Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
|
Gambar : Sindonews |
"Melindungi data pribadi kita yg sudah tersebar di internet itu omong kosong!"
Kalimat di atas sering saya lontarkan di tongkrongan atau sekadar di dialog santai dengan teman ketika sudah bicara mengenai privasi data kita, yg sudah hidup di dunia digital, kemudian terjebak ekosistem digital, & apesnya, hidup jadi warga di bawah proteksi UU di Indonesia, yg perlindungannya "ekhemm.." seperti itulah.
Gak usah jauh-jauh, banyak dari kita bahkan menjadikan data pribadi untuk dimonetisasi, ada yg langsung, ada yg gak secara langsung juga. Di Media sosial misalnya, jadi sebuah etalase raksasa yg mengumbar bukan cuma data pribadi, tetapi juga pemikiran pribadi bahkan preferensi pribadi. Tubuh, bahkan otentikasi paras kita sudah bukan sepenuhnya milik kita lagi. Algoritma Face Recognition mengumpulkan secara gratis data keunikan di setiap paras kita. Itulah kenapa ketika kita ada di foto seseorang, maka media sosial seperti Facebook akan mengenali bahwa itu adalah kita. Belum lagi data yg lebih advance seperti retina mata & suara kita, pastinya di "mining" juga dong oleh mereka, iyalah masa enggak?
Dan lihat sekeliling kita, siapa yg nggak punya media sosial? Kalaupun iya, apa dia nggak pernah diajak foto, video atau collab dengan temannya yg diunggah di media sosial? Kalaupun ada yg kayak gitu, rasanya data dia juga belum aman-aman banget. Tengok juga apa dia sudah memakai smartphone? Kalaupun masih pakai HP jadul, apa di rumah itu nggak ada smartphone sama sekali?
Inti dari pertanyaan di atas adalah bahwa algoritma tetap mempunyai seribu jalan untuk mengumpulkan data kita, jadi alasanmu nggak mau buka akun media sosial karena takut datanya dicuri itu alasan klasik banget, rasanya sulit untuk keeping semua data yg kita punya, gak perlu jadi paranoid akan data pribadi, tetapi menjaga privasi data adalah hal penting yg tetap harus kita lakukan, yg terbaik adalah filtering, layer mana yg dapat dibagikan untuk umum, lalu mana yg cuma diketahui ring 1 saja.
Karena sekuat-kuatnya kita menggenggam data pribadi, ujung-ujungnya bocor bukan karena kita, tetapi karena sisi eksternal. Provider misalnya, atau aplikasi, atau bahkan lembaga pemerintah di mana data lengkap kita ada di sana. Sekarang coba saya tanya, siapa sih di antara kita yg gak punya akun Bukalapak & Tokopedia? Oke masih ada yg gak punya, sekarang saya tanya 1 lagi, siapa dari kita yg datanya gak ada di POLRI & KPU? Oke masih ada, anak di bawah umur misalnya. Pertanyaan terakhir, siapa yg datanya tidak ada di BPJS?
Perlu dicatat bahwa yg saya sebutkan di atas datanya sudah bocor ke mana-mana, jadi percuma anda gak punya medsos demi melindungi data kalau akhirnya datamu bocor dari sisi lain. Belum lagi banyaknya situs & aplikasi #DigitalDigitalTaiKucing yg mengumpulkan data pengguna seenak udelnya sendiri.
Oh ya, pernah masuk gedung & KTP kita harus ditinggal diganti dengan Access Card? kalau iya, siapa yg dapat menjamin kalau KTP kita tidak diduplikat, dipindai, atau disalin datanya?
Kalau suka dengan artikel ini silakan kunjungi situs Cangkeman untuk membaca artikel terbarunya setiap hari di www.cangkeman.net Hari ini 12:04