jozz78
IndoForum Newbie A
- No. Urut
- 182671
- Sejak
- 10 Sep 2012
- Pesan
- 337
- Nilai reaksi
- 0
- Poin
- 16
Oke... Harus kita akuin kalo game gak sepenuhnya positif. Tapi harus diakui juga kalo game itu gak sepenuhnya negatif. Bisa dibilang, game itu adanya di zona abu-abu alias netral dan hanya mental seorang gamer aja yang bisa nentuin, ke arah manakah game tersebut bakalan dibawa. Tapi kalo yang udah namanya kecanduan game, apalagi sampe ke tahap yang udah keterlaluan banget, bakalan runyam banget deh. Kayak cerita yang satu ini.Sekali lagi, setting tempat adalah Cina dan kali ini tentang seorang penduduk di Guangdong, Xie Huachang, 24 tahun. Pertama kali bertemu dengan pacarnya yang bernama Xiao Hui (bukan nama sebenarnya) adalah pada bulan Maret 2011 waktu lagi maen game online. Keduanya akhirnya bertemu dan mulai hidup bersama di bawah satu atap. Tapi ada masalah pelik. Huachang rupanya bukan hanya sekedar gamer sejati, tapi juga gamer akut nan fanatik. Kecintaannya pada game bener-bener luar biasa, sampe akhirnya malah bikin hubungan kedua sejoli tersebut mulai retak.
Pada tahun 2012, Xiao Hui pun menyerah dengan kecanduan game online yang dimiliki oleh Huachang dan mutusin untuk gak ngelanjutin lagi hubungan mereka. Xiao Hui mulai bertemu dengan pacar lain di game online dan pada bulan Mei 2012, ngambil sebuah keputusan yang mungkin jadi keputusan terakhir yang pernah ia ambil. Ia mutusin untuk ninggalin Huachang dan pindah ke Shenzhen, tempat pacar barunya berada.Naas bagi dirinya yang masih tinggal seatap dengan Huachang, yang tentunya gak seneng dengan kondisi ini ataupun keputusannya untuk keluar dari rumah ini. Suatu pagi di bulan Juni 2012, ketika Xiao Hui lagi sibuk berkemas untuk pindahan, Huachang berdiri di pintu kamarnya dan sambil menangis, memohon pada Xiao Hui supaya gak ninggalin dirinya. Tapi karena udah bulet pendiriannya, Xiao Hui menolaknya. Nah, waktu Xiao Hui menolak, Huachang yang awalnya sedih, malah jadi marah besar dan langsung mencekiknya sampe tewas!
Tapi uniknya, setelah membunuh Xiao Hui, Huachang bukannya menyerahkan diri pada polisi atau melarikan diri. Ia justru ngambil kartu ATM milik Xiao Hui dan mayatnya diumpetin di bawah ranjang. Lantas, ia ke ATM terdekat untuk narik uang sebanyak 300 RMB (atau sekitar US$47) dan pergi maen di warnet. Ia menghabiskan waktu seharian penuh disana. Keesokan paginya, sekitar pukul tujuh pagi, ia balik ke rumah, balikin kartu ATM ke dompet Xiao Hui dan balik lagi ke warnet untuk lanjutin maen.Beberapa jam kemudian, tiba-tiba ia merasa pengen bersalah dan pengen bunuh diri, sebelum akhirnya memutuskan untuk gak melakukannya. Alih-alih bunuh diri, ia justru ngirim dua pesan. Satu untuk polisi yang isinya adalah pengakuan kalo ia telah membunuh seseorang dan satu lagi dikirim ke pacar baru Xiao Hui yang isinya mengatakan kalo pacarnya udah meninggal. Dua jam kemudian, ia diringkus oleh polisi.
Kasus ini pun baru selesai bulan kemarin, dimana ia dapet hukuman penjara seumur hidup. Ia juga diharuskan membayar uang ganti rugi pada keluarga Xiao Hui (agak bingung juga sih, duitnya mau diapain). Ada yang bilang kalau sikap Huachang ini dikarenakan ayahnya yang terlalu santai dalam membimbingnya. Tapi toh redaksi yakin, begitu artikel ini muncul, bakalan banyak yang langsung mengkambing-hitamkan game sebagai penyebabnya.Yah, kayak yang udah redaksi sebut di atas, emang bener game itu punya efek negatif. Tapi jangan tutup mata juga pada dampak positif sebuah game, seperti yang udah redaksi tuliskan di sebuah artikel fitur sebelumnya. Sekali lagi, game itu sebenarnya hanyalah media. Yang menjadi penentu tindakan akhir seseorang adalah dirinya sendiri. Mending kalo kasusnya kayak Mao yang 'hanya' ngaku kecanduan sampe minta dimasukin ke penjara atau pria yang maen di warnet, sampe-sampe gak pulang selama enam tahun. Tapi kalo udah sampe kayak Xie Huachang, maka itu kondisi mentalnya dah perlu dipertanyakan bukan?
Kode:
[url="http://www.iyaa.com/hiburan/Game/2541360_4033.html#/2"] Klik Sumbernya [/url]