Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Cemas menghadapi keadaan yg tak pasti saat menghadapi pandemi Covid-19? Tenang. Kecemasan merupakan hal yg wajar dialami oleh seseorang, khususnya lansia saat menghadapi keadaan yg tidak pasti, seperti saat ini.
"Kebanyakan orang yg terpapar informasi terkait pandemi virus Corona itu cemas, bahkan beberapa orang lebih 'galak' kepada diri sendiri bahwa saya nggak cemas," mengatakan Dewan PembinaKesehatan Mental Indonesia, Adang Adha kepadageriatri.id.
Padahal, mengatakan Adang, cemas adalah hal yg sehat. "Ya saya takut, saya cemas, apa efeknya pada badan saya kalau saya cemas?" mengatakan Adang. Hal-hal tersebut, mengatakan dia, wajar dialami oleh seseorang, termasuk lansia saat menghadapi hal-hal yg di luar kendalinya. "Takut adalah hal yg normal, jangan terlalu keras pada diri sendiri," tambahnya.
Hanya saja yg harus dilakukan adalah mengelola kecemasan supaya tidak terlalu menguasai emosi kita. Adang mengatakan, ada beberapa teknik supaya emosi kita dapat terkontrol & tidak lebih cemas.
"Beberapa orang pakai mindfulness. Tetapi kalau pakai dari sudut pandang orang yg taat beragama, mindfulness itu dapat kita lakukan ketika beribadah atau sholat," ujarnya.
Mindfulnessnya ketika kita sholat, mengatakan Adang, usahakan sholatnya khusyu. "Ketika mengerjakan kegiatan yg ada di rumah, lakukan sepenuh hati. Apabila muncul lagi pikiran, tekniknya ambil nafas panjang tiga kali, saya terima pikiran cemas ini & saya biarkan pikiran cemas ini, saya terima & saya lepaskan lagi," jelasnya.
Teknik berikutnya adalah kontak sosial. "Yang khususnya kontak sosial dengan keluarga inti kita di rumah. Ada teman bilang kalau suaminya sejak ada pandemi virus Corona kerja di rumah, malah lebih sering ngelihat layar hp-nya ketimbang ngelhiat istrinya. Nggak tahu kalau istrinya lagi cemas juga," mengatakan Adang.
Karena itu, di tengah situasiseperti ini Adang justru menyarankan supaya lebih banyak mengerjakan kontak sosial dengan keluarga. "Coba benar-benar mindfulness ketika sedang ngobrol dengan pasangan & anak-anak, atau ketika bermain, daripada sibuk berfoto & posting di sosial media, yg kita jadi sibuk jawab-jawab komentar," ujarnya.
Virus Corona, mengatakan Adang, adalah bagian dari perjalanan hidup kita yg sudah digariskan oleh Tuhan. "Yang perlu kita maknai bahwa ini adalah sebuah kesempatan bagi kita untuk berbuat lebih baik lagi. Kalau dengan keluarga inti kita jadi orang yg lebih baik, kita nanti lulus dari ujian & dapat jadi orang yg lebih baik lagi," pungkasnya.
"Kebanyakan orang yg terpapar informasi terkait pandemi virus Corona itu cemas, bahkan beberapa orang lebih 'galak' kepada diri sendiri bahwa saya nggak cemas," mengatakan Dewan PembinaKesehatan Mental Indonesia, Adang Adha kepadageriatri.id.
Padahal, mengatakan Adang, cemas adalah hal yg sehat. "Ya saya takut, saya cemas, apa efeknya pada badan saya kalau saya cemas?" mengatakan Adang. Hal-hal tersebut, mengatakan dia, wajar dialami oleh seseorang, termasuk lansia saat menghadapi hal-hal yg di luar kendalinya. "Takut adalah hal yg normal, jangan terlalu keras pada diri sendiri," tambahnya.
Hanya saja yg harus dilakukan adalah mengelola kecemasan supaya tidak terlalu menguasai emosi kita. Adang mengatakan, ada beberapa teknik supaya emosi kita dapat terkontrol & tidak lebih cemas.
"Beberapa orang pakai mindfulness. Tetapi kalau pakai dari sudut pandang orang yg taat beragama, mindfulness itu dapat kita lakukan ketika beribadah atau sholat," ujarnya.
Mindfulnessnya ketika kita sholat, mengatakan Adang, usahakan sholatnya khusyu. "Ketika mengerjakan kegiatan yg ada di rumah, lakukan sepenuh hati. Apabila muncul lagi pikiran, tekniknya ambil nafas panjang tiga kali, saya terima pikiran cemas ini & saya biarkan pikiran cemas ini, saya terima & saya lepaskan lagi," jelasnya.
Teknik berikutnya adalah kontak sosial. "Yang khususnya kontak sosial dengan keluarga inti kita di rumah. Ada teman bilang kalau suaminya sejak ada pandemi virus Corona kerja di rumah, malah lebih sering ngelihat layar hp-nya ketimbang ngelhiat istrinya. Nggak tahu kalau istrinya lagi cemas juga," mengatakan Adang.
Karena itu, di tengah situasiseperti ini Adang justru menyarankan supaya lebih banyak mengerjakan kontak sosial dengan keluarga. "Coba benar-benar mindfulness ketika sedang ngobrol dengan pasangan & anak-anak, atau ketika bermain, daripada sibuk berfoto & posting di sosial media, yg kita jadi sibuk jawab-jawab komentar," ujarnya.
Virus Corona, mengatakan Adang, adalah bagian dari perjalanan hidup kita yg sudah digariskan oleh Tuhan. "Yang perlu kita maknai bahwa ini adalah sebuah kesempatan bagi kita untuk berbuat lebih baik lagi. Kalau dengan keluarga inti kita jadi orang yg lebih baik, kita nanti lulus dari ujian & dapat jadi orang yg lebih baik lagi," pungkasnya.
Hari ini 18:21