Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Sungai Musi. Siapa yg tak pernah mendengar namanya? Sungai sepanjang 750 km, mengalir jauh dari Bukit Barisan di pedalaman Sumatera hingga bermuara ke Selat Bangka. Pada perjalanannya sungai ini mengalir membelah kota Palembang, kota dengan luas 400,61 km2 & dihuni 1,8 juta penduduk (sensus 2019), jadi dua wilayah: Seberang Ilir di utara, & Seberang Ulu di selatan. Sungai Musi sejak lama sudah jadi nadi perekonomian. Majunya pelabuhan Kerajaan Sriwijaya ditopang Sungai Musi. Dan hingga kini, Sungai Musi tetap dipakai sebagai prasarana perdagangan & transportasi. Suatu hal yg biasa melihat tongkang-tongkang batubara hilir mudik di bawah jembatan Ampera. Pun dermaga pasar 16 pun tak pernah sepi dari para kuli panggul yg dengan lincahnya meniti papan yg lebarnya tidak lebih dari 30 cm sambil memanggul barang-barang yg beratnya buseetttt.
Sejak Jembatan Ampera diresmikan pada 30 September 1965 oleh Letjen Ahmad Yani, praktis roda perekonomian & mobilitas penduduk Seberang Ulu & Seberang Ilir berputar cepat. Penduduk yg selama ini mesti menaiki bahtera kecil untuk menyeberang sungai sekarang tinggal melintasi jembatan. Tambahan info, saat didirikan, jembatan Ampera adalah jembatan terpanjang di Asia Tenggara lho. Bagi warga Seberang Ulu, Jembatan Ampera layaknya mentari terbit, secercah asa bagi mereka untuk mengejar ketertinggalan.
Sebelum dibukanya Jembatan Musi IV pada 3 Januari 2019, Jembatan Ampera beroperasi sendirian melayani hiruk pikuknya kota ini. Jembatan Ampera jadi saksi bisu perkembangan kota ini. Seiring berjalannya waktu, beban berlebih lama-kelamaan jadi makanan sehari-hari. Traffic di atas jembatan sudah hingga pada tahap padat merayap. Macet menunggu waktu. Belum lagi berulang kali kecelakaan tongkang nyenggol atau nabrak pondasi jembatan. Sampai kemudian muncul jargon untung ini buatan Jepang, kalo tidak pasti sudah lama roboh.
Dari situ muncullah pemikiran bahwa dibutuhkan lebih dari satu jembatan untuk menyokong kehidupan kota ini. Dan setelah sekian lama, dibangunlah jembatan Musi IV di timur Ampera, & Musi VI di sebelah baratnya.
Yeeyyy Setelah sekian lama ditunggu akhirnya Jembatan Musi VI dioperasikan 6 Januari 2021 tadi. Sebenarnya jembatan ini sudah diresmikan 30 Desember 2020 lalu, namun ditutup kembali karena masih ada finishing yg harus dikerjakan & untuk mengantisipasi penumpukan massa di malam pergantian tahun.
Jembatan Musi 6 dibangun sejak tahun 2015, memakan biaya total hampir 548 miliar rupiah, yg terbagi: pencairan tahap perdana sebesar 334 miliar, pencairan tahap kedua sebesar 135 miliar, & tahap ketiga sebesar 78 miliar. Jembatan ini awalnya direncanakan selesai pada pelaksanaan Asian Games 2018, namun mundur hingga akhir 2020.
Jembatan Musi VI memiliki panjang 925 meter, lebar 11,5 meter dengan dua ruas jalan & trotoar selebar 1,5 meter. Jembatan dengan rentangan 200 meter ini juga memiliki ruang vertikal 13 meter, sdikit lebih tinggi dibanding Jembatan Ampera (11 meter).
Jembatan ini didesain bukan cuma sebagai penghubung, tetapi juga mengedepankan unsur estetikanya. Dengan lengkungan raksasanya, ditambah 1327 lampu LED yg menghiasinya, jembatan ini sukses mengundang warga Palembang untuk datang. Tanpa mempedulikan terpaan angin sungai yg lumayan kencang, dari sore hingga malam, tak sedikit yg muda-mudi yg datang lalu parkir di atas jembatan. Bahkan beberapa pedagang cukup nekat menjajakan dagangannya hingga ke atas jembatan. Gulali, harum manis, pempek, hingga rokok.
Spoiler for Nite view:
Spoiler for Nite look of Musi VI:
Khusus rokok, sebenarnya saya sudah cukup lama istirahat. Tapi di sana nda sengaja saya liat orang menjajakan Esse. Beberapa kali saya liat iklannya di tv, baru kali ini saya liat bungkusnya langsung. Di situ tertulis cukai Rp27.200,00 untuk Esse honey pop dengan kandungan 15 mg tar & 0,8 mg nikotin. Menariknya, sebungkus ditawarkan Rp24.500,00. Hmm cukup menggoda bukan? Untuk rasa, baru kali ini saya nemuin rokok dengan aroma madu. Dan yg lebih unik, adanya caramel capsule di bagian filternya. Tinggal pilih pencet atau nda. Jeng jeng jeeeng rasanya langsung Dah ah, nanti mala jadi promosi rokok wkwkwk
Jika kemudian ditambah pemandangan sunset, Jembatan Ampera di kejauhan, & bulan yg mulai beranjak naik? Syahdu gansis. Nikmat mana lagi yg kau dustakan, kawan.
Hari ini 19:40
Sejak Jembatan Ampera diresmikan pada 30 September 1965 oleh Letjen Ahmad Yani, praktis roda perekonomian & mobilitas penduduk Seberang Ulu & Seberang Ilir berputar cepat. Penduduk yg selama ini mesti menaiki bahtera kecil untuk menyeberang sungai sekarang tinggal melintasi jembatan. Tambahan info, saat didirikan, jembatan Ampera adalah jembatan terpanjang di Asia Tenggara lho. Bagi warga Seberang Ulu, Jembatan Ampera layaknya mentari terbit, secercah asa bagi mereka untuk mengejar ketertinggalan.
Jembatan Ampera tempo doeloe
Sebelum dibukanya Jembatan Musi IV pada 3 Januari 2019, Jembatan Ampera beroperasi sendirian melayani hiruk pikuknya kota ini. Jembatan Ampera jadi saksi bisu perkembangan kota ini. Seiring berjalannya waktu, beban berlebih lama-kelamaan jadi makanan sehari-hari. Traffic di atas jembatan sudah hingga pada tahap padat merayap. Macet menunggu waktu. Belum lagi berulang kali kecelakaan tongkang nyenggol atau nabrak pondasi jembatan. Sampai kemudian muncul jargon untung ini buatan Jepang, kalo tidak pasti sudah lama roboh.
Dari situ muncullah pemikiran bahwa dibutuhkan lebih dari satu jembatan untuk menyokong kehidupan kota ini. Dan setelah sekian lama, dibangunlah jembatan Musi IV di timur Ampera, & Musi VI di sebelah baratnya.
Jembatan Ampera ditemani Musi IV di barat & Musi VI di timur
Yeeyyy Setelah sekian lama ditunggu akhirnya Jembatan Musi VI dioperasikan 6 Januari 2021 tadi. Sebenarnya jembatan ini sudah diresmikan 30 Desember 2020 lalu, namun ditutup kembali karena masih ada finishing yg harus dikerjakan & untuk mengantisipasi penumpukan massa di malam pergantian tahun.
Jembatan Musi 6 dibangun sejak tahun 2015, memakan biaya total hampir 548 miliar rupiah, yg terbagi: pencairan tahap perdana sebesar 334 miliar, pencairan tahap kedua sebesar 135 miliar, & tahap ketiga sebesar 78 miliar. Jembatan ini awalnya direncanakan selesai pada pelaksanaan Asian Games 2018, namun mundur hingga akhir 2020.
Jembatan Musi VI memiliki panjang 925 meter, lebar 11,5 meter dengan dua ruas jalan & trotoar selebar 1,5 meter. Jembatan dengan rentangan 200 meter ini juga memiliki ruang vertikal 13 meter, sdikit lebih tinggi dibanding Jembatan Ampera (11 meter).
The giant arch: begitu megah, begitu gagah
Jembatan ini didesain bukan cuma sebagai penghubung, tetapi juga mengedepankan unsur estetikanya. Dengan lengkungan raksasanya, ditambah 1327 lampu LED yg menghiasinya, jembatan ini sukses mengundang warga Palembang untuk datang. Tanpa mempedulikan terpaan angin sungai yg lumayan kencang, dari sore hingga malam, tak sedikit yg muda-mudi yg datang lalu parkir di atas jembatan. Bahkan beberapa pedagang cukup nekat menjajakan dagangannya hingga ke atas jembatan. Gulali, harum manis, pempek, hingga rokok.
Spoiler for Nite view:
Spoiler for Nite look of Musi VI:
Khusus rokok, sebenarnya saya sudah cukup lama istirahat. Tapi di sana nda sengaja saya liat orang menjajakan Esse. Beberapa kali saya liat iklannya di tv, baru kali ini saya liat bungkusnya langsung. Di situ tertulis cukai Rp27.200,00 untuk Esse honey pop dengan kandungan 15 mg tar & 0,8 mg nikotin. Menariknya, sebungkus ditawarkan Rp24.500,00. Hmm cukup menggoda bukan? Untuk rasa, baru kali ini saya nemuin rokok dengan aroma madu. Dan yg lebih unik, adanya caramel capsule di bagian filternya. Tinggal pilih pencet atau nda. Jeng jeng jeeeng rasanya langsung Dah ah, nanti mala jadi promosi rokok wkwkwk
Sunset euy!!
Jika kemudian ditambah pemandangan sunset, Jembatan Ampera di kejauhan, & bulan yg mulai beranjak naik? Syahdu gansis. Nikmat mana lagi yg kau dustakan, kawan.
Hari ini 19:40