• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Berita Nasib Badak Jawa, Hewan Terlangka & Misterius

yan raditya

IndoForum Addict E
No. Urut
163658
Sejak
31 Jan 2012
Pesan
24.461
Nilai reaksi
72
Poin
48
ZR9vw.jpg
Tahun ini adalah Tahun Badak Internasional Internasional, itu yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam acara penyerahan penghargaan Adipura dan Kalpataru Selasa 5 Juni 2012 lalu. Tak hanya sekedar jargon, SBY menekankan, ini soal reputasi bangsa.

Mungkin tak banyak orang tahu, nusantara dianugerahi dua dari lima spesies badak di dunia. Yakni, Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) dan Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus). Yang terakhir, selangkah lagi di ambang kepunahan, jika tak ada upaya dan dukungan masyarakat untuk menyelamatkannya.

Pada Oktober 2011, Badak Jawa terakhir yang ada di Vietnam ditemukan mati mengenaskan, dengan luka tembak di kaki. Cula tunggalnya diamputasi. Badak Jawa di negeri itu dinyatakan punah. Harapan terakhir kelestarian spesies ini berada di pundak Indonesia, di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK).

Kepala Urusan Kerjasama dan Humas TNUK, Indra mengatakan, berdasarkan monitoring populasi dengan kamera video trap diketahui, ada 35 ekor Badak Jawa di hutan lestari di wilayah taman nasional. "Ada 22 jantan dan 13 betina. Lima di antaranya berusia remaja atau anak-anak," kata dia kepada VIVAnews, Rabu 6 Juni 2012.

Keberadaan generasi muda Badak Jawa tentu saja menjadi kabar baik. Bahwa habitat terakhir spesies mamalia paling langka dan terancam di dunia itu masih baik, masih mendukung adanya regenerasi.

Indra menambahkan, pencanangan tahun badak internasional akan mempengaruhi upaya konservasi badak di Indonesia. Ke arah positif tentunya. "Ini momentum untuk mempopulerkan Badak Jawa di tengah masyarakat. Seperti halnya Komodo yang dilakukan Pak JK (Jusuf Kalla). Semakin terkenal, masyarakat akan semakin peduli," kata dia.

Ke depan, diharapkan binatang purba itu tak hanya bisa bertahan hidup, tapi juga berkembang biak.

Misteri dan mitos mematikan

Meski eksistensinya telah diketahui ada sejak ribuan tahun lalu, tak banyak yang diketahui soal Badak Jawa. Termasuk bagaimana mereka berkembang biak, sifat seksualnya.

Hewan itu tak mudah didekati, hidupnya soliter dan tak berkelompok. Jika didekati manusia, Badak Jawa akan agresif dan berpotensi menyerang, menikam dengan giginya.

"Mengapa mereka bisa makan tanaman yang kalau kena tangan manusia bisa terasa seperti terbakar? Dia punya zat apa di tubuhnya? Ini masih misteri," kata Indra.

Ada dugaan, sifat antisosial hewan itu adalah adaptasi dari tekanan populasi. Hewan yang dulunya hidup berkelompok dan berjumlah banyak harus menghadapi tekanan, yang paling besar dari manusia yang memburunya. Demi cula.

Lebih dari 2.000 tahun, cula badak menjadi komoditas berharga dalam pengobatan Tiongkok. Salah satunya jadi obat kuat. Kulitnya dulu dipakai untuk membuat baju perang. Harganya cula Badak Jawa sangat tinggi, sekitar $30.000 per kilogram, lebih mahal dari cula Badak Afrika.

Padahal, kata Indra, tak ada bukti empiris khasiat cula badak dalam ilmu kedokteran. "Klaim itu dibuat hanya untuk kepentingan bisnis orang-orang tertentu. Secara medis tak ada manfaatnya," kata dia. Namun, mitos tersebut terlanjur menjadikan badak sebagai obyek pembantaian.

Ia menambahkan, beruntung masyarakat Ujung Kulon tak ada yang memburu Badak Jawa. Ancaman perburuan tak ada sejak 10 tahun lalu. "100 persen penduduk di sekitar taman nasional tak memburu Badak Jawa. Mereka menyebut hewan itu sebagai "Abah Gede". Ada kepercayaan, jika mengganggu badak, apalagi berburu itu pamali."

Namun, ancaman datang dari bentuk lain: konflik kepentingan dengan manusia. "Kini, ancaman terbesar mereka adalah konversi hutan menjadi lahan pertanian yang terus bertambah tiap tahun."

Pada tahun 1990-an misalnya, wilayah rambahan terdata 400 hektar. Pada 2008 berlipat jadi 3.500 hektar. "Kalau ini terus dibiarkan habitat Badak Jawa makin sempit dan terancam."

Ancaman yang lain berasal dari alam: bencana yang membayangi. Semenanjung Ujung Kulon pernah hancur oleh letusan Krakatau pada 1883. Letaknya yang dekat dengan laut juga berpotensi tsunami.

Sekali saja habitat alaminya terkena bencana dahsyat, Badak Jawa akan terhapus dari muka bumi. Untuk itulah, diterangkan Indra, ke depan diharapkan ada beberapa Badak Jawa yang ditranslokasikan ke tempat yang lebih aman.

"Spesies yang terancam berada di satu lokasi memiliki risiko kepunahan yang tinggi. Karena penyakit dan bencana alam seperti letusan gunung dan tsunami," kata Indra. "Jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan, paling tidak ada beberapa di antara mereka yang selamat."
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.