Follow along with the video below to see how to install our site as a web app on your home screen.
Catatan: This feature may not be available in some browsers.
Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis. Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.
Butir - butir rinduku melayang di udara,
terbang dibawa angin berhembus
lalu luruh ke bumi bersama hujan,
semoga sampai ke hadapanmu!
sempat kau punguti,
biar mekar di hati..
Sementara mataku tajam menancap ke pungung bukit menghijau
diantara pepohonan yang tumbuh subur,
sesubur tubuhmu..
Ketika kelam merengut siang,
sendiri ku panjati tiang langit
mengurai kenangan dalam mimpi
Dan saat hening membungkus diri dalam sunyi
aduh!!
betapa lumat hatiku di remas sepi..
Masih kah kau ingat tahun - tahun yang lewat
di kota kecil, diantara ringkik kuda dan pematang sawah
saat kepalaku terkulai lemah di dadamu
kau tiupkan hangat matahari ke jiwaku
lalu kita berjanji akan berjumpa kembali
detik melenggang lalu dalam bait kecemasan,
saat kerinduan membelai jiwa
menanti kau menjemputku
dan membawaku ke padang savana
ah, apakah kau sudah lupa??
apakah kau masih akan berkata,
"bersabarlah, belum saatnya kita berjumpa"
sementara keningku semakin menghitam oleh dosa
Ular rawa berpesta di tepi telaga
kujala bayangmu dengan tali temali
kenangan yang hilang dari ingatan
bersama bau amis ikan yang menguap ke udara
menusuk hidung hilangkan aroma masa lalu dari tubuhmu
riak air menggelepar terpanggang matahari
yang jatuh di permukaan
merobek wajahmu dengan panas menyayat
sebelum sempat kutangkap dan kusiangi dengan pisau
birahi yang menegang kaku
lewat senja kuukir kembali wajahmu dengan jemari,
seranting pohon yang patah
kuhujamkan bersama setetes darah perawan
dalam buraian rasa rindu dan benci yang membatu