• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Internasional Omicron datang, jangan panik tapi waspada selalu

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Diggie
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Diggie

IndoForum Activist C
No. Urut
287751
Sejak
6 Apr 2020
Pesan
13.862
Nilai reaksi
1
Poin
0
Berikut adalah berita Omicron datang, jangan panik tapi waspada selalu.

Omicron datang, jangan panik tetapi waspada selalu


Bahan kimia yg mengukur jumlah DNA virus SARS-CoV-2 sebelum sekuensing terlihat di Penn Center for Research on Coronavirus and Other Emerging Pathogens di Fakultas Kesehatan, Universitas Pennsylvania di Philadelphia, Pennsylvania, AS, 16 Desember 2021. (REUTERS/HANNAH BEIER)

Jakarta (ANTARA) - Sebagian pendukung klub Liga Inggris mungkin kecewa karena tak dapat menyaksikan regu mereka bertanding pekan ini akibat jadwal dimundurkan setelah pemain lintas klub dijangkiti COVID-19 yg sepertinya dari varian baru Omicron.

Bukan karena semua anggota skuad dalam klub-klub itu terpapar COVID-19, tetapi mereka ada dalam klaster yg beberapa di antaranya terpapar virus penyebab penyakit COVID-19 yg amat menular tersebut sehingga harus menjalani isolasi yg tak dapat ditawar-tawar di Inggris.

Apa yg terjadi di Liga Inggris adalah satu dari sekian akibat langsung Omicron kepada banyak aspek kehidupan di mana-mana, termasuk Inggris yg tak harap mengulangi malapetaka awal pandemi ketika puluhan ribu nyawa manusia direnggut COVID-19.

Baca juga: Empat pertandingan Liga Inggris lagi ditunda karena lonjakan Covid-19Baca juga: COVID menciptakan Liga Inggris di ujung tanduk, mengatakan Eddie Howe

Omicron memang menciptakan cemas di mana-mana, apalagi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa varian ini menyebar dalam tingkat yg tak pernah terlihat sebelum ini.

Sekretaris Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut paling sedikit 77 negara sudah terserang varian ini & mungkin lebih banyak lagi karena banyak negara yg belum mendeteksi varian ini. Indonesia baru menemukannya 16 Desember lalu.

Omicron disebut-sebut 25 hingga 50 persen lebih menular ketimbang varian Delta, sedangkan Delta sendiri 50 persen lebih menular daripada varian Alfa yg ini pun 50 persen lebih menular dibandingkan virus awal SARS-CoV-2.

Bahkan Omicron dapat menginfeksi orang yg sudah divaksinasi & mereka yg sebelumnya pernah terjangkit COVID-19.

Baca juga: Efikasi vaksin Sputnik V plus "booster" capai 80 persen lawan Omicron

Para pakar menyebutkan Omicron memperlihatkan 30 mutasi pada bagian protein lonjakan yg menutupi bagian luar virus ini yg jadi target utama vaksin serta pengobatan seperti terapi antibodi monoklonal di mana protein yg dibuat laboratorium untuk mengikuti sistem kekebalan tubuh dipakai guna melawan antigen berbahaya.

Lalu, apakah varian baru ini lebih mematikan dibandingkan dengan varian-varian sebelumnya? Bukti-bukti menunjukkan hal sebaliknya.

Analisis akbar perdana yg dirilis Desember ini memperlihatkan bahwa dari kasus-kasus perdana varian ini yg terjadi di Afrika Selatan, varian ini terlihat tak mematikan seperti varian Delta. Gejalanya pun ringan saja.

Jumlah yg dirawat di rumah sakit di Afrika Selatan pun cuma 29 persen dari jumlah pasien yg dirawat akibat varian Delta.


Petunjuk akhir pandemi?

Meskipun demikian, para pakar menyatakan terlalu dini menyimpulkan varian ini tidak ganas karena beberapa akbar kasus di Afrika Selatan terjadi pada kalangan muda usia. Lain ceritanya seandainya varian ini menyerang kelompok rentan seperti manula & mereka yg komorbid.

Data Afrika Selatan itu sendiri sejalan dengan temuan Pusat Pengendalian & Pencegahan Penyakit (CDC) di Amerika Serikat yg memastikan kebanyakan kasus perdana Omicron di negeri ini juga menunjukkan gejala ringan.

Karena belum jelas benar, para ilmuwan hingga detik ini terus bekerja keras mengetahui daya tular, tingkat keparahan & kemampuan varian ini dalam menghindari vaksin.

Tapi konsensus sementara dari berbagai laporan awal menyebutkan gejalanya ringan & ini membersitkan asa bahwa Omicron tidak mematikan seperti varian-varian sebelumnya.

Baca juga: BRIN: Waspadai Omicron dengan disiplin prokes & vaksinasi

Namun sejumlah pakar seperti spesialis penyakit menular Muge Evik dari Universitas St Andrews di Inggris, menilai anggapan itu terlalu dini karena ditarik dari data yg belum lengkap, apalagi kebanyakan yg tertular di Afrika Selatan adalah kaum muda yg lebih tahan dari COVID-19 ketimbang manula atau kalangan komorbid.

Muge Evik justru mengkhawatirkan skenario ketika varian ini menulari kelompok rentan yg merupakan kelompok yg paling banyak terenggut nyawanya oleh COVID-19.

"Saya kira pertanyaan seputar tingkat keparahan akan jadi salah satu bagian terakhir yg baru dapat kita uraikan,” mengatakan Muge Evik dalam jurnal Nature. "Ini pula yg terjadi pada Delta."

Tetap saja, data yg terlihat di Afrika Selatan & sejumlah negara seperti Inggris & AS, menunjukkan konsistensi bahwa varian ini tak begitu berbahaya meski memang jauh lebih menular.

Sementara itu sejumlah produsen vaksin COVID-19 mengklaim bahwa vaksin mereka efektif melawan Omicron.

Rangkaian informasi yg dianggap prematur oleh beberapa kalangan tersebut menciptakan sejumlah pihak beranggapan bahwa varian yg tidak lagi mematikan adalah petunjuk mengenai kemungkinan segera berakhirnya pandemi.

Salah satu di antaranya adalah koran bisnis terkemuka Wall Street Journal yg menyebut 'mutasi memang terdengar mengerikan, tetapi mutasi dapat menciptakan patogen jadi kurang begitu berbahaya."


Jadikan gaya hidup

Banyak yg berharap Omicron jadi petunjuk untuk kian dekatnya babak akhir pandemi COVID-19 yg sudah hampir dua tahun melanda dunia.

Tetapi kebanyakan pandemi memang baru musnah dua setengah tahun atau tiga setengah tahun setelah mengharu biru dunia. Sejak pandemi flu Spanyol 1918 hingga pandemi flu babi 2009, patogen-patogen melewati kurun masa seperti itu.

Virus penyebab pandemi biasanya akan terus bermutasi untuk kemudian jadi endemik yg lebih mudah dikelola & tak lagi mengganggu kehidupan sehari-hari. Ini pula yg terjadi pada strain influenza yg menyebabkan pandemi flu 1918.

Para virolog berharap SARS-CoV-2 pun akan seperti flu Spanyol, sambil menunjuk kecenderungan berkurangnya tingkat keberbahayaan virus corona yg dapat terjadi karena vaksin, obat-obatan yg lebih mudah didapatkan, kekebalan tubuh mereka yg pernah tertular, & tentunya protokol kesehatan.

Technical Head COVID WHO Maria Van Kerkhove sendiri menyebut 2022 sebagai tahun di mana pandemi COVID-19 pupus secara global.

Sedangkan penelitian yg dibuat Mckinsey menyatakan COVID segera diumumkan sebagai non pandemi tahun depan. Alasannya, tahun depan tingkat vaksinasi global akan membesar & obat anti-COVID sudah tersebar luas sehingga mudah didapatkan.

Baca juga: Pakar: Lacak & uji masif COVID-19 dalam hadapi kasus perdana Omicron

Namun demikian, sedia payung sebelum hujan dengan loyal kepada protokol kesehatan adalah tetap yg terbaik.

Negara-negara seperti Australia, Selandia Baru, Vietnam, Korea Selatan & Jepang dapat menekan kasus COVID-19 serendah-rendahnya di antaranya karena loyal kepada protokol kesehatan yg bahkan sudah jadi gaya hidup jauh sebelum pandemi melanda.

Dalam beberapa hal, masyarakat Indonesia juga sudah akrab dengan beberapa unsur protokol kesehatan karena sudah jadi bagian kearifan lokal & bahkan dianjurkan semua keyakinan yg memang memuliakan hidup sehat.

Di antara yg dapat disebut adalah kebiasaan lama mencuci tangan sebelum makan & menutup mulut saat bersin. Ini ternyata bukan semata etiket, tetapi juga bentuk tanggung jawab kepada orang lain supaya tak kecipratan percikan bersin.

Kebiasaan baik yg terbukti merupakan pencegahan efektif dalam menangkal COVID-19 itu mesti berlanjut, bahkan jadi gaya hidup supaya orang peduli & waspada penyakit tanpa khawatir beraktivitas walau pandemi mengintai.

Berita diatas dikutip dari internet, jika Omicron datang, jangan panik tapi waspada selalu adalah spam, mohon beritahu kami.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.