Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Jumat ini adalah kali kedua saya shalat jumat berjamaah di masjid di lingkungan tempat tinggalku setelah tak kurang 3 bulan saya menjauh dari tempat ibadah itu baik untuk jumatan maupun shalat wajib. Keberanianku terinspirasi dari kawanku di Bekasi yg kutelpon 2 pekan yg lalu. Ia mengatakan kalau sudah memulai shalat jumat berjamaah di lingkungan tempat tempat tinggalnya.
"Ya, dengan sedikit rasa cemas." katanya.
Sehabis telpon saya coba cari tahu ke tetangga. Informasi yg didapat, di tempatku bahkan jumatan itu sudah dimulai sejak seminggu yg lalu. Terlambat, pikirku. Artinya jumat ini sudah jumatan ke-4 sejak himbauan tak melaksanakan shalat jumatan di lingkunganku. Tak ada berita lonjakan covid-19 positif yg kudengar, sejak 21 hari terakhir. Padahal masa inkubasi virus tersebut normalnya 14 hari. Apakah ini sudah normal?
Belumlah, lha wong secara nasional jumlah terinfeksi terus meningkat. Angka infeksi nasional per 9 Juni 2020 sebanyak 1.043 orang, tanggal 10 Juni bahkan meningkat sebanyak 1.241 orang. Padahal sebelumnya angka terinfeksi positif tidak pernah mencapai ribuan. Secara kurva infeksi covid-19 secara nasional belum melandai sebagai syarat menuju kenormalan baru.
Lalu bagaimana dengan rencana persiapan new normal yg dilakukan pemerintah? Bagi orang awam disambut dengan sukacita, belum lagi tahu apa pengertian new normal & kapan mulai diberlakukan mereka sudah merasa bebas & kembali pada kebiasaan lama. Sementara bagi para pakar -sebagian tentu, & yg merasa sok pakar rencana new normal dianggap sebagai sesuatu yg gegabah. Berpatokan pada kurva penyebaran virus yg masih naik, belum waktunya mengerjakan new normal. Saat ini sebaiknya masyarakat tetap mengurung diri di gua, paling tidak hingga 31 Desember 2020. Terlalu terburu-buru & memberi kesan membiarkan rakyat melawan covid-19 dengan kekebalan alami (herd immunity) atau hidup berdampingan dengan virus.
Serba salah memang. Bila terus-menerus mengurung diri -yang betul tidak sepenuhnya mengurung, perekonomian akan runtuh. Belum lagi dikhawatirkan munculnya penyakit psikologis karena boring & rasa bosan. Tetapi bila dibebaskan yg dapat mengakibatkan infeksi tidak terkendali, tentu sangat berbahaya. Tidak salah kalau orang berpendapat bahwa saat ini lebih baik menyelamatkan nyawa dulu, baru kemudian memperbaiki perekonomian. Tetapi siapa yg dapat menyalahkan kalau ada orang berpendapat lain. Perekonomian masyarakat harus tetap tumbuh & berjalan dalam keadaan pandemi ini karena kemiskinan yg mengancam akibat ambruknya perekonomian dampaknya dapat jauh lebih buruk daripada pandemi covid-19, bahkan.
Menanti kurva penularan melandai sebagaimana idealnya untuk menuju new normal, entah kapan. Menilik kultur masyarakat kita yg susah teratur sepertinya menunggu kurva melandai layaknya menunggu godot. Langkah new normal terbatas mungkin dapat sebagai alternatif. Kelompok masyarakat yg siap melaksanakan new normal boleh didahulukan untuk melaksanakan new normal secara terbatas. Yang dimaksud sanggup itu adalah kelompok masyarakat yg sanggup melaksanakan aktivitas dengan berpedoman pada protokol kesehatan new normal seperti mengpakai masker di tempat umum, menjaga jarak, mencuci tangan sesering mungkin, aktif berolah raga & mengkonsumsi makanan bergizi.
Belajarlah dari jamaah shalat jumat yg dalam beberapa jumat ini mulai kembali dilaksanakan. Jamaah shalat jumat adalah mereka yg taat beragama. Ini pasti, karena sebelum pandemi covid-19 pun cuma orang-orang yg taat yg berangkat shalat jumat. Karena ketaatan beragama ini jamaah shalat jumat mengpakai masker, shap disusun dengan jarak aman, tidak berbicara antar jamaah apalagi tertawa ngakak, & berangkat ke mesjid dengan berjalan kaki -untuk sementara jamaah cuma warga setempat.
Keteraturan & ketaatan jamaah shalat jumat pada protokol kesehatan dalam new normal ini semestinya menular dalam aktivitas lain seperti aktivitas bekerja di kantor, pabrik, jual beli di pasar/mal, pembelajaran di sekolah/pesantren & aktivitas lain. Tidak harus menunggu kurva penularan covid-19 melandai yg entah kapan dapat dicapai.
New normal bukan berarti hidup bebas kembali ke kebiasaan lama, tetapi kita menciptakan kultur baru dalam menjalani kehidupan dengan tatanan baru yg peduli dengan memelihara kesehatan diri & orang lain.
Hari ini 10:45