usaha BNBR lainnya, yaitu PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP), PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) mulai naik. "Saat ini BNBR sudah tidak lagi menguntungkan buat investor," ujarnya.
Dia menilai, para investor berniat terus menjual saham BNBR karena perusahaan ini memiliki utang sangat besar dan belum jelas kapan penyelesaiannya. Sementara asetnya mulai tergerus dalam.
Hingga akhir menjelang penutupan IHSG sesi pertama, kode emiten BNBR tetap stagnan di posisi Rp50 per lembarnya, dengan volume transaksi hanya 100 lot, sedangkan ENRG malah melorot Rp7 atau turun 8,86 persen dan berpotensi auto rejection di posisi Rp72 per lembarnya.