• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Internasional Nasib proposal Piala Dunia dua tahunan

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Diggie
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Diggie

IndoForum Activist C
No. Urut
287751
Sejak
6 Apr 2020
Pesan
13.790
Nilai reaksi
1
Poin
0
Berikut adalah berita Nasib proposal Piala Dunia dua tahunan.

Nasib proposal Piala Dunia dua tahunan


Arsip foto - Tangan penjaga gawang Prancis Hugo Lloris mengangkat trofi Piala Dunia ketika mereka menaklukkan Kroasia dalam final Piala Dunia 2018 di Stadion Luzhniki, Moskow, Rusia (15/7/20218). ANTARA/REUTERS/Dylan Martinez/aa.

Jakarta (ANTARA) - 20 Desember 2021 semakin dekat & semakin sengit pula perdebatan mengenai prakarsa Piala Dunia FIFA setiap dua tahun untuk mengganti setiap empat tahun sekali seperti selama ini berlaku.

Pada tanggal itu organisasi sepak bola dunia FIFA akan menggelar pertemuan global yg salah satunya membahas masa depan sepak bola termasuk mempelajari kelayakan prakarsa Piala Dunia dua tahunan yg awalnya diusulkan oleh federasi sepak bola Arab Saudi itu.

Pertemuan global ini digelar online dengan menghadirkan 211 federasi sepak bola di seluruh dunia yg jadi anggota FIFA.

Baca juga: Infantino sebut yg menentang perubahan Piala Dunia ketakutan

Rencana Piala Dunia setiap dua tahun sekali itu sepertinya bakal didukung luas oleh mayoritas federasi anggota FIFA. Tapi sayang, kebanyakan mereka ini tak memiliki lomba yg kuat & bukan patokan dunia sepak bola.

Sebaliknya, dua federasi sepak bola regional terkemuka, yakni UEFA di Eropa & CONMEBOL di Amerika Selatan, menolak mentah-mentah usul ini.

Asosiasi Klub Eropa (ECA) & Forum Liga-liga Dunia (WLF) juga menyatakan ketidaksetujuannya, bahkan raksasa pemegang hak siar olahraga dunia beIN Sports pun menolaknya.

WLF beranggapan rencana itu bakal menghancurkan nilai sepak bola dalam semua tingkatkan & mencela prakarsa ini karena tak berusaha mendapatkan dahulu persetujuan liga, klub & pemain yg jadi subjek sepak bola modern.

Presiden UEFA Aleksander Ceferin bahkan menyatakan akan memboikot Piala Dunia kalau mayoritas dari 211 asosiasi sepak bola mendukung proposal Piala Dunia dua tahunan itu.

UEFA menganggap prakarsa ini membahayakan karena bakal merusak nilai lomba & industri sepak bola modern & menilai cacat karena tidak melibatkan para pemangku kepentingan sepak bola global, khususnya klub & liga, yg keduanya fondasi kemajuan sepak bola global.

Baca juga: Presiden UEFA ancam boikot Piala Dunia bila digelar dua tahun sekali

Tapi tampaknya UEFA khawatir karena proposal ini, aliran pemasukan dapat terpangkas hingga 3 miliar dolar AS kalau prakarsa itu diadopsi FIFA.

Ironisnya mereka yg menentang juga menyebut proposal FIFA itu tak lebih dari soal uang. Bahkan evaluasi ini dihinggakan para pemain sepak bola sendiri, termasuk gelandang Liverpool & timnas Inggris. Jordan Henderson.

Henderson menilai proposal ini bukan demi kebaikan pemain karena akan menciptakan jadwal semakin padat yg akibatnya membahayakan kesehatan & bahkan masa depan karir pesepak bola.

Henderson menganggap proposal terbaru FIFA yg diprakarsai Arab Saudi tersebut "melulu soal uang, hak siar televisi."

Tak semua seperti Henderson, gelandang Manchester City Kevin de Bruyne malah menilai proposal itu patut dicoba. Pemain timnas Belgia ini tak mau gegabah menyebut prakarsa itu didasari motif profit belaka.

Dan ternyata audit lembaga konsultansi keuangan KPMG & Delta Partners sendiri lebih mendukung pernyataan de Bruyne, ketimbang kekhawatiran yg dihinggakan Jordan Henderson.

Baca juga: UEFA sebut wacana Piala Dunia dua tahunan rusak lomba klub


Kompromi

Menurut KPMG & Delta Partners justru liga-liga sepak bola & UEFA bakal kehilangan pemasukan 8 miliar euro (Rp129 triliun) per musim dari pendapatan hak siar televisi, pertandingan & kontrak komersial.

Jadwal pertandingan antar-timnas yg semakin padat dapat mengubah drastis liga-liga nasional, termasuk pengurangan jumlah regu yg berkompetisi dalam liga, laga sepak bola tidak cuma digelar akhir pekan namun juga hari biasa, & pertandingan domestik jadi sangat berkurang.

Piala Dunia dua tahunan juga dapat menciptakan pengiklan kehilangan minat kepada sepak bola domestik & hal ini bakal merugikan pemain yg akibatnya mempengaruhi kualitas & masa depan liga domestik.

Tapi FIFA bergeming. Presiden mereka, Gianni Infantino, segera mengalihkan perhatian kepada negara-negara yg liga domestiknya tidak semenarik Eropa & Amerika Latin, dengan menyatakan Piala Dunia dua tahunan akan memajukan negara-negara kecil & Piala Dunia jadi lebih partisipatif, tak lagi untuk lingkaran eksklusif sejumlah kecil negara.

FIFA memang sudah akan memperbanyak regu peserta Piala Dunia dari saat ini 32 regu jadi 48 regu pada Piala Dunia 2026. Namun, menurut Infantino, perubahan itu tetaplah kelewat kecil karena menunggu setiap empat tahun itu terlalu lama.

Sementara itu mantan manajer legendaris Arsenal Arsene Wenger yg kini Kepala Pengembangan Sepak bola Global FIFA, menampik tudingan ada keserakahan di balik prakarsa Piala Dunia dua tahunan itu.

Wenger menandaskan Piala Dunia dua tahunan didasari oleh semangat menciptakan sepak bola lebih baik lagi di mana semua orang, tidak cuma di Eropa, berkesempatan sama menikmati turnamen-turnamen di mana orang-orang mereka turut di dalamnya, tidak cuma menonton Liga Premier & liga-liga Eropa seperti saat ini terjadi.

Baca juga: Piala Dunia dua tahunan bakal pengaruhi kualitas, mengatakan Brendan Rodgers

Perdebatan makin sengit saja, malah tumpah ke pelataran politik, khususnya mempreteli catatan hak asasi manusia Arab Saudi yg mengusulkan proyek tersebut.

Salah satu yg mengupas soal ini adalah Majelis Parlemen Dewan Eropa (PACE) yg meminta dunia sepak bola juga mempedulikan proteksi hak asasi manusia.

Pro-kontra pun semakin keras & sengit. Mereka yg menentang semakin keras menolak, sedangkan FIFA & federasi-federasi nasional yg menilai prakarsa itu peluang untuk memajukan sepak bola mereka, juga kian agresif menggalang dukungan.

Memang akan rugi akbar bagi sepak bola global kalau Eropa, seperti disebut Presiden UEFA Aleksander Ceferin, memboikot Piala Dunia seandainya FIFA mengadopsi proposal Piala Dunia dua tahunan itu.

Namun suara-suara lain di dalam FIFA yg bukan federasi mapan seperti UEFA & CONMEBOL, tak boleh diabaikan, kalau benar tujuan proposal ini demi menciptakan sepak bola lebih baik lagi & lebih partisipatif seperti disebut Arsene Wenger.

Entah argumentasi siapa yg akan menang dalam Kongres FIFA pada 20 Desember itu. Tetapi ketika pertentangan semakin keras, biasanya di situ terjadi peluang kompromi seperti sudah diindikasikan oleh Wakil Presiden FIFA Victor Mantagliani.

Kompromi itu dapat berupa turnamen yg mendekati kelas Piala Dunia yg digelar di antara dua Piala Dunia seperti Piala Konfederasi yg sudah dihapus pada 2019.

Namun apa pun itu, 20 Desember bakal jadi momen akbar bagi sepak bola global, entah itu hasilnya kompromi, atau diterima & tak diterimanya usul Piala Dunia setiap dua tahun tersebut.

Baca juga: Sederet fakta wacana Piala Dunia dua tahunan

Berita diatas dikutip dari internet, jika Nasib proposal Piala Dunia dua tahunan adalah spam, mohon beritahu kami.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.