yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
SURABAYA– Perbedaan penetapan 1 Ramadan ternyata tak berlanjut pada penetapan Idul Fitri 1433 Hijriah. Dua organisasi keagamaan terbesar Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, kemungkinan besar merayakan Idul Fitri secara bersamaan pada 19 Agustus 2012.
Pengurus Pusat Muhammadiyah memastikan 1 Syawal 1433 H jatuh pada 19 Agustus. Dari hasil hisab Wujudul Hilal yang dilakukan, hilal pada 18 Agustus sudah mencapai 6 derajat lebih. Sedangkan hilal pada 17 Agustus, baru mencapai 4 derajat atau anak bulan belum berwujud. Atas dasar perhitungan tersebut, maka puasa Ramadan pada 1433 H kali ini dilaksanakan hingga 18 Agustus.
”Jadi bukan persoalan penampakan. Tetapi hisab wujudul hilal ini lebih mendasarkan perhitungan kondisi di mana saat matahari terbenam bulan belum terbenam. Ijtima’ setengah derajatpun kalau sudah wujud maka kita tetapkan bulan sudah berganti,”tandas Ketua Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Prof Syamsul Anwar dalam keterangan pers menyangkut keputusan 1 Syawal di Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta,kemarin.
Wujudul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriah dengan menggunakan dua prinsip: ijtima’ (konjungsi) telah terjadi sebelum matahari terbenam (ijtima’ qablal ghurub), dan bulan terbenam setelah matahari terbenam; maka pada petang hari tersebut dinyatakan sebagai awal bulan (kalender) Hijriah, tanpa melihat berapapun sudut ketinggian bulan saat matahari terbenam.
Menurut Syamsul ada tiga kriteria yang harus terpenuhi untuk hisab wujudul hilal yakni, ijtima’ atau konjungsi antara bulan dan matahari sudah terjadi.Ijtima’ terjadi sebelum matahari terbenam. Sedangkan jika matahari sudah terbenam maka bulan belum terbenam. Secara wujud,terbenam dalam hal ini seluruh permukaan bulan atau matahari semuanya sudah berada di bawah ufuk. “Apabila ketiga syarat tersebut terpenuhi maka hilal dianggap sudah terwujud dan bulan sudah berganti,”tambahnya.
Berdasakan perhitungan ijtima untuk 1 Syawal akan terjadi pada 17 Agustus 2012 pada pukul 22.55 WIB. Sementara jika mendasarkan proses terbenamnya matahari dan bulan, maka pada Jumat 17 Agustus, persyaratan bulan belum terbenam tidak terpenuhi. Alhasil, 1 Syawal 1433 H diputuskan jatuh pada 19 Agustus 2012.
Wakil Ketua Lajnah Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Slamet Hambali mengatakan, pada tanggal 19 Agustus,ketinggian hilal sudah mencapai 6 derajat 43 menit.“Jadi hampir 7 derajat. Ini dipastikan hilal sudah terlihat, dan sudah masuk 1 Syawal,”ujarnya,tadi malam.
Slamet yang juga anggota tim Badan Hisab Rukyat (BHR) Provinsi Jawa Tengah ini menambahkan, hilal sudah bisa dilihat pada ketinggian di atas 2 derajat. Namun demikian kegiatan rukyat hilal tetap dilakukan termasuk sidang isbath. “Kalau Muhammadiyah memastikan 19 Agustus,maka hari raya Idul Fitri antara NU dan Muhammadiyah, insya Allah akan sama,”terangnya.
Sementara itu, PWNU Jatim juga berpandangan sama. Koordinator Tim Rukyat PWNU Jatim Sholeh Hayat, menegaskan, “Walau dalam mengawali Ramadan terjadi perbedaan antara NU dan Pemerintah dengan Muhammadiyah, tapi dalam mengakhiri Ramadan, ada isyarat kuat bahwa Idul Fitri tahun ini akan dilaksanakan bersama,” tandasnya.
Kendati 1 Syawal jatuh pada hari Ahad 19 Agustus,warga Nahdliyin masih akan melakukan rukyatul hilal pada tanggal 17 Agustus. “Hal ini karena adanya perintah syariat yang mengatakan, mengakhiri Ramadan dengan rukyat, bukan dengan hisab,” tandasnya. Dia menambahkan, pengambilan rukyah di Jatim akan dilakukan di 11 lokasi. Setelah itu akan dibawa pada sidang isbath di Kementerian Agama yang nantinya menjadi rujukan folmal warga NU.
Ketua MUI Jatim Abdussomad Bukhori mengatakan, MUI sudah mengeluarkan fatwa tentang penentuan awal Ramadan, Syawal dan Idul Adha. Dalam fatwa tersebut menandaskan bahwa yang berhak mengisbatkan dan mengumumkan awal Ramadan, Syawal dan Idul Adha adalah pemerintah dalam hal ini Menteri Agama. Akan tetapi dalam penetapan isbath, Menteri Agama atau pemerintah harus mengadakan musyawarah dengan ormas Islam, MUI, para pakar atau ahli.
Karena itu,untuk penetapan 1 Syawal juga diserahkan ke Menteri Agama. “Dan kespakatan tersebut diumumkan Menteri Agama,” tandasnya. Abdussomad mengatakan, penetapan awal Syawal yang sama antara Muhammadiyah dan NU tentunya lebih baik.Karena hari raya Idul Fitri bisa serentak dan lebih ramai.Namun antara Muhammadiyah dan NU itu mempunyai pertimbangan atau metode penetapan sendiri-sendiri.
Termasuk ketika terjadi perbedaan juga harus dihormati.“ Di pusat sudah ada lembaga hisab rukyah dari ahli astronomi, MUI mengambil kaidah keputusan hakim pemerintah mengikat dan menghilangkan perbedaan. Untuk kepastian awal Syawal nanti menunggu pemerintah yang mengumumkan,” sambungnya.
Kemendag Imbau Jangan Berlebihan
Terpisah,Kementerian Perdagangan mengimbau masyarakat agar tidak berbelanja berlebihan saat merayakan Idul Fitri 1433 Hijriah. “Kami harap masyarakat tidak berbelanja berlebihan dan membeli sewajarnya saja terhadap bahan kebutuhan pokok,” kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Gunaryo di Jakarta, kemarin.
Menurut dia, hingga pada pekan ketiga menjelang hari Lebaran,harga sejumlah kebutuhan pokok stabil di sejumlah daerah di Indonesia. Dia menambahkan,beberapa harga sejumlah produk seperti beras, gula, minyak goreng dan telur ayam justru mengalami penurunan. “Pada waktu menjelang puasa memang ada kenaikan harga sampai dengan satu hingga dua hari saat bulan puasa, tapi sekarang sudah tidak lagi,”jelas Gunaryo.
Sementara itu untuk harga kebutuhan yang masih tinggi adalah daging sapi yang masih berada di kisaran Rp78.000 hingga Rp80.000 di mana sebelumnya sekitar Rp70.000. “Biasanya pada waktu tersebut, tarikan permintaan dari konsumen cukup tinggi,” kata Gunaryo.
Sementara itu untuk harga ayam buras dan telur ayam,Kemendag mengkhawatirkan harganya akan terus menurun hingga Lebaran usai. “Umumnya harga ayam dan telur naik menjelang puasa dan datar pada saat bulan puasa.Kemudian usai Lebaran akan turun terus,”jelas dia.
Pengurus Pusat Muhammadiyah memastikan 1 Syawal 1433 H jatuh pada 19 Agustus. Dari hasil hisab Wujudul Hilal yang dilakukan, hilal pada 18 Agustus sudah mencapai 6 derajat lebih. Sedangkan hilal pada 17 Agustus, baru mencapai 4 derajat atau anak bulan belum berwujud. Atas dasar perhitungan tersebut, maka puasa Ramadan pada 1433 H kali ini dilaksanakan hingga 18 Agustus.
”Jadi bukan persoalan penampakan. Tetapi hisab wujudul hilal ini lebih mendasarkan perhitungan kondisi di mana saat matahari terbenam bulan belum terbenam. Ijtima’ setengah derajatpun kalau sudah wujud maka kita tetapkan bulan sudah berganti,”tandas Ketua Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Prof Syamsul Anwar dalam keterangan pers menyangkut keputusan 1 Syawal di Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta,kemarin.
Wujudul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriah dengan menggunakan dua prinsip: ijtima’ (konjungsi) telah terjadi sebelum matahari terbenam (ijtima’ qablal ghurub), dan bulan terbenam setelah matahari terbenam; maka pada petang hari tersebut dinyatakan sebagai awal bulan (kalender) Hijriah, tanpa melihat berapapun sudut ketinggian bulan saat matahari terbenam.
Menurut Syamsul ada tiga kriteria yang harus terpenuhi untuk hisab wujudul hilal yakni, ijtima’ atau konjungsi antara bulan dan matahari sudah terjadi.Ijtima’ terjadi sebelum matahari terbenam. Sedangkan jika matahari sudah terbenam maka bulan belum terbenam. Secara wujud,terbenam dalam hal ini seluruh permukaan bulan atau matahari semuanya sudah berada di bawah ufuk. “Apabila ketiga syarat tersebut terpenuhi maka hilal dianggap sudah terwujud dan bulan sudah berganti,”tambahnya.
Berdasakan perhitungan ijtima untuk 1 Syawal akan terjadi pada 17 Agustus 2012 pada pukul 22.55 WIB. Sementara jika mendasarkan proses terbenamnya matahari dan bulan, maka pada Jumat 17 Agustus, persyaratan bulan belum terbenam tidak terpenuhi. Alhasil, 1 Syawal 1433 H diputuskan jatuh pada 19 Agustus 2012.
Wakil Ketua Lajnah Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Slamet Hambali mengatakan, pada tanggal 19 Agustus,ketinggian hilal sudah mencapai 6 derajat 43 menit.“Jadi hampir 7 derajat. Ini dipastikan hilal sudah terlihat, dan sudah masuk 1 Syawal,”ujarnya,tadi malam.
Slamet yang juga anggota tim Badan Hisab Rukyat (BHR) Provinsi Jawa Tengah ini menambahkan, hilal sudah bisa dilihat pada ketinggian di atas 2 derajat. Namun demikian kegiatan rukyat hilal tetap dilakukan termasuk sidang isbath. “Kalau Muhammadiyah memastikan 19 Agustus,maka hari raya Idul Fitri antara NU dan Muhammadiyah, insya Allah akan sama,”terangnya.
Sementara itu, PWNU Jatim juga berpandangan sama. Koordinator Tim Rukyat PWNU Jatim Sholeh Hayat, menegaskan, “Walau dalam mengawali Ramadan terjadi perbedaan antara NU dan Pemerintah dengan Muhammadiyah, tapi dalam mengakhiri Ramadan, ada isyarat kuat bahwa Idul Fitri tahun ini akan dilaksanakan bersama,” tandasnya.
Kendati 1 Syawal jatuh pada hari Ahad 19 Agustus,warga Nahdliyin masih akan melakukan rukyatul hilal pada tanggal 17 Agustus. “Hal ini karena adanya perintah syariat yang mengatakan, mengakhiri Ramadan dengan rukyat, bukan dengan hisab,” tandasnya. Dia menambahkan, pengambilan rukyah di Jatim akan dilakukan di 11 lokasi. Setelah itu akan dibawa pada sidang isbath di Kementerian Agama yang nantinya menjadi rujukan folmal warga NU.
Ketua MUI Jatim Abdussomad Bukhori mengatakan, MUI sudah mengeluarkan fatwa tentang penentuan awal Ramadan, Syawal dan Idul Adha. Dalam fatwa tersebut menandaskan bahwa yang berhak mengisbatkan dan mengumumkan awal Ramadan, Syawal dan Idul Adha adalah pemerintah dalam hal ini Menteri Agama. Akan tetapi dalam penetapan isbath, Menteri Agama atau pemerintah harus mengadakan musyawarah dengan ormas Islam, MUI, para pakar atau ahli.
Karena itu,untuk penetapan 1 Syawal juga diserahkan ke Menteri Agama. “Dan kespakatan tersebut diumumkan Menteri Agama,” tandasnya. Abdussomad mengatakan, penetapan awal Syawal yang sama antara Muhammadiyah dan NU tentunya lebih baik.Karena hari raya Idul Fitri bisa serentak dan lebih ramai.Namun antara Muhammadiyah dan NU itu mempunyai pertimbangan atau metode penetapan sendiri-sendiri.
Termasuk ketika terjadi perbedaan juga harus dihormati.“ Di pusat sudah ada lembaga hisab rukyah dari ahli astronomi, MUI mengambil kaidah keputusan hakim pemerintah mengikat dan menghilangkan perbedaan. Untuk kepastian awal Syawal nanti menunggu pemerintah yang mengumumkan,” sambungnya.
Kemendag Imbau Jangan Berlebihan
Terpisah,Kementerian Perdagangan mengimbau masyarakat agar tidak berbelanja berlebihan saat merayakan Idul Fitri 1433 Hijriah. “Kami harap masyarakat tidak berbelanja berlebihan dan membeli sewajarnya saja terhadap bahan kebutuhan pokok,” kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Gunaryo di Jakarta, kemarin.
Menurut dia, hingga pada pekan ketiga menjelang hari Lebaran,harga sejumlah kebutuhan pokok stabil di sejumlah daerah di Indonesia. Dia menambahkan,beberapa harga sejumlah produk seperti beras, gula, minyak goreng dan telur ayam justru mengalami penurunan. “Pada waktu menjelang puasa memang ada kenaikan harga sampai dengan satu hingga dua hari saat bulan puasa, tapi sekarang sudah tidak lagi,”jelas Gunaryo.
Sementara itu untuk harga kebutuhan yang masih tinggi adalah daging sapi yang masih berada di kisaran Rp78.000 hingga Rp80.000 di mana sebelumnya sekitar Rp70.000. “Biasanya pada waktu tersebut, tarikan permintaan dari konsumen cukup tinggi,” kata Gunaryo.
Sementara itu untuk harga ayam buras dan telur ayam,Kemendag mengkhawatirkan harganya akan terus menurun hingga Lebaran usai. “Umumnya harga ayam dan telur naik menjelang puasa dan datar pada saat bulan puasa.Kemudian usai Lebaran akan turun terus,”jelas dia.