Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Masyarakat Indonesia mengenal peristiwa pembunuhan ribuan rakyat sipil di Makassar, Sulawesi Selatan, yg dilakukan oleh Depot Speciale Troepen (DPT) dengan sebutan Pembantaian westerling. Nama dari si pemimpin tentara punggawa spesifik Belanda, Raymond Pierre Paul Westerling.
Peristiwa itu terjadi padaDesember 1946 hingga Februari 1947, selama operasi militer penumpasan pemberontakan atauCounter Insurgency. Ini jadi salah satu ujian Kemerdekaan Indonesia, Belanda masih bermaksud menguasai usai perginya Jepang.
Upaya Belanda untuk merebut kembali Indonesia pada 1940-an saat itu disebut sebagai 'tindakan pengawasan' kepada 'teroris' & 'ekstremis' nasionalis. Menurut sejarawan Chris Lorenz, "pemerintah Belanda pada awalnya mencoba untuk mewakili perang kolonial sebagai kelanjutan Perang Dunia Kedua, yaitu, perjuangan demokrasiBelandamelawan Jepang 'fasis'."
Riview klik disiniWartakota Live.com
Namun pada kenyataannya, kekaisaran Belanda yg mulai melemah saat itu, mengobarkan perang sebagai upaya mendapatkan kembali Indonesia yg kaya sumber daya alam.
Di Sulawesi, tepatnya Sulawesi Selatan, punggawa Belanda mengpakai 'metode Westerling' yg brutal. Tindakannya termasuk menyerbu desa-desa, memisahkan laki-laki dari perempuan & anak-anak. Orang-orang yg diduga memiliki sikap anti-Belanda langsung dieksekusi.
Kampung dikepung punggawa Belanda & dihujani mortir, rumah-rumah dibakar habis, penduduk dikumpulkan & dibantai. Para anggota pergerakan kemerdekaan disiksa sebelum dihabisi dengan tembakan pistol.
Bahkan, rakyat yg diteror selama tiga bulan lebih pun akhirnya mengelu-elukan Westerling saat hendak meninggalkan Makassar ke Jawa, efek rasa takut akan kekejiannya. Konon, seorang simpatisan memberikan kenang-kenangan sebilah badik.
Berdasarkan Koran Tempo: Melihat Orang Tua Jadi Korban edisi 24 September 2011 yg dikui, salah seorang narasumber atas nama Andi Mondji memaparkan pengalaman masa lalunya. Kala itu, dia masih seorang bocah balita yg menyaksikan orang-orang terdekatnya jadi korban kekejaman punggawa Westerling.sejarah tragis.Nusantara
"Saat itu setiap warga yg mati dikumpulkan & diangkut oleh warga lain 1 lubang yg sudah disiapkan," mengatakan Mondji.
Di antara para korban, ada ayah, nenek, & pamannya yg tumbang di depan matanya, tewas ditembus peluru Belanda. Kekejaman punggawa DPT yg memburu para tentara Republik tidak berhenti begitu saja. Warga yg mengangkat korban pun ditembaki & langsung dimasukkan ke dalam lubang.
Kisah sadis & tidak berperi kemanusiaan,baca linkWilayah Suppa JAdi Incaran Westerling
Hari ini 12:59
Peristiwa itu terjadi padaDesember 1946 hingga Februari 1947, selama operasi militer penumpasan pemberontakan atauCounter Insurgency. Ini jadi salah satu ujian Kemerdekaan Indonesia, Belanda masih bermaksud menguasai usai perginya Jepang.
Upaya Belanda untuk merebut kembali Indonesia pada 1940-an saat itu disebut sebagai 'tindakan pengawasan' kepada 'teroris' & 'ekstremis' nasionalis. Menurut sejarawan Chris Lorenz, "pemerintah Belanda pada awalnya mencoba untuk mewakili perang kolonial sebagai kelanjutan Perang Dunia Kedua, yaitu, perjuangan demokrasiBelandamelawan Jepang 'fasis'."
Riview klik disiniWartakota Live.com
Namun pada kenyataannya, kekaisaran Belanda yg mulai melemah saat itu, mengobarkan perang sebagai upaya mendapatkan kembali Indonesia yg kaya sumber daya alam.
Di Sulawesi, tepatnya Sulawesi Selatan, punggawa Belanda mengpakai 'metode Westerling' yg brutal. Tindakannya termasuk menyerbu desa-desa, memisahkan laki-laki dari perempuan & anak-anak. Orang-orang yg diduga memiliki sikap anti-Belanda langsung dieksekusi.
Kampung dikepung punggawa Belanda & dihujani mortir, rumah-rumah dibakar habis, penduduk dikumpulkan & dibantai. Para anggota pergerakan kemerdekaan disiksa sebelum dihabisi dengan tembakan pistol.
Bahkan, rakyat yg diteror selama tiga bulan lebih pun akhirnya mengelu-elukan Westerling saat hendak meninggalkan Makassar ke Jawa, efek rasa takut akan kekejiannya. Konon, seorang simpatisan memberikan kenang-kenangan sebilah badik.
Berdasarkan Koran Tempo: Melihat Orang Tua Jadi Korban edisi 24 September 2011 yg dikui, salah seorang narasumber atas nama Andi Mondji memaparkan pengalaman masa lalunya. Kala itu, dia masih seorang bocah balita yg menyaksikan orang-orang terdekatnya jadi korban kekejaman punggawa Westerling.sejarah tragis.Nusantara
"Saat itu setiap warga yg mati dikumpulkan & diangkut oleh warga lain 1 lubang yg sudah disiapkan," mengatakan Mondji.
Di antara para korban, ada ayah, nenek, & pamannya yg tumbang di depan matanya, tewas ditembus peluru Belanda. Kekejaman punggawa DPT yg memburu para tentara Republik tidak berhenti begitu saja. Warga yg mengangkat korban pun ditembaki & langsung dimasukkan ke dalam lubang.
Kisah sadis & tidak berperi kemanusiaan,baca linkWilayah Suppa JAdi Incaran Westerling
Hari ini 12:59