Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Di Untirta dijemur, di Unsil diteriaki & dimaki, di kampus mana lagi yg masih menerapkan sistem pendisiplinan seperti ini ketika ospek?
Sepertinya hal negatif ini sudah jadi kebiasaan para senior yg suka banget "main" ke kampus bila musim ospek berlangsung. Kehadiran yg sangat ditunggu oleh punggawa pengaman mahasiswa baru "maba", yg menjelma jadi regu disiplin.
Lah, bila kita pahami, prosedur organisasi, sistem seniorisasi yg sering eksis ketika musim ospek tiba tentu jadi hal yg absurd. Ketika musim ospek usai, mereka seketika hilang bak ditelan kabut senja. Makin absurd kan?
Jika hal ini masih terus saja terjadi, justru bukan mental membangun yg dapat memberi kesan. Melainkan pesan negatif yg seketika viral di media-media sosial. Nah, yg panik bila sudah viral seperti ini siapa? Seniornya kah? Atau justru panitianya?
Unik memang, dimana yg justru kemudian memberi klarifikasi adalah pihak kampus & panitia. Apalagi kalau sudah terjadi kesalahan, hingga hal fatal.
Kampus jangan disamakan dengan pendidikan militer. Karena memang dua instansi ini memiliki konsep & tujuannya masing-masing. Jika penerapan disiplin dipaksakan sama dengan pendekatan militer, apa bedanya ospek saat ini dengan ospek pada masa penjajahan Jepang?
Yang semua mabanya digunduli & diperlakukan "tidak" manusiawi. Maklum, kala itu memang tujuan Jepang adalah menang perang. Semua harus diselaraskan dengan konsep militeristik yg lebih mengedepankan fisik.
Membangun pencerahan kritis bagi mahasiswa baru adalah yg lebih penting daripada membangkitkan dendam warisan.
Apa memang kita saat ini tengah teribat dalam Perang Asia Timur Raya seperti pada masa Jepang?
Ingat, peristiwa PETA di Blitar terjadi karena sikap kesewenang-wenangan para opsir Jepang lho...
Terlebih lagi bila pendekatan berbasis humanitas kini sudah mulai populer di kalangan kelompok intelektual. Konsep ospek yg memanusiakan manusia justru akan lebih positif diterima dengan tetap mengedepankan unsur edukasi.
Dan bukan mengedepankan unsur kekerasan fisik atau verbalisik.
Semoga bermanfaat. Kemarin 18:46
Sepertinya hal negatif ini sudah jadi kebiasaan para senior yg suka banget "main" ke kampus bila musim ospek berlangsung. Kehadiran yg sangat ditunggu oleh punggawa pengaman mahasiswa baru "maba", yg menjelma jadi regu disiplin.
Lah, bila kita pahami, prosedur organisasi, sistem seniorisasi yg sering eksis ketika musim ospek tiba tentu jadi hal yg absurd. Ketika musim ospek usai, mereka seketika hilang bak ditelan kabut senja. Makin absurd kan?
Jika hal ini masih terus saja terjadi, justru bukan mental membangun yg dapat memberi kesan. Melainkan pesan negatif yg seketika viral di media-media sosial. Nah, yg panik bila sudah viral seperti ini siapa? Seniornya kah? Atau justru panitianya?
Unik memang, dimana yg justru kemudian memberi klarifikasi adalah pihak kampus & panitia. Apalagi kalau sudah terjadi kesalahan, hingga hal fatal.
Kampus jangan disamakan dengan pendidikan militer. Karena memang dua instansi ini memiliki konsep & tujuannya masing-masing. Jika penerapan disiplin dipaksakan sama dengan pendekatan militer, apa bedanya ospek saat ini dengan ospek pada masa penjajahan Jepang?
Yang semua mabanya digunduli & diperlakukan "tidak" manusiawi. Maklum, kala itu memang tujuan Jepang adalah menang perang. Semua harus diselaraskan dengan konsep militeristik yg lebih mengedepankan fisik.
Membangun pencerahan kritis bagi mahasiswa baru adalah yg lebih penting daripada membangkitkan dendam warisan.
Apa memang kita saat ini tengah teribat dalam Perang Asia Timur Raya seperti pada masa Jepang?
Ingat, peristiwa PETA di Blitar terjadi karena sikap kesewenang-wenangan para opsir Jepang lho...
Terlebih lagi bila pendekatan berbasis humanitas kini sudah mulai populer di kalangan kelompok intelektual. Konsep ospek yg memanusiakan manusia justru akan lebih positif diterima dengan tetap mengedepankan unsur edukasi.
Dan bukan mengedepankan unsur kekerasan fisik atau verbalisik.
Semoga bermanfaat. Kemarin 18:46