Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Baru-baru ini, jagat Twitter di Indonesia diramaikan dengan istilah akal-akalan orang Jakarta. Lalu, apa sih sebenarnya yg mendasari warganet luar Jakarta menyebutnya sebagai akal-akalan orang Jakarta? Yuk, kita kulik lebih jauh lagi mengenai istilah ini!
1. Awal Mula Istilah Akal-akalan Orang Jakarta
Sumber : twitter.com/@closertog0d
Sumber : twitter.com/@closertog0d
Sebenarnya, tidak ada diskusi akademik yg pernah mengangkat isu ini. Awalnya saja berawal dari salah satu platformterkenal di dunia, Twitter. Di sini, orang bebas mengemukakan pendapatnya secara terang-terangan lewat cuitan tanpa mengenal latar belakang si penulis.
Salah satunya adalah akun dengan nama pengguna @closertog0d yg mengungkapkan keluhannya mengenai adanya standar sosial orang lain dalam berkehidupan bermasyarakat. Masalah keluarga, finansial, persayangan, & lainnya kerap kali jadi perbincangan, bahkan di antaranya menjadikannya tolok ukur kebahagiaan. Tolok ukur tersebut kerap kali disesuaikan dengan kehidupan perkotaan yg serba dinamis & menuntut segalanya supaya terlihat sempurna. Salah satu kota yg jadi standarnya adalah Jakarta. Seperti halnya kota Moskow dengan kota lainnya di Rusia, barangkali dapat dilihat adanya kesenjangan yg signifikan, baik dalam pola pikir, status sosial, & tentu saja, kondisi finansial.
2. Globalisasi Indonesia yg Tersentralisasi
Di tengah maraknya globalisasi di Indonesia, kita dapat mengetahui awalnya hal-hal yg berbau western datangnya dari Jakarta, entah berupa smartphone model terbaru, musik, maupun tren fashion terkini. Belum lagi dengan perusahaan-perusahaan akbar yg kantor pusatnya berada di Jakarta kian memperparah sentralisasi tersebut.
Namun, daerah satelit yg mengelilharapya (Bodetabek) masih terdapat kesenjangan, baik dari segi infrastruktur, fasilitas sosial, maupun ruang publik. Padahal, beberapa akbar tenaga kerja yg mengisi kantor-kantor di bilangan SCBD diisi oleh orang luar Jakarta. Dengan begitu, timbul pula kesenjangan sosial luar biasa di dalamnya. Seperti halnya pada berita-berita berikut.
127 Desa di Pandeglang Masih Berstatus Tertinggal (detik.com)
Problem Jalur Parung Panjang yg Tak Kunjung Selesai: Truk Parkir di Bahu Jalan, Kemacetan hingga Paparan Debu Halaman all - Kompas.com
Depok, Desa yg Gagal Menjadi Kota - Tirto.ID
Bapak-bapak di Bekasi Usir Jemaah Karena Pakai Masker, Klaimnya Perlu Diluruskan! | Asumsi
Begitulah masalah kesenjangan yg masih berfokus pada wilayah sekitar Jakarta saja, belum membahas daerah lainnya di Pulau Jawa, apalagi di luar Pulau Jawa itu sendiri.
3. Kacamata Pendatang Jakarta
Ketika pendatang Jakarta berusaha untuk mengadaptasi kondisi finansial & gaya hidup di tengah mahalnya biaya hidup, mungkin terbesit pikiran seperti ini :
Quote:
Paling enak kerja remote. Gaji Jakarta rumah di Jogja.
Paling enak tinggal di Jakarta, ongkir murah barang cepet nyampenya.
Kapan lagi dapat nyemil cantik di UNION!
AYCE yg lagi promo di mana lagi ya?
Normalise Javanese says Ghuwe in Jakarta
Ntar Sabtu ada gig-nya Alvvays nih di GBK!
Sebenarnya tidak salah & tidak juga benar. Hidup di perkotaan memang menuntut mobilitas luar biasa yg mendorong orang untuk mencoba hal-hal baru yg mungkin belum pernah ada di kota kelahirannya. Namun, perlu berkaca bahwa kebutuhan hidup jauh lebih penting daripada gaya hidup semata.
4. Stereotype dari Jakarta
Beberapa stereotype muncul dari Jakarta itu sendiri. Seperti halnya merendahkan kaum milenial yg belum punya rumah di usia 30 tahun, atau tentang hubungan toksik. Beberapa dari stereotype tersebutbermanfaat, namun ada juga yg merugikan. Tapi tenang, Jakarta tidak seburuk itu. Tergantung dengan keluarga & lingkungannya yg menciptakan orang tersebut berkembang.
Hari ini 15:59