• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

NU Tak Lagi Seperti Dulu

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Spoiler for Alm Slamet Effendi Yusuf & Said Aqil Siraj:
NU Tak Lagi Seperti Dulu




Pada prinsipnya NU mengakui agama apapun. Pengakuan ini merupakan konsekuensi sikap NU yg berdasarkan toleransi (tasamuh) kepada adanya disparitas keyakinan agama Slamet Effendi Yusuf (mantan Waketum PBNU)

Pernyataan almarhum Slamet Effendi Yusuf pada 2014 tersebut ia lanjutkan dengan pengakuan eksistensi agama Bahai. Begitulah hakekatnya pandangan NU kepada keragaman beragama. PBNU berpedoman pada lakum dinukum waliyaddin yg artinya: Bagi kalian agama kalian & bagiku agamaku.

Akan tetapi, lain NU dulu lain pula NU kini. Ormas Islam yg didirikan oleh KH Hasyim Asyari tersebut dewasa ini memiliki pandangan yg sempit soal keyakinan. NU kini seolah jadi pemarah, merasa paling benar, yg lain dinilai sesat atau radikal dengan berbagai macam dalihnya.

Seperti yg terjadi pada aliran kepercayaan Hakekok Balakasuta yg diamankan usai ritual mandi bersama di rawa viral di media sosial. Atas temuan tersebut, Ketua PBNU Robikin Emhas mengatakan tidak ada ajaran agama apa pun di Indonesia yg punya ritual mandi bareng.

Robikin berharap pemuka agama memperkuat pemahaman masyarakat supaya tidak mengerjakan hal-hal yg menyimpang dari nilai-nilai agama. Apalagi terkait dengan suatu ritual pembersihan dosa. Ia pun meminta aparat & pemerintah setempat membina 16 pengikut Hakekok Balakasuta.

Sumber :Detik [PBNU soal Hakekok: Tak Ada Agama Punya Ritual Mandi Bareng Pria-Wanita]

Menganggap aliran kepercayaan Hakekok Balakasuta sebagai aliran sesat atau menyimpang tentu sangat bertolak belakang dengan prinsip NU yg mengakui agama apapun. Bukankah pengakuan eksistensi agama atau kepercayaan merupakan perwujudan dari toleransi NU kepada disparitas keyakinan agama?

Fenomena NU yg jadi keras ini pun jadi perhatian Ketua Harian Pergerakan Penganut Khittah Nahdliyyah (PPKNU) H Tjetep Muhammad Yasin. Terutama usai melihat kemarahan sejumlah warga NU di medsos terkait flyer informasi Kajian Ramadhan yg digelar di PT PELNI dengan sejumlah ustad yg dinilai radikal atau memiliki ajaran wahabi.

Gus Yasin merasa heran dengan perubahan sikap NU yg kini merasa paling benar, yg lain dinilai radikal, mengancam eksistensi NKRI, & sebagainya.

Selama ini NU tidak pernah meminta pemerintah menutup pengajian. Baru saat ini NU jadi pemarah, seakan jadi penguasa segala-galanya. Lalu, minta yg lain dihabisi, tidak boleh hidup. Bukankah ini soal keilmuan. Dan NU, itu gudangnya orang alim. Hanya NU yg dapat menggelar Munas Alim-Ulama. Jadi, kalau soal Wahabi itu, kecil, jelas Gus Yasin, yg juga alumni Ponpes Tebuireng.

Sumber :Gelora [Geger Kajian 'Ustad Radikal' di Pelni, Gus Yasin: Heran! Mengapa NU Merasa Paling Benar, Yang Lain Dinilai Radikal]

Dalam kedua contoh tersebut, kita dapat saksikan bahwa NU kini merasa sebagai pihak yg paling benar. Tak cuma menganggap aliran kepercayaan Hakekok sebagai aliran yg menyimpang, tetapi juga menuduh ajaran Wahabi sebagai ajaran yg radikal & tak boleh hidup di negeri ini.

Maka timbul pertanyaan di dalam benak kita semua. Jika dalam kedua contoh yg berlawanan tersebut saja NU sudah merasa sebagai pihak yg paling benar, bagaimana dengan aliran kepercayaan yg menggabungkan antara ajaran Islam dengan Kristen seperti yg terjadi pada ajaran Lia Aminuddin alias Lia Eden?

Pada tanggal 9 April 2021, Lia Eden dikabarkan meninggal dunia. Kabar duka itu diinformasikan melalui akun Instagram Serikat Jurnalis Keberagaman (Sejuk). "Ratu Surga pengabar kesucian wahyu-wahyu Tuhan itu berpulang. Lia Eden (Lia Aminudin) yg sejak 1995 meyakini terus menerima bimbingan malaikat Jibril sudah meninggal Jumat lalu," tulis Sejuk.

Sejuk menyebutkan pula bahwa Lia Eden bersama komunitas Salamullah adalah simbol perjuangan kebebasan beragama & berkeyakinan.

Sumber :Viva ['Ratu' Komunitas Salamullah Lia Eden Meninggal Dunia]

Sebagai informasi, Lia Eden yg pernah menyebutkan Ahok harus jadi presiden Indonesia tersebut memiliki keyakinan yg ia namai dengan ajaran Takhta Suci Kerajaan Tuhan. Dalam ajaran tersebut, Lia menyebutkan salah satu pengikutnya sebagai reinkarnasi Nabi Muhammad.

Lia juga mensahkan salat dalam dua bahasa dengan bersandarkan pada Alquran surat Maryam ayat 97, serta menafsirkan Surat An Najm ayat 6 untuk membenarkan bahwa sosok malaikat Jibril sudah bersemayam dalam dirinya.

Hal yg paling unik dari ajaran Lia Eden yakni menghalalkan daging babi karena menurutnya babi tidak haram lagi di zaman yg hewan ternaknya riskan dikonsumsi karena penyakit flu burung, sapi gila, & antraks yg membahayakan.

Ajaran tersebut tentu saja berbeda dengan ajaran umat Islam pada umumnya. Namun kalau kita melihat prinsip dasar dari NU yg mengakui agama apapun, semestinya tidak akan terusik dengan adanya aliran kepercayaan, spiritual, maupun disparitas ajaran yg terjadi di dalam agama Islam itu sendiri.

Bukankah NU gemar mengklaim terdepan soal Keragaman? Jika benar keragaman yg dikedepankan, maka sungguh aneh ketika NU paling sering pula menetapkan aliran spiritual tertentu sebagai sesat & harus dimusnahkan.


Hari ini 17:09
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.