• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Berita Mungkinkah Harun Yahya Diancam Freemasonry?

yan raditya

IndoForum Addict E
No. Urut
163658
Sejak
31 Jan 2012
Pesan
24.461
Nilai reaksi
72
Poin
48
dBvnm.jpg
Tanyalah anak-anak muda tentang Freemasonry. Mungkin mereka akan bilang,” Illumi nasi? Oh, free mesen tapi pulangnya bayar ya?”

Memang, setelah demam Freemason sempat ditularkan ‘Da Vinci Code’ sekitar satu dekade lalu, kini tak banyak lagi orang bicara tentang organisasi penuh rahasia itu. Jarang lagi ada bisik-bisik, perbincangan semi serius bagaimana organisasi itu konon telah menjadi pemerintah bayangan di AS. Atau bagaimana kelompok yang sering dinisbatkan sebagai komunitas Pagan itu merancang untuk menguasai dunia.

Tak jelas bagaimana awalnya. Yang pasti, selalu ada misteri pada kata Freemasonry. Orang mengucapkannya dengan hati-hati, mungkin karena aneka pertanyaan dan ketidaktahuan yang menguasai diri.

Tetapi mungkin ketidaktahuan pula yang justru membuat organisasi itu menjadi besar. Dalam perkembangannya, bahkan menjadi menjadi semacam ‘organisasi berbahaya’. Umumnya orang segera mengartikan kata itu sebagai mafia abad pertengahan, yang berada di balik momen politik penting di dunia.

Banyak buku merujuk kelompok ini berawal dari para Ksatria Templar yang kehilangan kepercayaan mereka akan agama (Kristen) sepulang dari Perang Salib. Tak kurang dari ‘The Holy Blood, Holy Grail’ tulisan Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln; ‘The Templar Revelation’ yang ditulis Lynn Picket, sampai buku kecil ‘Secret Societies’ dari Michael Bradley.

Keterangan tentang mereka memang selalu miring dan berbau teori konspirasi. Bradley menulis,” Simbol dan pengaruh Freemasonry nyata sekali dalam kehidupan kita. Di lembar uang dolar AS nyata sekali termaktub lambang Freemason, yakni sebiji mata. Itu artinya, Freemason selalu mengawasi gerak gerik dunia. Juga simbol piramida, bintang di atas kepala rajawali yang membentuk pentagram, serta motto novus ordo seclorum (tata dunia baru). Artinya, mereka menegaskan, hanya mereka yang boleh memimpin dunia.”

Anda mungkin saja segera teringat George Bush, para hawkish dan arogansi kental Project for New American Century mendengar kata latin itu.

Kerahasiaan memang menjadi aroma utama organisasi itu. Karena itu sukar untuk mengonfirmasi, apa saja info tentang mereka yang benar-benar valid. Misalnya, benarkah demi kerahasiaan, setiap Freemason mengucapkan sumpah ini manakala dibai’at sebagai anggota?

“Saya bersumpah, selalu menyembunyikan dan tidak mengungkapkann apapun dari seni, bagian atau titik-titik rahasia Freemasonry...jika secara sadar dan sengaja saya melanggar sumpah, saya akan menerima hukuman, paling ringan adalah tenggorokan saya dipotong, lidah saya dicerabut hingga akarnya...”Tak ada yang bisa mengonfirmasi kebenaran sumpah yang tercatat dalam buku Bradley itu.

Tak ada yang bisa menegaskan benar tidaknya Freemasonry di balik kapitalisme dunia, perbankan dunia yang tak mengenal kata adil, mafia yang menguasai perdagangan kota-kota dunia, dan sebagainya.

Juga tak jelas benar tidaknya Joseph Fort Newton, penulis ‘The Builders: A Story and Study of Freemasonry’, kabarnya sempat menjadi otoritas tertinggi Freemasonry dan berkata,” Freemasonry adalah agama, peribadatannya mengikuti petunjuk Kabbala, kitab mistik abad pertengahan...” dan sebagainya.

Tidak jelas, benarkah Freemasonry memegang buku suci yaitu ‘Moral dan Dogma’, tulisan Albert Pike, seorang master Freemasonry yang -–konon pula, menyebutkan bahwa Lucifer sang Setan adalah Tuhan mereka.

Juga entah darimana manakala Harun Yahya melalui buku-bukunya, ‘Judaism and Fremasonry’, Freemasonry and Capitalism’, Satan’s Religion: Freemasonry’, ‘Jehovah’s Sons and the Freemasonry’, serta ‘New Masonic Order’ sampai menilai Freemasonry adalah kelompok Yahudi yang menjalankan perintah rahasia Ordo Bait Allah dan Zionisme Internasional.

Yahya percaya adanya agenda tersembunyi Freemasonry untuk menghancurkan Islam, melakukan kontrol terhadap pejabat-pejabat Arab, melakukan berbagai sabotase dan mengontrol mafia.

Yang terdengar agak ganjil dan paradoksal, Yahya percaya mereka melakukan sihir, melaksanakan serta menyebarkan ajaran-ajaran Yudaisme, ateisme, komunisme, paganisme, naziisme, tapi juga mendukung saintologi.

Bahwa Freemasonry dianggap antiKristen, Baigent menulis, sampai dua ratus tahun lalu Katolik Roma memberlakukan hukuman mati bagi orang-orang Katolik yang menjadi anggota Freemason.

Maka tentu saja kita terperangah manakala Harun Yahya kini justru mengakui diri sebagai elit Freemasonry. Wajar bila kita bertanya, apakah pengakuan itu datang karena Yahya sadar tudingannya salah setelah menjalin hubungan dengan Freemasonry? Ataukah ada sesuatu yang menekan tokoh antiFreemason itu, hingga justru kini menjadi bagian kelompok yang dulu dia benci?

Kini, hal itu justru jadi misteri tersendiri.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.