• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Nyeri Misterius di Wajah

yan raditya

IndoForum Addict E
No. Urut
163658
Sejak
31 Jan 2012
Pesan
24.461
Nilai reaksi
72
Poin
48
8VcC2.jpg
Irjen Untung S Rajab tak pernah merasakan nyeri dahsyat di wajah sebelumnya. Enam tahun lalu, bagian dalam pipi kanannya seperti ditusuk-tusuk. Setelah itu, tanpa ada peringatan, wajahnya serasa disayat-sayat dan disetrum. Nyeri tak terhingga itu hilang dan timbul selama 2,5 tahun.

Kalau nyeri, ya, ditahan sampai mereda,” katanya dalam acara ramah tamah yang diadakan Brain Spine Community, Sabtu (8/9), di Jakarta.

Untuk mencari kesembuhan, Untung berobat kepada sejumlah dokter, tetapi nyeri tetap tinggal. Saking misteriusnya, sempat tebersit pikiran ia diguna-guna. Penderitaan baru berakhir setelah Untung ke dokter bedah saraf dan menjalani bedah mikro invasif minimal.

Dalam dunia kedokteran, gangguan itu disebut trigeminal neuralgia dan terbilang langka. Penderita diperkirakan 8 orang dari 100.000 penduduk.

Dokter spesialis bedah saraf dari Rumah Sakit Bedah Surabaya, Sofyanto, menuturkan, pasien kerap datang dalam keputusasaan karena tersiksa nyeri hebat.

Yang memprihatinkan, nyeri kerap tidak terdiagnosis. Nyeri di pipi disangka pasien sakit gigi. Ketika gigi dicabut, ternyata nyeri tetap muncul. ”Ada pasien yang datang dengan semua gigi tercabut. Sering pula nyeri dikira infeksi sehingga pasien mendapatkan antibiotik. Bahkan, karena misterius, ada pasien yang berobat alternatif,” ujarnya.

Saraf ”korslet”

Penyebab nyeri bukan gigi atau wajah, melainkan dari dalam kepala. Trigeminal neuralgia merupakan sakit akibat saraf nomor 5, yaitu saraf kepala terbesar, tertekan pembuluh darah. Saraf nomor 5 mengatur perasa wajah, terletak di sekitar batang otak.

Sofyanto mengatakan, ada 12 pasang saraf pada otak. Jika terganggu, akan timbul masalah. Beberapa keluhan yang dialami adalah gangguan pada saraf nomor 5, 7, dan 9. Jika saraf nomor 5 terganggu, muncul nyeri pada hidung, wajah, dan gigi. Jika saraf nomor 7 terganggu, wajah kejang sebelah (hemifacial spasm). Pada gangguan ini tidak timbul nyeri, tetapi sebelah wajah seperti tertarik ke samping. Jika saraf nomor 9 terusik, penderita akan kesakitan saat menelan.

Pembuluh darah yang menekan saraf nomor 5 itu bisa jadi hanya berdiameter 1-2 milimeter, tetapi nyeri yang ditimbulkan dahsyat. Saraf yang tertekan melindungi diri dengan membentuk lapisan yang mengakibatkan perlengketan saraf dengan pembuluh darah.

Gejala trigeminal neuralgia adalah nyeri mendadak, parah, seperti sengatan listrik, tertusuk, dan biasanya pada satu sisi wajah. Pada beberapa penderita, mata, telinga, dan langit-langit mulut bisa nyeri. ”Hanya rangsangan kecil seperti kena angin, dicium, gosok gigi, atau sentuhan makanan, nyeri bisa muncul,” katanya. Fase bebas nyeri terkadang hanya satu hari, satu minggu, atau satu tahun sehingga terkadang pasien menyangka dirinya sembuh dan terkejut ketika nyeri datang kembali.

Sofyanto mengatakan, individu berusia di atas 50 tahun lebih rentan. Pada usia itu, otak manusia mulai menyusut sehingga posisi organ di sekitarnya berubah, termasuk pembuluh darah. Namun, gangguan itu dapat pula terjadi pada usia muda karena perubahan pembuluh darah.

”Ini bukan penyakit. Bisa dikatakan penderita sedang apes atau tidak beruntung,” ujarnya.

Bedah mikro

Untuk mengatasi nyeri, kata Sofyanto, biasanya digunakan obat carbamazepine yang menekan modulasi saraf dan menurunkan frekuensi nyeri. Obat dikonsumsi seumur hidup. Hanya, setelah penggunaan dalam jangka lama, respons terhadap obat bisa berkurang. Mereka yang sakit jantung tidak bisa mengonsumsi obat itu.

Pilihan yang memberi peluang besar kesembuhan ialah pembedahan mikro invasif minimal. Risiko bedah ini kecil karena tidak perlu membuka tengkorak kepala.

Prosedur bedah mikro hanya perlu bukaan selaput otak 10 mm dan irisan kulit 4 cm sehingga tidak mengganggu pembuluh darah dan saraf normal serta tidak terjadi pendarahan.

Pada kasus trigeminal neuralgia, dokter bedah memisahkan saraf dari tekanan dan perlengketan dengan pembuluh darah. Kemudian, menempatkan bahan penyekat serabut teflon antara saraf dan pembuluh darah. Serabut itu tidak berubah, tidak diserap tubuh, dan tidak menimbulkan alergi. Pada tahap akhir pembedahan, kulit bagian dalam ditutup tanpa dijahit.

Pascaoperasi dapat muncul rasa baal di lidah atau dagu, telinga berdengung, dan rasa menggeloyor saat berjalan. Terkadang pasien merasa mendapatkan serangan nyeri walau operasi berhasil. Penyebabnya, saraf mendapat tekanan dalam waktu lama sehingga terjadi trauma mikro. Kecepatan pemulihan bergantung pada kondisi fisik pasien dan usia.

Sofyanto menjelaskan, umumnya pasien sembuh setelah operasi pertama. Jika tidak sembuh dan perlu operasi, pembedahan selanjutnya perlu menunggu 1-3 tahun.

Cara lain, melepaskan perlengketan saraf dengan radiofrekuensi yang disalurkan lewat jarum halus yang masuk lapisan kulit.

Bagi Untung Rajab, operasi itu membebaskan dia dari nyeri walaupun perlu beberapa minggu untuk mengatasi trauma.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.