• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

NILAI GUNA (INTRINSIK) VS NILAI ESTETIKA (EKSTRINSIK)

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
NILAI GUNA (INTRINSIK) VS NILAI ESTETIKA (EKSTRINSIK)


Ini kacamata baca sesedokter spesialis yg praktek di RS Internasional. Frame kacamatanya beli di Blok M mall di basement terminal Blok M seharga 45 ribu, & kacanya cuma 150 ribu. Aku tau karena belinya bersama aku. Dan dengan kacamata harga nodem (nopeceng adem) dia tetep terlihat ganteng, elegan & smart.
Kacamata rekan-rekan dia rerata di atas 3 jetong. Katanya frame dari titanium murni, paling ringan. Di bawahnya ada yg dari titanium alloy atau nikel alloy; & pastinya branded lah.
Nilai gunanya sama; untuk membaca.
Nilai tukarnya beda karena dalih bahan & ilusi kualitas. Jika ada yg berkilah 'kualitasnya beda"; toh ketika keinjek atau ketekan sama-sama patah/pecah.

Karena pelupa & murah, Acek (begitu saya memanggil sang dokter ganteng) punya banyak; digeletakin di meja praktek, perpustakaan rumah, kamar tidur, mobil, bahkan kamar mandi karena dia suka membaca buku di kamar mandi sambil duduk santai di toilet duduk. Bentuk frame plastiknya nya pun macam-macam, seperti kaca mata mahal yg katanya ada yg spesifik untuk paras bulat, oval atau segitiga atau sesuai dengan warna rambut. Nilai estetika dari yg murah & mahal; ternyata sama saja. Tergantung kepantasan si pemakai; kalau emang cakep dari sananya, barang murah pun terlihat mahal.

Di jaman hiper-realitas ini, nilai guna semakin jauh ditinggalkan oleh nilai tukar. Propaganda kualitas yg dikaitkan dengan bahan, estetika, up to date, persepsi modern & konsep sukses, sudah memanipulasi masyarakat untuk membeli yg mahal, baru & meninggalkan yg lama.
Propaganda kelangkaan melalui label special edition, limited, deluxe, rare, dll pun ditanamkan di benak masyarakat yg mudah percaya & buta statistik.
Para kapitalis bahkan saling bergabung untuk memperkuat propagandanya untuk menguasai pasar.
Nggak perlu heran kalau motor Vespa dengan tambahan merk Dior dapat dibandrol seharga pajero baru. Padahal tetep aja kehujanan kalau mengendara pas hujan!

Aku pribadi sempet jadi korban propaganda terkait estetika, nilai jual, kelangkaan; sehingga pada masanya saya begitu suka membeli barang branded; sepatu, tas, pakaian. Sempet pula mengenakan hijab kepala cuma karena trend dengan harga minimal 300an ribu untuk brand lokal, & di atas 1 juta untuk brand Turki seperti Armine. Dan hasilnya? Tidak menambah keimananku, malah bikin boncos kantongku.

Dunia ini sudah sarat manipulasi untuk mengatasi overproduksi.
Memutuskan untuk tidak membeli atau mempertahankan nilai guna dengan membeli barang murah atau bekas adalah perlawanan sunyi tetapi bermakna.

Less is more.


Only share my opinion Hari ini 07:20
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.