Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Selamat pagi, siang, sore, petang, & malam kawan - kawan IFers semua yg baik hati. Bertemu kembali di thread sederhana ane.
Sehubungan dengan larangan mudik yg dihinggakan oleh pemerintah pada saat lebaran nanti, akhirnya tahun ini ane mudik lebih awal. Iyah, ane mudik di awal bulan puasa kemarin, buat mengantisipasi kalau larangan mudik lebaran benar jadi diberlakukan. Karena seperti yg kita tahu, pemerintah terkesan plin - plan menyikapi aturan mudik tahun ini. Sempat memperbolehkan, lalu melarangnya. Jadi, andaikan pun nanti larangan mudik ini benar diberlakukan, setidaknya ane udah lebih dulu sungkem ke orang tua.
Pulang kampung saat bulan puasa mengingatkan ane pada memori masa kecil dulu. Saat itu ane diajari untuk puasa mbedug, sebutan untuk puasa setengah hari, yg buka puasanya yaitu saat bedug adzan dhuhur berkumandang. Ane dikasih waktu oleh orang tua ane untuk makan & minum selama maksimal setengah jam, untuk selanjutnya berpuasa lagi hingga dengan adzan maghrib. Saat itu, orang tua ane tak pernah menjelaskan kalau puasa mbedug itu sebenarnya cuman latihan puasa aja. Ane mengira kalau puasa mbedug memang ada & dikhususkan untuk anak kecil.
Selain mengingatkan tentang memori puasa mbedug, ingatan tentang buku kegiatan bulan Ramadhan juga membayang di benak ane. Iyah, buku kegiatan bulan Ramadhan yg semestinya dipakai untuk mencatat amal kebaikan selama bulan suci Ramadhan, namun ditangan ane (dan teman - teman ane juga sih) malah jadi ladang dosa. Kenapa begitu?
Jadi Sarang Dusta.
Buku kegiatan bulan Ramadhan berisi tentang semua kegiatan ibadah yg dilakukan selama bulan Ramadhan. Mulai dari checklist solat wajib, membaca Qur'an, checklist puasa, & kegiatan taraweh. Jika harap mendapat nilai bagus dari guru agama, semua kegiatan tersebut harus kita isi. Tapi, namanya juga anak - anak. Adakalanya rajin tetapi lebih banyak malesnya. Supaya dapat nilai bagus, mau tak mau ya harus memalsukan isian. Misalnya, nggak sholat tetapi diisi rajin sholat, nggak ngaji tetapi di isi ngaji full & seterusnya.
Mengisi Di Akhir Bulan.
Kalau mengisi buku kegiatan bulan Ramadhan itu semestinya diisi setiap hari, tetapi itu nggak berlaku buat ane. Cuman isian sholat taraweh aja yg ane rajin isi tiap hari, karena memang ane beneran rajin sholat taraweh. Selebihnya, isian sholat wajib 5 waktu & baca Qur'an, ane rapel diakhir bulan, menjelang buku dikumpulkan. Pengisiannya pun ngawur, cuman isi aja random, ya - ya - tidak - tidak - ya, dengan maksud supaya guru tidak curiga - curiga amat karena terlalu rajin.
Tanda Tangan Nitip.
Sholat taraweh & sholat jumat adalah dua kegiatan yg wajib dicatat secara rinci kegiatannya. Mulai dari nama masjid, nama imam, nama pengkhotbah, hingga materi yg dikhotbahkan. Bukan cuman itu, dibagian akhir laporan juga wajib membubuhkan tanda tangan pengkhotbah. Nah, bagian inilah yg sering ane curangin. Satu kali sholat taraweh, ane dapat minta tandatangan satu hingga tiga kali, buat jaga - jaga nanti kalau lagi males taraweh-an. Tapi itu sih masih mending, teman ane malah lebih parah lagi, orangnya nggak pernah ke masjid, cuman bukunya aja yg dititipin.
Meski buku kegiatan bulan Ramadhan bertujuan baik untuk melatih anak - anak rajin beribadah, namun kenyataannya banyak yg menyalahpakai & justru jadi media menciptakan dosa. Mungkin nggak semua ya, tetapi beberapa besar. Seenggaknya beberapa teman ane juga mengerjakan hal yg sama. Entah, apakah saat itu guru agama ane tau & pura - pura tidak tahu, ataukah memang benar - benar tidak tahu & dibodohi murid - muridnya. Terlepas dari itu semua, nampaknya buku kegiatan bulan Ramadhan dijaman sekarang sudah ada perbaikan, misalnya adanya tandatangan orang tua pada setiap kegiatan yg dilakukan oleh anak. Ane harap sih pengalaman ane ini tidak untuk ditiru oleh anak - anak jaman sekarang.
Disclaimer : Asli tulisan TS
Referensi : Pengalaman TS
Sumur Gambar : Om Google
Powerpunk's Threadon Kaskus
Spoiler for Jangan di scan:
Spoiler for :