Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Pekan ini pemerintah Indonesia mewacanakan kebijakan kenormalan baru (new normal). Kebijakan new normal adalah dengan membuka kembali aktivitas ekonomi, sosial & kegiatan publik secara terbatas dengan mengpakai standar kesehatan yg sebelumnya tidak ada sebelum pandemi.
Lalu muncul pertanyaan apakah kebijakan ini tidak terburu buru di saat kurva peningkatan korban Covid-19 terus naik?. Sebelumnya perlu diketahui new normal adalah upaya menyelamatkan hidup warga & menjaga supaya negara tetap dapat berdaya menjalankan fungsinya. New normal adalah tahapan baru setelah kebijakan stay at home atau work from home atau pembatasan sosial diberlakukan untuk mencegah penyebaran masif wabah virus corona.
New normal utamanya supaya warga yg memerlukan aktivitas luar rumah dapat bekerja dengan mengpakai standar kesehatan yg ditetapkan. Jadi bukan sekadar bebas bergerombol atau keluyuran. Selanjutnya new normal diberlakukan karena tidak mungkin warga terus menerus bersembunyi di rumah tanpa kepastian. Tidak mungkin seluruh aktivitas ekonomi berhenti tanpa kepastian yg menyebabkan kebangkrutan total, PHK massal & kekacauan sosial.
Terminologi new normal diciptakan oleh Roger Mcnamee pada 2004, seorang investor teknologi paling sukses belakangan ini. Dalam karyanya The New Normal: Great Oportunities in Time of Great Risk, ia menjelaskan lima belas aturan dalam berinvestasi supaya dalam kondisi krisis tetap bertahan.
Istilah new normal ini menunjukkan sebuah keadaan pasca-krisis ekonomi (2007-2008) & resesi global (2008-2012), yg di saat seperti itu harus ada kesediaan untuk mengpakai aturan yg baru dalam jangka waktu panjang.
Dalam konteks Covid-19, new normal jadi suatu keniscayaan di Indonesia, baik pada aspek ekonomi untuk mencegah perekonomian yg semakin memburuk pasca diberlakukannya PSBB maupun pada aspek sosial untuk mempertahankan & meningkatkan imunitas kesehatan & tubuh. Fase new normal tidak dapat dihindari sebagai konsekuensi mengembalikan roda perekonomian. kalau sektor ekonomi tidak dijalankan, maka krisis akan semakin parah.
Ada beberapa perkiraan kalau virus ini bertahan hingga Oktober 2020, diperkirakan bakal membawa akibat sosial ekonomi yg lebih parah lagi. Oleh karena itu, mau tidak mau kita harus masuk ke dalam era baru ini. Meski begitu, pro & kontra kepada era kenormalan baru ini cukup kuat. Tak sedikit masyarakat merasa pesimis kepada kenormalan baru yg dianggap jadi solusi untuk mengatasi krisis ekonomi.
Maka dari itu pemerintah perlu membangun optimisme di tengah masyarakat untuk menghadapi new normal. Sedangkan Presiden Jokowi bahkan sudah menginstruksikan pemulihan ekonomi secara tepat & cepat. Hal ini ia hinggakan pada saat memimpin rapat terbatas penetapan program pemulihan ekonomi nasional & perubahan postur APBN tahun 2020 di Istana Merdeka, Jakarta pada 4 Mei 2020.
Terakhir untuk memastikan new normal dapat berjalan baik maka pemerintah harus mengerjakan upaya yg sistematis, terkoordinasi & konsisten dalam mengerjakan supervisi publik & law enforcement. Di dalamnya juga termasuk memperbesar kapasitas sektor kesehatan kita untuk mengantisipasi lonjakan penderita Covid-19. Selanjutnya pemerintah pusat & daerah harus bersinergi untuk memastikan pemeriksaan kesehatan yg massif, tersedianya sarana perawatan, vitamin & peralatan medis, mudah dijangkau serta melindungi masyarakat yg paling rentan melalui penyiapan pengamanan sosial yg tepat target & proteksi kesehatan di seluruh wilayah Indonesia.
Hari ini 02:37