notia
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 8464
- Sejak
- 4 Nov 2006
- Pesan
- 8.004
- Nilai reaksi
- 474
- Poin
- 83
Melihat Museum Santet di Kota Surabaya, Ditemukan Jarum di Usus Bayi Berusia Tiga Bulan
SURYA, Thursday, 22 May 2008
Dua foto rontgen di Museum Kesehatan dr Adhyatma MPH milik Pusat Penelitian dan Pengembagan Sistem dan Kebijakan Kesehatan (Puslitbang Sisjakkes) Departemen Kesehatan Surabaya memperlihatkan gotri, paku, dan jarum di usus manusia. Tak cuma memajang, museum ini juga mengkaji ilmiah fenomena ini.
Bagian budaya santet ini menjadi magnet tersendiri selain benda kesehatan lain di museum itu. Pengunjungnya bahkan tidak hanya dari kota-kota di Indonesia, namun juga dari luar negeri seperti Malaysia dan Singapura.
Beberapa di antaranya rela menyumbangkan bendanya untuk dipajang di museum itu. Dari benda-benda sumbangan pengunjung ini, di antaranya ada sejumlah keris yang dipercaya memiliki kekuatan gaib. Meski berkekuatan gaib, pihak museum enggan melakukan ritual pencucian benda-benda ini. “Keris seperti ini kadang-kadang memang memiliki kekuatan, tapi kadang-kadang kekuatannya hilang. Tergantung dari aura pengunjungnya,” kata Budi Sundarto, desainer interior museum, kepada Surya.
Sejumlah pengunjung juga sering menguji kekuatan benda-benda itu. “Pernah ada reporter sebuah televisi yang memang tahu tentang kekuatan ini. Ternyata kekuatan keris ini tiba-tiba hilang,” cerita Budi.
Yang terasa janggal, di antara benda-benda seperti piranti santet dan hasil-hasil pengobatan santet, di museum yang berlokasi di Jl Indrapura 17 Surabaya ini juga terdapat alat modern misalnya mikroskop. Keberadaan mikroskop tidak cuma melengkapi interior, namun menjadi rangkaian piranti santet yang dipamerkan.
Menurut HS, mantan peneliti utama Puslitbang Sisjakkes, mikroskop ini kerap digunakan untuk meneliti jenis jaringan (tubuh) setelah seseorang mendapatkan pengobatan supranatural dari penyakit berbau santet. Salah satunya hasil penelitian jaringan yang didapat dari operasi dukun di Jatim pada 1999. “Kami tidak bisa percaya begitu saja jaringan yang katanya berhasil dikeluarkan dari pengobatan supranatural. Karena itu harus diteliti,” terang HS menolak menyebut nama lengkapnya demi alasan keselamatan.
Bagaimana hasil kajiannya? HS menolak menjelaskan dengan alasan semua hasil kekuatan batin atau rasa tidak bisa dijelaskan secara nalar. Hal itu akan merusak sistem ilmu batin yang ada saat ini. “Jangan sampai rahasia yang ada di kekuatan rasa itu hilang. Ilmu pengetahuan (iptek) bukan segala-galanya,” selorohnya.
Diakui, sejumlah hasil kajian ilmiah bisa menyentuh kekuatan rasa itu. Seperti tertangkapnya benda-benda keras di dalam tubuh manusia di dua rontgen yang dipajang di museum. Rontgen pertama milik orang dewasa yang menunjukkan adanya gotri dan paku dalam usus. Menurut HS, benda-benda itu pemberian dukun untuk dimakan sebagai pengobatan. Namun benda itu tidak dapat keluar bersama kotoran selama dua minggu.
“Kedua benda ini baru bisa dikeluarkan setelah diberikan tenaga dalam,” terang HS tanpa mau menyebut nama pasien dan rumah sakit yang mengeluarkan rontgen itu.
Rontgen yang kedua milik seorang bayi berusia tiga bulan yang dirawat di RSU dr Soetomo Surabaya pada1962. Di rontgen itu tampak jarum di dalam usus dan di dalam rongga perut/abdomen. Benda-benda tersebut berada di tubuh bayi yang sewaktu dibawa ke dokter dalam keadaan panas tinggi. Pasien sudah tidak tertolong. Tapi sebelum meninggal, dia di-rontgen dan pada hasil foto rontgen tampak jarum.
“Benda-benda ini memang berhasil difoto, tapi yang masih menjadi pertanyaan kan bagaimana benda-benda ini bisa masuk dan keluar dari dalam tubuh manusia,” kata HS.
Menurut pria beruban ini, kekuatan otak manusia ada batasannya. Di luar itu ada unsur rasa dan hati, dan itu tidak harus diilmiahkan semuanya. “Kalau semua diilmiahkan, unsur rasanya akan hilang. Biarlah unsur rasa itu tetap ada menjadi rahasia alam ini. Ilmu itu milik Allah, manusia hanya mendapatkan sebagian kecil dari ilmu Allah. Itu harus dipahami,” kata HS yang kini sudah pensiun dari Puslitbang Sisjakkes.
Mabaroch SSos, Kepala Sub Bidang Jaringan Informasi dan Perpustakaan, Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan Depkes memberi kesempatan kepada ilmuwan untuk mengkaji fenomena rasa/batin di museum itu ke dalam penelitian ilmiah. “Kami tidak mungin memaksa bahwa fenomena ini ada. Tapi kami menantang untuk membuktikannya,” kata Mabaroch
SURYA, Thursday, 22 May 2008
Dua foto rontgen di Museum Kesehatan dr Adhyatma MPH milik Pusat Penelitian dan Pengembagan Sistem dan Kebijakan Kesehatan (Puslitbang Sisjakkes) Departemen Kesehatan Surabaya memperlihatkan gotri, paku, dan jarum di usus manusia. Tak cuma memajang, museum ini juga mengkaji ilmiah fenomena ini.
Bagian budaya santet ini menjadi magnet tersendiri selain benda kesehatan lain di museum itu. Pengunjungnya bahkan tidak hanya dari kota-kota di Indonesia, namun juga dari luar negeri seperti Malaysia dan Singapura.
Beberapa di antaranya rela menyumbangkan bendanya untuk dipajang di museum itu. Dari benda-benda sumbangan pengunjung ini, di antaranya ada sejumlah keris yang dipercaya memiliki kekuatan gaib. Meski berkekuatan gaib, pihak museum enggan melakukan ritual pencucian benda-benda ini. “Keris seperti ini kadang-kadang memang memiliki kekuatan, tapi kadang-kadang kekuatannya hilang. Tergantung dari aura pengunjungnya,” kata Budi Sundarto, desainer interior museum, kepada Surya.
Sejumlah pengunjung juga sering menguji kekuatan benda-benda itu. “Pernah ada reporter sebuah televisi yang memang tahu tentang kekuatan ini. Ternyata kekuatan keris ini tiba-tiba hilang,” cerita Budi.
Yang terasa janggal, di antara benda-benda seperti piranti santet dan hasil-hasil pengobatan santet, di museum yang berlokasi di Jl Indrapura 17 Surabaya ini juga terdapat alat modern misalnya mikroskop. Keberadaan mikroskop tidak cuma melengkapi interior, namun menjadi rangkaian piranti santet yang dipamerkan.
Menurut HS, mantan peneliti utama Puslitbang Sisjakkes, mikroskop ini kerap digunakan untuk meneliti jenis jaringan (tubuh) setelah seseorang mendapatkan pengobatan supranatural dari penyakit berbau santet. Salah satunya hasil penelitian jaringan yang didapat dari operasi dukun di Jatim pada 1999. “Kami tidak bisa percaya begitu saja jaringan yang katanya berhasil dikeluarkan dari pengobatan supranatural. Karena itu harus diteliti,” terang HS menolak menyebut nama lengkapnya demi alasan keselamatan.
Bagaimana hasil kajiannya? HS menolak menjelaskan dengan alasan semua hasil kekuatan batin atau rasa tidak bisa dijelaskan secara nalar. Hal itu akan merusak sistem ilmu batin yang ada saat ini. “Jangan sampai rahasia yang ada di kekuatan rasa itu hilang. Ilmu pengetahuan (iptek) bukan segala-galanya,” selorohnya.
Diakui, sejumlah hasil kajian ilmiah bisa menyentuh kekuatan rasa itu. Seperti tertangkapnya benda-benda keras di dalam tubuh manusia di dua rontgen yang dipajang di museum. Rontgen pertama milik orang dewasa yang menunjukkan adanya gotri dan paku dalam usus. Menurut HS, benda-benda itu pemberian dukun untuk dimakan sebagai pengobatan. Namun benda itu tidak dapat keluar bersama kotoran selama dua minggu.
“Kedua benda ini baru bisa dikeluarkan setelah diberikan tenaga dalam,” terang HS tanpa mau menyebut nama pasien dan rumah sakit yang mengeluarkan rontgen itu.
Rontgen yang kedua milik seorang bayi berusia tiga bulan yang dirawat di RSU dr Soetomo Surabaya pada1962. Di rontgen itu tampak jarum di dalam usus dan di dalam rongga perut/abdomen. Benda-benda tersebut berada di tubuh bayi yang sewaktu dibawa ke dokter dalam keadaan panas tinggi. Pasien sudah tidak tertolong. Tapi sebelum meninggal, dia di-rontgen dan pada hasil foto rontgen tampak jarum.
“Benda-benda ini memang berhasil difoto, tapi yang masih menjadi pertanyaan kan bagaimana benda-benda ini bisa masuk dan keluar dari dalam tubuh manusia,” kata HS.
Menurut pria beruban ini, kekuatan otak manusia ada batasannya. Di luar itu ada unsur rasa dan hati, dan itu tidak harus diilmiahkan semuanya. “Kalau semua diilmiahkan, unsur rasanya akan hilang. Biarlah unsur rasa itu tetap ada menjadi rahasia alam ini. Ilmu itu milik Allah, manusia hanya mendapatkan sebagian kecil dari ilmu Allah. Itu harus dipahami,” kata HS yang kini sudah pensiun dari Puslitbang Sisjakkes.
Mabaroch SSos, Kepala Sub Bidang Jaringan Informasi dan Perpustakaan, Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan Depkes memberi kesempatan kepada ilmuwan untuk mengkaji fenomena rasa/batin di museum itu ke dalam penelitian ilmiah. “Kami tidak mungin memaksa bahwa fenomena ini ada. Tapi kami menantang untuk membuktikannya,” kata Mabaroch
