Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Assalamualaikum wrwb, GanSis.
Bulan November identik dengan adanya peringatan hari pahlawan. Di mana kita mengenang jasa-jasa orang yg sudah mengorbankan jiwa, raga, bahkan darahnya untuk negara Indonesia.
Nah, menurut ane pahlawan itu tidak sering orang terjauh. Bahkan yg serumah dengan kita pun, dapat disebut pahlawan. Ya, pahlawan itu bernama ayah. Lelaki yg tidak pernah kenal letih berkorban untuk sebelas anak & istrinya.
Walau ane tidak jarang berselisih paham dengan pria hampir 70-an tahun ini, tetap saja dialah sayang perdana ane, pria hebat yg sering ane sebut pahlawan keluarga.
Pria yg sangat ane kagumi di dunia ini. Bagaimana tidak, ayah akan mengerjakan apapun juga demi anak-anaknya. Setiap hari sering saja keluar nasehat atau cerita yg penuh hikmah dari lisannya. Walau volume suaranya tinggi, hatinya justru sangat pe-iba. Jika ada orang yg datang ke rumah, lalu bermaksud meminjam uang dengan bercucuran air mata, maka ayah pasti akan mengeruk sakunya. Padahal, dapat jadi uangnya cuma tinggal segitu saja.
Ayah memang bukan cuma pahlawan bagi ane & keluarga saja, tetapi juga bagi beberapa orang sekitar. Bahkan acapkali ayah juga jadi 'wadah' minta pendapat bagi teman, tetangga, bahkan kerabatnya. Kritik & saran ayah sangat disukai orang sekitarnya.
Padahal ayah bukanlah orang yg bertahta atau berharta. Namun, jiwa sosial ayah yg tinggi & sikap ayahlah yg jadi nilai lebih.
Latar belakang ayah yg seorang yatim & diharuskan jadi tulang punggung di masa kanak-kanaklah yg menjadikannya seorang yg sangat berdikari & peduli dengan sesama. Selain itu, ane juga sangat takjub dengan ayah yg sangat pakar berhitung. Hitungan ayah sangat cepat, tanpa mengpakai kalkulator atau coretan kertas. Bahkan lulusan sarjana pun, terkadang kalah cepat dalam menjumlahkan perkalian, pembagian, atau tambah & pengaurangan. Padahal ayah cuma sekolah hingga kelas 4 SD. Ayah memang sosok yg luar biasa.
Berkat didikan ayah, alhamdulilah kami--sebelas bersaudara sering kompak. Tidak pernah ada perselisihan. Saudara yg berlebih, akan menolong saudara yg kekurangan. Bahkan, di kampung, kami dijadikan contoh keluarga teladan, oleh warga sekitar. Ayah jadi orang tua yg berhasil mendidik anak-anaknya, mengatakan mereka. Selain itu, pengaruhnya, keluarga kami sangat disegani oleh orang kampung.
Berkat didikan ayah juga, ane jadi sosok yg mandilu. Tidak manja. Wejangan ayah sering terngiang-ngiang, ketika kami ada perselisihan pendapat. Ane yg keras pun, sering luluh dengan 'tingkah laku' ayah yg luar biasa. Sosok yg terlihat keras di luar, tetapi sangat lembut di dalam.
Sumber narasi : opini pribadi
Sumber gambar : dokumen pribadi