• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Berita Ogah Kabur, Istri Bentak Presiden

hendladi

IndoForum Beginner D
No. Urut
113568
Sejak
15 Jan 2011
Pesan
685
Nilai reaksi
2
Poin
18
0836458620X310.jpg


TUNIS, KOMPAS.com - "Saya sudah muak dengan kebodohanmu, ayo masuk ke pesawat!" Begitulah istri Presiden Tunisia yang terguling memarahi suaminya saat mereka lari dari negara itu.

Istri cerewet dari Presiden Tunisia, Zine al-Abidine Ben Ali, yang terguling itu harus memaksa suaminya untuk meninggalkan negara itu dengan sebuah jet pribadi. Pada saat-saat terakhir mereka hendak kabur dari negara itu, sang istri, Leila Trabelsi, terdengar mengatakan kepada suaminya, 'Masuk ke pesawat, idiot.' Hal itu diungkap oleh sebuah majalah Perancis, sebagaimana dikutip harian Inggris, Dailymail, dalam situsnya akhir pekan lalu.

Diktator Ben Ali yang terpuruk dilaporkan sebenarnya tidak mau naik ke pesawat di bandara Tunis. Ia terdengar mengatakan, "Saya tidak mau pergi. Saya mau mati di negara saya." Namun istrinya, dengan nada membentak mengatakan, "Sepanjang hidupku saya sudah berhadapan dengan kebodohanmu. Ayo naik!" Kepala polisi Tunisia, Ali Seriati, yang berada di samping tangga pesawat, menambahkan, "Demi Allah, naiklah ke pesawat."

Mereka akhirnya berhasil untuk mendorong Ben Ali yang sudah berusia 74 tahun itu masuk ke pesawat dengan meyakinkan dia bahwa itu hanya 'pengasingan sementara', dia bisa segera kembali.

Percakapan tersebut terjadi pada tanggal 14 Januari, saat keluarga Ali Ben melarikan diri dari Tunisa, di tengah protes besar-besaran terhadap rejim korupnya yang telah berkuasa 23 tahun. Percakapan itu dilaporkan dalam majalah berita mingguan Perancis, Nouvel Observateur, minggu lalu. Majalah itu mengatakan, pihaknya mengetahui hal tersebut dari sumber yang berada dilokasi kejadian pada saat itu.

Majalah ini berkomentar, "Jika Ben Ali bisa melihat lagi negaranya, itu hanya akan bisa dilihatnya dari dalam penjara."

Keluarga Ben Ali diyakini telah melarikan diri dari Tunisia dengan satu setengah ton emas senilai 35 juta poundsterling yang diambil dari bunk sentral Tunisia, kemudian dimasukan ke pesawat mereka. Tunisia sejak itu telah mengeluarkan surat perintah penangkapan internasional bagi seluruh keluarga penguasa tamak itu, yang saat ini diduga hidup mewah di Arab Saudi. Mereka dicari karena praktik pencurian properti dan transfer ilegal mata uang asing.

Banyak dari kekayaan keluarga itu diyakini telah disimpan di bunk-bunk Perancis yang pernah menjadi penguasa kolonial di negara itu. Pemerintah Perancis telah mengatakan akan membekukan setiap aset mencurigaan dari orang-orang Tunisia.

Kekuasaan korup Ben Ali telah memicu protes jalanan yang diwarnai kekerasan selama beberapa minggu yang akhirnya menggulingkan rejimnya. Lebih dari 70 orang tewas dalam bentrokan dengan pasukan keamanan saat protes terhadap penindasan, pengangguran yang tinggi, dan kenaikan harga-harga makanan melanda negara itu.

Mantan Ibu Negara Tunisia itu telah disamakan dengan Imelda Marcos dari Filipina karena kesukaanya terhadap kekayaan dan barang-barang mewah. Dia terkenal karena ketamakannya akan uang, mobil sport dan rumah mewah, serta kegiatan belanja rutin ke Dubai di mana dia menghabiskan ratusan ribu dollar AS untuk barang-barang mewah-bermerek.

Sejak pengasingan mereka, para penjarah telah menyerbu dan menghancurkan banyak rumah besar di daerah kelas atas di sekitar ibu kota Tunis di mana keluarga itu dulu tinggal. Dua anak perempuan keluarga itu melarikan diri ke sebuah suite VIP di Hotel Disneyland di Paris, tetapi kemudian dideportasi dari Perancis.

Perdana Menteri Tunisia, Mohammed Ghannouchi, sekarang berusaha untuk membentuk pemerintah persatuan nasional baru di Tunisia dengan janji pemilu yang bebas.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.