satan_of_sorrow
IndoForum Newbie F
- No. Urut
- 22467
- Sejak
- 20 Sep 2007
- Pesan
- 8
- Nilai reaksi
- 1
- Poin
- 3
Setelah melalui proses transformasi di Rusia dan Indonesia, kedua negara telah menerapkan kebijakankebijakan reformasi dan keterbukaan.Namun,kenangan sejarah tetap menjadi satu faktor pengikat.
Ada kisah menarik terkait hubungan erat Indonesia- Rusia. Ketika Presiden Soekarno mengunjungi Rusia awal 1960-an, Bung Karno—begitu Soekarno biasa disapa—berbicara dengan koleganya Nikita Kruschev bahwa dirinya ingin mengunjungi dan salat di Masjid Agung St Petersburg. Sontak, keinginan itu membuat Kruschev kaget dan meminta Bung Karno agar tidak pergi ke sana.Alasannya, saat itu belum masuk waktu salat. Namun, itu hanya alasan yang dibuat Kruschev agar Bung Karno mengurungkan niatnya ke tempat ibadah yang sangat terkenal itu.
Padahal, saat itu Masjid St Petersburg telah menjadi gudang. Mendapat jawaban seperti itu, tidak membuat Bung Karno mengurungkan niatnya. Sang Proklamator itu tetap ingin melaksanakan niatnya menyembah Tuhan di sana.Tak pelak, hal itu membuat Kruschev segera memerintahkan anak buahnya untuk membersihkan masjid tersebut. Setelah itu, Bung Karno pun mengunjungi rumah Tuhan itu dan salat. Cerita itu menjadi legenda politik dalam hubungan kedua negara. Sejak saat itu, Masjid Agung St Petersburg tetap dibuka hingga Uni Soviet runtuh.
Cerita tersebut tetap menjadi sebuah catatan kaki sejarah hubungan Indonesia-Rusia yang hingga saat ini masih didasarkan pada Protokol Konsultasi Bilateral RIUni Soviet, 1988 yang ditandatangani di Moskow oleh kedua Menteri Luar Negeri kedua negara,termasuk Pernyataan Mengenai Dasar- Dasar Hubungan Persahabatan dan Kerja Sama antara RI dan Uni Soviet, 1989 (ditandatangani Presiden RI dan Presiden Uni Soviet di Moskow). Hingga saat ini, hubungan dan kerja sama di bidang politik antara Indonesia-Rusia berjalan cukup baik. Salah satu indikator hubungan baik tersebut tercermin dalam hal dukungan yang diberikan kedua pemerintah terhadap pencalonan masing-masing dalam badanbadan serta organisasi-organisasi internasional.
Di samping itu, Rusia juga menunjukkan sikap positif terhadap isu-isu penting yang dihadapi Indonesia, seperti isu-isu HAM. Menteri Luar Negeri RI Hassan Wirajuda, seperti dilansir RIA Novosti mengatakan, setelah melalui proses transformasi di Rusia dan Indonesia, kedua negara telah menerapkan kebijakan-kebijakan reformasi dan keterbukaan ekonomi. Ada persamaan orientasi yang bisa dijadikan faktor untuk memperkuat hubungan kedua negara. Kondisi ini tercermin dari kesepakatan kedua negara saat kunjungan Presiden Megawati Soekarnoputri ke Moskow, April 2003 melalui kemitraan yang diformulasikan dalam bentuk Deklarasi Kerangka Hubungan Persahabatan dan Kemitraan di Abad 21.
”Ini penting, karena dalam menghadapi milenium baru, melalui deklarasi tersebut kedua negara, pada tingkat kepala negara, telah sepakat untuk mengembangkan hubungan persahabatan dan kemitraan,” ujar Menlu. Syahdan, hubungan bilateral kedua negara semakin berkembang ke arah positif setelah 40 tahun lebih membeku, pascaperistiwa G30S. Saat ini, ada sejumlah mekanisme yang sudah berjalan dana ingin dikembangkan lewat forum konsultasi bilateral. Pun begitu pada tingkat pejabat senior, di mana telah terjadi saling pertemuan secara berkala di Rusia atau di Indonesia.
”Melalui proses mekanisme konsultasi ini dari waktu-waktu secara berkala dilakukan pengkajian tentang apa yang sudah kita capai dan isu-isu apa yang perlu kita kembangkan di masa mendatang,” tambah Menlu. Saat ini dokumen yang menjadi dasar acuan, yaitu deklarasi tentang kerangka hubungan persahabatan dan kemitraan 2003 lalu yang perlu dilengkapi dengan roadmap pengembangan hubungan bilateral kedua negara.Dokumen ini telah dirancang dalam pertemuan pejabat senior di Lombok, pertengahan Juni 2007. Dengan kata lain, kedua negara menginginkan suatu proses yang melembaga, suatu mekanisme yang jelas, ada konsep tentang deklarasinya dan roadmap.
Dalam pembicaraan tingkat pejabat senior di Lombok disepakati pembentukan tiga kelompok kerja, yaitu kelompok kerja ekonomi, perdagangan dan investasi; kelompok kerja ilmu dan teknologi, dan ketiga kelompok kerja tentang bidangbidang yang lain. Guru Besar Universitas Indonesia Bidang Rusia Prof Dr N Jenny MT Harjatno menjelaskan, di bidang politik––kedua negara menganut sistem bebas aktif––memang tidak bisa dihindari campur tangan asing di era global.Tapi, hal itu sejauh ini, kata Jenny, tidak merusak hubungan kedua negara. Sebab, kedua negara menjalin hubungan berdasar atas saling pengertian dan tidak mencampuri urusan dalam negeri masing-masing.
”Saya pikir dalam soal politik, kita dengan Rusia itu memiliki kesamaan pandangan dalam hal anti terorisme. Kita memerangi terorisme, Rusia juga bahkan punya sikap yang tegas dalam soal terorisme. Seperti penyanderaan anak-anak sekolah di Besland, 2003 lalu,” ujarnya. Dia menambahkan, rencana kedatangan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Indonesia, pekan ini, harus dijadikan momentum bagi Indonesia untuk makin memperkuat hubungan di pelbagai sektor dengan negara pewaris Uni Soviet itu. Terlebih, saat ini landasan hubungan tidak lagi berdasarkan ideologis seperti yang pernah dilakukan Bung Karno- Kruschev. ”Ke depan saya pikir Rusia bisa kita jadikan sahabat sekaligus mitra. Rusia sekarang sudah menjadi negara demokratis, walaupun partai komunis masih tetap ada. Tapi jangan sampai kita semakin tergantung. Justru dengan kerja sama sekarang ini, kita harapkan perekonomian kita semakin meningkat dan kita bisa berdiri sejajar dengan mereka,”tambahnya.
Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar yang juga mantan Duta Besar RI untuk Rusia mengatakan, secara umum hubungan antara Rusia-Indonesia merupakan keharusan dan kebutuhan sejarah. Sebab, kedua negara memiliki banyak persamaan bahwa Rusia dan Indonesia memiliki profil yang sama. Rusia juga sebuah negara yang sangat besar yang terdiri dari berbagai etnis, namun demikian rakyatnya memiliki rasa nasionalisme yang sangat kuat. Nasionalisme dan kebanggaan nasional yang tinggi juga dimiliki rakyat Indonesia. ”Keberhasilan-keberhasilan dalam mengembangkan hubungan bilateral dalam bidang-bidang tertentu harus diperluas dalam bidang-bidang lain sehingga hubungan menjadi lebih seimbang,” ujarnya.
Peneliti Senior CSIS Kusnanto Anggoro menilai, ”bulan madu” Jakarta-Moskow bisa semakin besar sangat bergantung pada motivasi kedua negara,khususnya Indonesia. Memang, ada perbedaan konsep politik hubungan luar negeri kedua negara dibanding era Bung Karno-Kruschev, di mana saat itu Bung Karno menerapkan politik anti-Barat.Sekaligus,kedua negara sama-sama memiliki partai komunis. ”Sehingga daya hinggap antara Indonesia dan Uni Soviet jauh lebih erat dibandingkan ikatan antara RI-Rusia sekarang. Namun, dengan adanya kunjungan-kunjungan akan memberikan peluang yang lebih baik,” ujarnya.
Terpenting dari hubungan Indonesia- Rusia ini adalah bisa dijadikan pendorong bagi Indonesia untuk memiliki posisi tawar dengan dunia Barat, khususnya Amerika Serikat. Untuk sepenuhnya melepaskan diri dari kepentingan Barat merupakan hal yang sangat sulit.Tapi untuk sekadar menjaga perimbangan saja bahwa Indonesia tidak berada di bawah ketiak single suplier, jadi tidak hanya satu pemasok tunggal. (thomas pulungan/ sunu hastoro/yani a)
sumber
Ada kisah menarik terkait hubungan erat Indonesia- Rusia. Ketika Presiden Soekarno mengunjungi Rusia awal 1960-an, Bung Karno—begitu Soekarno biasa disapa—berbicara dengan koleganya Nikita Kruschev bahwa dirinya ingin mengunjungi dan salat di Masjid Agung St Petersburg. Sontak, keinginan itu membuat Kruschev kaget dan meminta Bung Karno agar tidak pergi ke sana.Alasannya, saat itu belum masuk waktu salat. Namun, itu hanya alasan yang dibuat Kruschev agar Bung Karno mengurungkan niatnya ke tempat ibadah yang sangat terkenal itu.
Padahal, saat itu Masjid St Petersburg telah menjadi gudang. Mendapat jawaban seperti itu, tidak membuat Bung Karno mengurungkan niatnya. Sang Proklamator itu tetap ingin melaksanakan niatnya menyembah Tuhan di sana.Tak pelak, hal itu membuat Kruschev segera memerintahkan anak buahnya untuk membersihkan masjid tersebut. Setelah itu, Bung Karno pun mengunjungi rumah Tuhan itu dan salat. Cerita itu menjadi legenda politik dalam hubungan kedua negara. Sejak saat itu, Masjid Agung St Petersburg tetap dibuka hingga Uni Soviet runtuh.
Cerita tersebut tetap menjadi sebuah catatan kaki sejarah hubungan Indonesia-Rusia yang hingga saat ini masih didasarkan pada Protokol Konsultasi Bilateral RIUni Soviet, 1988 yang ditandatangani di Moskow oleh kedua Menteri Luar Negeri kedua negara,termasuk Pernyataan Mengenai Dasar- Dasar Hubungan Persahabatan dan Kerja Sama antara RI dan Uni Soviet, 1989 (ditandatangani Presiden RI dan Presiden Uni Soviet di Moskow). Hingga saat ini, hubungan dan kerja sama di bidang politik antara Indonesia-Rusia berjalan cukup baik. Salah satu indikator hubungan baik tersebut tercermin dalam hal dukungan yang diberikan kedua pemerintah terhadap pencalonan masing-masing dalam badanbadan serta organisasi-organisasi internasional.
Di samping itu, Rusia juga menunjukkan sikap positif terhadap isu-isu penting yang dihadapi Indonesia, seperti isu-isu HAM. Menteri Luar Negeri RI Hassan Wirajuda, seperti dilansir RIA Novosti mengatakan, setelah melalui proses transformasi di Rusia dan Indonesia, kedua negara telah menerapkan kebijakan-kebijakan reformasi dan keterbukaan ekonomi. Ada persamaan orientasi yang bisa dijadikan faktor untuk memperkuat hubungan kedua negara. Kondisi ini tercermin dari kesepakatan kedua negara saat kunjungan Presiden Megawati Soekarnoputri ke Moskow, April 2003 melalui kemitraan yang diformulasikan dalam bentuk Deklarasi Kerangka Hubungan Persahabatan dan Kemitraan di Abad 21.
”Ini penting, karena dalam menghadapi milenium baru, melalui deklarasi tersebut kedua negara, pada tingkat kepala negara, telah sepakat untuk mengembangkan hubungan persahabatan dan kemitraan,” ujar Menlu. Syahdan, hubungan bilateral kedua negara semakin berkembang ke arah positif setelah 40 tahun lebih membeku, pascaperistiwa G30S. Saat ini, ada sejumlah mekanisme yang sudah berjalan dana ingin dikembangkan lewat forum konsultasi bilateral. Pun begitu pada tingkat pejabat senior, di mana telah terjadi saling pertemuan secara berkala di Rusia atau di Indonesia.
”Melalui proses mekanisme konsultasi ini dari waktu-waktu secara berkala dilakukan pengkajian tentang apa yang sudah kita capai dan isu-isu apa yang perlu kita kembangkan di masa mendatang,” tambah Menlu. Saat ini dokumen yang menjadi dasar acuan, yaitu deklarasi tentang kerangka hubungan persahabatan dan kemitraan 2003 lalu yang perlu dilengkapi dengan roadmap pengembangan hubungan bilateral kedua negara.Dokumen ini telah dirancang dalam pertemuan pejabat senior di Lombok, pertengahan Juni 2007. Dengan kata lain, kedua negara menginginkan suatu proses yang melembaga, suatu mekanisme yang jelas, ada konsep tentang deklarasinya dan roadmap.
Dalam pembicaraan tingkat pejabat senior di Lombok disepakati pembentukan tiga kelompok kerja, yaitu kelompok kerja ekonomi, perdagangan dan investasi; kelompok kerja ilmu dan teknologi, dan ketiga kelompok kerja tentang bidangbidang yang lain. Guru Besar Universitas Indonesia Bidang Rusia Prof Dr N Jenny MT Harjatno menjelaskan, di bidang politik––kedua negara menganut sistem bebas aktif––memang tidak bisa dihindari campur tangan asing di era global.Tapi, hal itu sejauh ini, kata Jenny, tidak merusak hubungan kedua negara. Sebab, kedua negara menjalin hubungan berdasar atas saling pengertian dan tidak mencampuri urusan dalam negeri masing-masing.
”Saya pikir dalam soal politik, kita dengan Rusia itu memiliki kesamaan pandangan dalam hal anti terorisme. Kita memerangi terorisme, Rusia juga bahkan punya sikap yang tegas dalam soal terorisme. Seperti penyanderaan anak-anak sekolah di Besland, 2003 lalu,” ujarnya. Dia menambahkan, rencana kedatangan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Indonesia, pekan ini, harus dijadikan momentum bagi Indonesia untuk makin memperkuat hubungan di pelbagai sektor dengan negara pewaris Uni Soviet itu. Terlebih, saat ini landasan hubungan tidak lagi berdasarkan ideologis seperti yang pernah dilakukan Bung Karno- Kruschev. ”Ke depan saya pikir Rusia bisa kita jadikan sahabat sekaligus mitra. Rusia sekarang sudah menjadi negara demokratis, walaupun partai komunis masih tetap ada. Tapi jangan sampai kita semakin tergantung. Justru dengan kerja sama sekarang ini, kita harapkan perekonomian kita semakin meningkat dan kita bisa berdiri sejajar dengan mereka,”tambahnya.
Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar yang juga mantan Duta Besar RI untuk Rusia mengatakan, secara umum hubungan antara Rusia-Indonesia merupakan keharusan dan kebutuhan sejarah. Sebab, kedua negara memiliki banyak persamaan bahwa Rusia dan Indonesia memiliki profil yang sama. Rusia juga sebuah negara yang sangat besar yang terdiri dari berbagai etnis, namun demikian rakyatnya memiliki rasa nasionalisme yang sangat kuat. Nasionalisme dan kebanggaan nasional yang tinggi juga dimiliki rakyat Indonesia. ”Keberhasilan-keberhasilan dalam mengembangkan hubungan bilateral dalam bidang-bidang tertentu harus diperluas dalam bidang-bidang lain sehingga hubungan menjadi lebih seimbang,” ujarnya.
Peneliti Senior CSIS Kusnanto Anggoro menilai, ”bulan madu” Jakarta-Moskow bisa semakin besar sangat bergantung pada motivasi kedua negara,khususnya Indonesia. Memang, ada perbedaan konsep politik hubungan luar negeri kedua negara dibanding era Bung Karno-Kruschev, di mana saat itu Bung Karno menerapkan politik anti-Barat.Sekaligus,kedua negara sama-sama memiliki partai komunis. ”Sehingga daya hinggap antara Indonesia dan Uni Soviet jauh lebih erat dibandingkan ikatan antara RI-Rusia sekarang. Namun, dengan adanya kunjungan-kunjungan akan memberikan peluang yang lebih baik,” ujarnya.
Terpenting dari hubungan Indonesia- Rusia ini adalah bisa dijadikan pendorong bagi Indonesia untuk memiliki posisi tawar dengan dunia Barat, khususnya Amerika Serikat. Untuk sepenuhnya melepaskan diri dari kepentingan Barat merupakan hal yang sangat sulit.Tapi untuk sekadar menjaga perimbangan saja bahwa Indonesia tidak berada di bawah ketiak single suplier, jadi tidak hanya satu pemasok tunggal. (thomas pulungan/ sunu hastoro/yani a)
sumber