yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
SURABAYA – Jual beli sistem online tidak hanya merambah pada sektor barang dan jasa, tapi juga kian familiar di pasar bursa. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Surabaya menunjukkan, sekitar 90% perdagangan saham sudah menggunakan sistem online atau online trading.
Kepala Unit Informasi dan Pemasaran Bursa Efek Indonesia (BEI) Surabaya Nur Harjantie mengatakan, tingginya penggunaan layanin transaksi saham secara online tidak lepas dari makin banyaknya perusahaan sekuritas yang menyediakan layanin tersebut. ”Online trading ini sudah menjadi kebutuhan. Sebab,akan memudahkan investor dalam bertransaksi, kapanpun dan dimanapun,” ujarnya.
Tingginya online trading ini juga karena biaya untuk bertransaksi lebih murah. Sebab, pelaku saham harus menghubungi brokernya melalui telepon terkait perkembangan indeks saham dari perusahaan tertentu. Meningkatnya penggunaan teknologi informasi di kalangan investor pasar saham memunculkan penilaian bahwa perusahaan yang tidak menyediakan layanin itu dianggap tidak maju dan gagap teknologi. “Jika ada perusahaan yang hendak menerapkan online trading ini, harus mempersiapkan sistemnya terlebih dahulu. Sistem itu nantinya akan diuji dengan sistem di bursa efek,”katanya.
BEI Surabaya mencatat, transaksi investor di pasar modal di Jawa Timur (Jatim) hingga semester I 2012 mencapai Rp21,2 triliun. Jumlah ini naik sekitar Rp6 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu hanya tercatat Rp15 triliun. Sedangkan untuk jumlah pemilik rekening efek,kendati tidak mengalami kenaikan yang signifikan,namun secara perlahan terus bertambah. Pada Desember 2011, total pemilik rekening efek tercatat 37.000 investor.
Hingga semester I 2012, penambahan rekening efek di Jatim mencapai 900-an. Naik dibanding periode yang sama tahun lalu sebanyak 816 rekening efek. Pencatatan nilai transaksi tersebut tidak bisa mewakili keseluruhan investor. Sebab, perusahaan sekuritas yang melaporkan ke otoritas bursa baru 52% dari 44 perusahaan efek yang beroperasi di Jatim.
Memang tidak ada kewajiban bagi perusahaan sekuritas untuk melaporkan transaksi nasabahnya. “Sejauh ini kami akui cukup kesulitan untuk memantau transaksi.Namun, dengan adanya kenaikan transaksi tersebut mencerminkan adanya frekuensi trading yang aktif,”kata Nunung.
Sementara itu, penggunaan layanin online trading juga telah diterapkan PT MNC Securities. Transaksi saham via online ini sudah mulai diperkenalkan sejak 2010. Saat ini jumlah nasabah ritel MNC Securities sudah mencapai 4.000 lebih. Sedangkan untuk nasabah institusi sebanyak 100. Dari total transaksi di MNC Securities, sebagian nasabah sudah bertransaksi via online.
”Untuk jenis saham, perbankan masih menduduki peringkat pertama.Disusul dengan saham pertambangan dan jugasaham dari grup-grup MNC,” ujarPresidentDirectorPT MNC Securities,Wito Mailoa.
Kepala Unit Informasi dan Pemasaran Bursa Efek Indonesia (BEI) Surabaya Nur Harjantie mengatakan, tingginya penggunaan layanin transaksi saham secara online tidak lepas dari makin banyaknya perusahaan sekuritas yang menyediakan layanin tersebut. ”Online trading ini sudah menjadi kebutuhan. Sebab,akan memudahkan investor dalam bertransaksi, kapanpun dan dimanapun,” ujarnya.
Tingginya online trading ini juga karena biaya untuk bertransaksi lebih murah. Sebab, pelaku saham harus menghubungi brokernya melalui telepon terkait perkembangan indeks saham dari perusahaan tertentu. Meningkatnya penggunaan teknologi informasi di kalangan investor pasar saham memunculkan penilaian bahwa perusahaan yang tidak menyediakan layanin itu dianggap tidak maju dan gagap teknologi. “Jika ada perusahaan yang hendak menerapkan online trading ini, harus mempersiapkan sistemnya terlebih dahulu. Sistem itu nantinya akan diuji dengan sistem di bursa efek,”katanya.
BEI Surabaya mencatat, transaksi investor di pasar modal di Jawa Timur (Jatim) hingga semester I 2012 mencapai Rp21,2 triliun. Jumlah ini naik sekitar Rp6 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu hanya tercatat Rp15 triliun. Sedangkan untuk jumlah pemilik rekening efek,kendati tidak mengalami kenaikan yang signifikan,namun secara perlahan terus bertambah. Pada Desember 2011, total pemilik rekening efek tercatat 37.000 investor.
Hingga semester I 2012, penambahan rekening efek di Jatim mencapai 900-an. Naik dibanding periode yang sama tahun lalu sebanyak 816 rekening efek. Pencatatan nilai transaksi tersebut tidak bisa mewakili keseluruhan investor. Sebab, perusahaan sekuritas yang melaporkan ke otoritas bursa baru 52% dari 44 perusahaan efek yang beroperasi di Jatim.
Memang tidak ada kewajiban bagi perusahaan sekuritas untuk melaporkan transaksi nasabahnya. “Sejauh ini kami akui cukup kesulitan untuk memantau transaksi.Namun, dengan adanya kenaikan transaksi tersebut mencerminkan adanya frekuensi trading yang aktif,”kata Nunung.
Sementara itu, penggunaan layanin online trading juga telah diterapkan PT MNC Securities. Transaksi saham via online ini sudah mulai diperkenalkan sejak 2010. Saat ini jumlah nasabah ritel MNC Securities sudah mencapai 4.000 lebih. Sedangkan untuk nasabah institusi sebanyak 100. Dari total transaksi di MNC Securities, sebagian nasabah sudah bertransaksi via online.
”Untuk jenis saham, perbankan masih menduduki peringkat pertama.Disusul dengan saham pertambangan dan jugasaham dari grup-grup MNC,” ujarPresidentDirectorPT MNC Securities,Wito Mailoa.