Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Aktivis Hak Azasi Manusia (HAM) yg juga merupakan Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid mengungkapkan, isu kebangkitan PKI tiap peringatan G-30-S/PKI muncul dari elit-elit politik.
"Baik itu yg berlatar belakang sipil maupun itu militer. Bahkan kalau kita lihat di tahun-tahun awal reformasi, usaha-usaha itu juga mulai kelihatan," ujar Usman Hamid.
Dijelaskan Usman, usaha mereka, para elite politik, tak lain memanfaatkan isu kebangkitan PKI dengan tujuan untuk mendongkrak popularitas dirinya, seperti yg dilakukan Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo.
"Karena dinamika politik pasca Orde Baru itu juga sangat dinamis di dalam kontestasi Pemilu, banyak juga yg memanfaatkan isu anti PKI isu anti komunisme untuk mendongkrak popularitas, termasuk orang seperti Gatot Nurmantyo," terang Usman.
Gatot, menurut Usman, dapat jadi mengpakai isu kebangkitan PKI sebagai alat provokasi. "Bisa saja. Gatot itu, dia memprovokasi Panglima TNI, & KSAD untuk mewajibkan atau menerbitkan perintah untuk nonton bareng film tersebut," ujarnya.
Bahkan, bukan cuma provokasi, pernyataan Gatot yg diketahui sebagai orang militer ini, termasuk polititasi TNI. Padahal, TNI tak semestinya berada di ranah politik praktis.
"Nah, pernyataan itu bukan cuma provokasi tetapi juga politisasi TNI. TNI itu kan alat negara dalam bidang pertahanan, tugasnya adalah menjaga kedaulatan negara. Menjaga integritas teritorial negara, menjaga keselamatan segenap bangsa Indonesia," jelas Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang & Korban Tindak Kekerasan (KontraS) itu.
Penggunaan isu kebangkitan PKI ini, sebut Usman, tak dapat dipungkiri dapat menyudutkan lawan politik dalam sebuah kontestasi demokrasi. Semisal menyebut-nyebut seorang tokoh, pada pemilihan presiden (Pilpres) sebagai orang PKI, eks PKI, atau orang berpaham komunis.
"Dan juga menyudutkan lawan-lawan politik. Dalam Pemilu 2014, itu kelihatan sekali Jokowi terus menerus dipropagandakan sebagai orang PKI, Singapura, Cina, Kristen," terang Usman.
"Jadi usaha-usaha untuk memenangkan satu kontetasi politik juga dilakukan dengan membangun retorika-retorika yg membelah, yg mengadu domba. Anti komunisme, itu cuma satu saja dari retorika yg membelah itu. Selebihnya anti Cina anti Non Muslim atau anti kelompok minoritas lain," terang Usman.
Hari ini 10:36