yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Joss Wibisono, pria asal Malang kelahiran 1959 itu menulis buku pertamanya terkait keterkaitan antara Indonesia dan Eropa.
Joss, yang saat ini berprofesi sebagai jurnalis di Radio Nederland di Hilversum Belanda itu memberi judul buku perdananya Saling Silang Indonesia-Eropa.
Buku yang ditulisnya berdasarkan pengamatanya semenjak di Belanda 25 tahun itu memuat tentang keterkaitan budaya Indonesia dengan negara-negara di Eropa. Buku setebal 223 halaman itu dia rekomendasikan untuk semua kalangan yang ingin mengetahui asal usul budaya termasuk musik dan Bahasa Indonesia.
"Faktor internasional juga menentukan terbentuknya budaya Indonesia," kata Joss dalam bedah buku di perpustakaan Universitas Negeri Malang (UM), Rabu (12/9/2012).
Lebih dari itu, Joss menuturkan lebih dalam beberapa budaya Eropa yang dinilai mirip atau sama dengan budaya Indonesia. "Seperti musik gamelan yang mempengaruhi musik klasik barat," ujarnya.
Di Belanda, beberapa nama jalan pun menggunakan Bahasa Indonesia, seperti Madurastraat (jalan Madura), Bogortuin (jalan Bogor), dan Javaeiland (pulau Jawa). Juga beberapa kata yang menurut Joss hampir sama antara di Indonesia dan Belanda, seperti senang (senang), piekeren (pikir), dan pientere (pintar).
"Yang membedakan hanya ejaanya. Kalau Belanda menggunakan ejaan ie, Indonesia pakai oe," ungkapnya.
Beberapa kata Bahasa Indonesia yang ditemui di Belanda itulah yang dijadikan alasan Joss menerbitkan buku itu.
Awalnya Joss juga penasaran bagaimana Bahasa Belanda hampir mirip dengan Bahasa Indonesia. "Kota kasa Indonesia ternyata diserap Belanda," tambahnya.
Selain Belanda, budaya di Perancis pun hampir sama dengan Indonesia, terlebih di bidang musik klasik yang banyak menggunakan gamelan. Di Indonesia, gamelan juga digunakan sebagai salah satu alat musik tradisional.
Tidak hanya musik, pemimpin Indonesia, Habibie dan Soeharto yang dinilai diktator sama dengan Speer dan Hitler. "Jadi ada tiga hal yang saling berkaitan antara Indonesia dan negara Eropa yaitu diktator, musik, dan bahasa," tukas alumni Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga Jawa Tengah itu.
Buku itu telah diterbitkan perdana Matgin Kiri pers pada September ini sebanyak 1.500 eksemplar. Setelah buku ini, Joss juga berencana menerbitkan buku keduanya tentang sejarah Kanan Indonesia, juga buku ketiganya terkait mahasiswa di Belanda.
Joss, yang saat ini berprofesi sebagai jurnalis di Radio Nederland di Hilversum Belanda itu memberi judul buku perdananya Saling Silang Indonesia-Eropa.
Buku yang ditulisnya berdasarkan pengamatanya semenjak di Belanda 25 tahun itu memuat tentang keterkaitan budaya Indonesia dengan negara-negara di Eropa. Buku setebal 223 halaman itu dia rekomendasikan untuk semua kalangan yang ingin mengetahui asal usul budaya termasuk musik dan Bahasa Indonesia.
"Faktor internasional juga menentukan terbentuknya budaya Indonesia," kata Joss dalam bedah buku di perpustakaan Universitas Negeri Malang (UM), Rabu (12/9/2012).
Lebih dari itu, Joss menuturkan lebih dalam beberapa budaya Eropa yang dinilai mirip atau sama dengan budaya Indonesia. "Seperti musik gamelan yang mempengaruhi musik klasik barat," ujarnya.
Di Belanda, beberapa nama jalan pun menggunakan Bahasa Indonesia, seperti Madurastraat (jalan Madura), Bogortuin (jalan Bogor), dan Javaeiland (pulau Jawa). Juga beberapa kata yang menurut Joss hampir sama antara di Indonesia dan Belanda, seperti senang (senang), piekeren (pikir), dan pientere (pintar).
"Yang membedakan hanya ejaanya. Kalau Belanda menggunakan ejaan ie, Indonesia pakai oe," ungkapnya.
Beberapa kata Bahasa Indonesia yang ditemui di Belanda itulah yang dijadikan alasan Joss menerbitkan buku itu.
Awalnya Joss juga penasaran bagaimana Bahasa Belanda hampir mirip dengan Bahasa Indonesia. "Kota kasa Indonesia ternyata diserap Belanda," tambahnya.
Selain Belanda, budaya di Perancis pun hampir sama dengan Indonesia, terlebih di bidang musik klasik yang banyak menggunakan gamelan. Di Indonesia, gamelan juga digunakan sebagai salah satu alat musik tradisional.
Tidak hanya musik, pemimpin Indonesia, Habibie dan Soeharto yang dinilai diktator sama dengan Speer dan Hitler. "Jadi ada tiga hal yang saling berkaitan antara Indonesia dan negara Eropa yaitu diktator, musik, dan bahasa," tukas alumni Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga Jawa Tengah itu.
Buku itu telah diterbitkan perdana Matgin Kiri pers pada September ini sebanyak 1.500 eksemplar. Setelah buku ini, Joss juga berencana menerbitkan buku keduanya tentang sejarah Kanan Indonesia, juga buku ketiganya terkait mahasiswa di Belanda.