• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Nenek Usia 73 Tahun Masuk SD

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. goesdun
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

goesdun

IndoForum Junior A
No. Urut
32661
Sejak
7 Feb 2008
Pesan
3.024
Nilai reaksi
66
Poin
48
Dalam catatan Guinness Book of Record orang tertua yang baru memulai pendidikan formalnya di bangku SD adalah Kimani Maruge, pahlawan perang Kenya. Maruge mulai masuk SD pada usia 84 tahun tahun 2004. Bukan hal yang mudah bagi Maruge untuk bisa bersekolah, karena berkali-kali pihak sekolah tempat Maruge mendaftarkan diri menolaknya karena usianya yang sudah uzur dan dirasa tak pantas bergabung dengan bocah-bocah sekolah dasar.

Tapi veteran perang Mau-Mau (Kenya) melawan penjajahan Inggris tahun 1950 ini tak patah semangat. Meski berkali-kali ditolak ia tetap berjuang agar bisa diterima di sekolah negeri setempat. Akhirnya, perjuangan kakek yang memakai alat bantu dengar dan tongkat untuk berjalan ini, berhasil. Kepala Sekolah SD Kapkenduiywo, Jane Obinchu menerimanya sebagai murid, para guru pun dengan senang hati mengajarinya bersama-sama dengan anak-anak SD lainnya.

Sebagian orang memandang Maruge ‘gila’ karena mengenakan seragam SD plus celana pendek, dan tiap pagi berjalan tertatih-tatih menuju sekolah yang jaraknya 4 Km dari rumahnya. Kegigihan Maruge ini pun menjadi pemberitaan media massa dan dengan cepat namanya menjadi terkenal seantero negeri bahkan hingga ke luar negeri.

Maruge pun diundang PBB ke New York dan wajah menjadi poster kampanye pendidikan dunia. “Saya sadar telah tua, tapi untuk saya, usia bukan halangan untuk berhenti belajar. Bersekolah adalah penting,” kata Maruge yang ketika remaja - sebelum meletus perang - pernah bercita-cita menjadi dokter.

Bersekolah agar tidak Kesepian
Kembali ke soal nenek Saeng Sa-ngawong. Apa yang terjadi pada nenek 73 tahun ini, pun tak jauh beda dengan Maruge. Tiap pagi dengan membawa keranjang, Nenek Saeng berjalan menuju sekolahnya di Wat Dong Pa Miang, Chiang Rai, Distrik Muang, Thailand. Isi keranjangnya, selain buku pelajaran juga bekal makan siang, dan penutup mulut. Dia juga membawa obat untuk mengatasi tekanan darah tingginya, juga balsam.

Saya tidak peduli apa kata orang-orang. Saya hanya ingin belajar membaca dan menulis huruf Thailand. Saya ingin paham bahasa Pali, tutur Saeng. Pali adalah bahasa India yang dipakai dalam kitab dan doa-doa Buddha.

Selain ingin belajar, sebenarnya Nenek Saeng punya alasan lain mengapa ia memilih kembali bersekolah yaitu karena Nenek Saeng tidak ingin kesepian. Sejak suaminya meninggal, ia kerap merasa kesepian. Maklum, dia hanya tinggal sendiri di rumah, sementara anak-anaknya telah menikah dan tidak tinggal bersamanya.

Sebenarnya Nenek Saeng pernah sekolah pada usia delapan tahun, namun hanya satu bulan karena orangtuanya tak mampu. “Sekarang saatnya saya mewujudkan impian saya yaitu belajar di sekolah,” kata Saeng kepada Bangkok Post, pekan lalu. Ia mengaku tak malu bergabung dengan teman-teman kecilnya dan beraktivitas seperti murid yang lain, termasuk membersihkan kelas. Di sekolah ia belajar menulis huruf Thailand dan melafalkannya dengan benar.

Para guru yang usianya jauh lebih muda darinya, bahkan ada yang pantas menjadi cucunya, pun dengan antusias mengajar si nenek. Secara umum tak ada yang berbeda, Nenek Saeng mengikuti semua aktivitas sekolah yang dilakukan murid lainnya.

Yang berbeda hanya pada seragam, nenek Saeng tidak mengenakan seragam seperti murid lain. Meja dan kursinya pun lebih besar.

Teman-teman sekelasnya sangat menyukai kehadiran Nenek Saeng karena sering memberi mereka makanan kecil. Nenek selalu memberi kami pencuci mulut, ujar Natapong Manowan (8) teman sekelas Saeng yang kerap menjadi ‘guru privatnya’.

Menurut Wiparat Chumanong, guru di kelas itu, keberadaan Saeng membawa pengaruh positif bagi siswa lain. Sebab, dia menunjukkan karakter pekerja keras dan sopan. —dia/berbagai sumber
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.