Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
HAI AGAN DAN SISTA!
Semakin ke sini, serangan siber atau serangan di dunia maya semakin canggih. Hal ini menciptakan Departemen Keamanan bersama penyalur telekomunikasi harus bekerja lebih keras. Mereka terus mengembangkan perangkat keamanan internet, guna melindungi sistem daring, khususnya situs-situs penting supaya tak dimasuki oleh para peretas.
Bicara tentang kejahatan siber, tahukah Gansis siapa pelaku kejahatan siber perdana di dunia? Kapan serangan siber perdana itu terjadi? Syukurlah bagi yg sudah tahu. Bagi yg tidak tahu, kalian harus baca thread ane hingga habis. Pasalnya, kali ini ane akan membahas tentang serangan siber perdana di dunia.
Kajja!
Pukul 08:30 waktu Amerika Serikat, pada 2 November 1988, sebuah serangan sudah memperlambat kerja jaringan internet di komputer dengan sistem operasi Unix. Sebuah worm berbahaya sudah diluncurkan di internet, & teridentifikasi berasal dari komputer Institut Teknologi Massachustts (MIT). Mahasiswa Universitas California, yg komputernya terinfeksi worm ini--melapor pada pihak berwajib dengan kalimat, "We are currently under attack." Kami sedang diserang sekarang.
Situasi berubah kacau seketika. Departemen Keamanan AS & pihak telekomunikasi langsung bertindak, berusaha menghentikan worm yg menyebar liar & tak terkendali tersebut. Keadaan semakin buruk, ketika 6000 komputer yg tersambung ke internet dilaporkan sudah terinfeksi worm misterius itu. Di antaranya ialah komputer di universitas bergengsi: Harvard, Pricenton, Stanford, Johns Hopkins, serta komputer di NASA & Lawrence Livermore National Laboratory.
Kacau! Aktivitas internet terhambat. Memang worm ini tidak merusak file-file di komputer. Namun, jaringan yg merangkak lambat sudah menimbulkan kerugian akbar mencapai sepuluh juta dollar. Email pun tidak dapat dikirim hingga berhari-hari. Karenanya, beberapa komunitas memutuskan untuk melepas komputer mereka dari jaringan internet hingga berminggu-minggu lamanya. Ada pula yg menghapus sistem online mereka karena keamanan internet yg sedang terganggu.
Butuh 72 jam lamanya untuk mengidentifikasi tipe worm ini. Namun, tetap saja penyebarannya belum dapat dikendalikan. Sampai-hingga FBI pun ikut turun tangan, memecahkan; cara menghentikan penyebaran worm & mencari penyebar worm yg menyebabkan segala kekacauan itu.
Tak lama setelah kekacauan, sebuah pesan tak bertuan muncul di internet. Pesan itu berisi permintaan maaf atas segala kekacauan yg terjadi, karena dirinya (si pengirim pesan) yg jadi dalangnya. Ia juga melampirkan cara menghentikan worm tersebut. Sayangnya, karena masalah jaringan, cuma sedikit orang yg membaca pesan itu sehingga berita tersebut tidak ter-publish.
Berikutnya, panggilan anonim terhubung ke redaksi The New York Times. Si penelepon menjelaskan bahwa temannyalah yg menciptakan worm di internet. Ia bercerita bahwa temannya sedang mengerjakan eksperimen teknologi. Akan tetapi eksperimennya gagal sehingga menimbulkan worm yg menyebar liar. Ia juga menjabarkan, bahwa temannya meminta si penelepon untuk menulis pesan di internet. Sayangnya cuma sedikit orang yg membaca pesan tersebut. Hingga akhirnya ia berinisiatif untuk menghubungi pihak The Times.
Hal itu tentu saja mengejutkan pihak The Times. Mengingat FBI belum berhasil menemukan dalang dari worm perusuh tersebut. Akhirnya, berdasarkan informasi si penelepon tersebut, The Times merilis berita bahwa dalang dari kerusuhan internet itu ialah Robert Tappan Morris (23), mahasiswa pascasarjana di Cornell University. Berita ini langsung direspon cepat oleh FBI. Mereka menahan Morris & rekan-rekannya--termasuk si penelepon--untuk diinterogasi.
Diketahui bahwa Morris adalah putra dari seorang kriptografer di National Security Agency (NSA). Morris adalah ilmuwan komputer yg menyelesaikan gelar sarjana di Harvard University pada Juni 1988. Agustus 1988, ia mendaftar di Cornell University untuk melanjutkan pendidikan pascasarjana. Saat itulah ia berniat untuk mengerjakan eksperimen. Morris harap mengembangkan program yg dapat menyebar secara perlahan tanpa & tersembunyi. Untuk menutupi jejaknya, Morris merilis eksperimennya dengan meretas komputer MIT. Sehingga bila terjadi kesalahan, maka yg teridentifikasi sebagai pelaku ialah mahasiswa MIT, bukan dirinya.
Dari proses interogasi bersama FBI, & setelah melihat berkas-berkas komputernya, Morris pun ditetapkan sebagai tersangka. Tahun 1989, pengadilan menyatakan Morris bersalah. Ia sudah melanggar undang-undang Computer Fraud and Abuse Act, yg baru disahkan pada 1986. Dalam undangan-undang tersebut ditegaskan bahwa dilarang untuk mengakses situs yg dilindungi secara ilegal. Ya, seperti yg Morris lakukan itu, meretas komputer MIT untuk eksperimennya.
Hari itu, Morris secara resmi ditetapkan sebagai pelanggar perdana dari undangan-undang tersebut. Worm yg Morris ciptakan dinamai dengan Morris Worm, jadi worm perdana yg menyerang sistem internet. Karena kecerobohannya, Morris harus menjalani hidup dalam supervisi & melaksanakan pelayanan masyarakat selama 400 jam.
Kasus Morris sudah menimbulkan dua dampak. Pertama, sadarnya Departemen Keamanan AS akan bahayanya serangan siber. Mereka juga menyadari betapa lemahnya sistem keamanan internet AS saat itu, sehingga hal ini berbahaya untuk keamanan dokumen negara. Untuk itu, beberapa hari setelah Morris divonis, Dephan AS langsung membentuk regu tanggap darurat komputer, kemudian merancang perangkat lunak untuk mendeteksi gangguan atau virus yg muncul di komputer/internet.
Kedua, Morris sudah memotivasi peretas lain untuk mengerjakan serangan siber yg lebih gila. Mereka mempelajari program buatan Morris & menyempurnakannya, lantas dipakai untuk kegiatan yg merugikan. Sejak saat itu, perang siber terus berkobar. Perentas kian cerdas. Namun, pihak keamanan tak mau kalah. Mereka terus mengupgrade sistem keamanan daring, ya, walaupun kadang mereka kecolongan, alias gerbang keamanan itu masih dapat dibobol.
***
Nah, itulah thread ane kali ini, Gansis. Semoga menambah wawasan.
Xoxo
Sekian
A thread by: serbaserbi.com
Gambar: Google image
Sumber: klik, klik
Follow my ig: klik
Gomawoyo
Hari ini 18:21
Semakin ke sini, serangan siber atau serangan di dunia maya semakin canggih. Hal ini menciptakan Departemen Keamanan bersama penyalur telekomunikasi harus bekerja lebih keras. Mereka terus mengembangkan perangkat keamanan internet, guna melindungi sistem daring, khususnya situs-situs penting supaya tak dimasuki oleh para peretas.
Bicara tentang kejahatan siber, tahukah Gansis siapa pelaku kejahatan siber perdana di dunia? Kapan serangan siber perdana itu terjadi? Syukurlah bagi yg sudah tahu. Bagi yg tidak tahu, kalian harus baca thread ane hingga habis. Pasalnya, kali ini ane akan membahas tentang serangan siber perdana di dunia.
Kajja!
Pukul 08:30 waktu Amerika Serikat, pada 2 November 1988, sebuah serangan sudah memperlambat kerja jaringan internet di komputer dengan sistem operasi Unix. Sebuah worm berbahaya sudah diluncurkan di internet, & teridentifikasi berasal dari komputer Institut Teknologi Massachustts (MIT). Mahasiswa Universitas California, yg komputernya terinfeksi worm ini--melapor pada pihak berwajib dengan kalimat, "We are currently under attack." Kami sedang diserang sekarang.
Situasi berubah kacau seketika. Departemen Keamanan AS & pihak telekomunikasi langsung bertindak, berusaha menghentikan worm yg menyebar liar & tak terkendali tersebut. Keadaan semakin buruk, ketika 6000 komputer yg tersambung ke internet dilaporkan sudah terinfeksi worm misterius itu. Di antaranya ialah komputer di universitas bergengsi: Harvard, Pricenton, Stanford, Johns Hopkins, serta komputer di NASA & Lawrence Livermore National Laboratory.
Kacau! Aktivitas internet terhambat. Memang worm ini tidak merusak file-file di komputer. Namun, jaringan yg merangkak lambat sudah menimbulkan kerugian akbar mencapai sepuluh juta dollar. Email pun tidak dapat dikirim hingga berhari-hari. Karenanya, beberapa komunitas memutuskan untuk melepas komputer mereka dari jaringan internet hingga berminggu-minggu lamanya. Ada pula yg menghapus sistem online mereka karena keamanan internet yg sedang terganggu.
Butuh 72 jam lamanya untuk mengidentifikasi tipe worm ini. Namun, tetap saja penyebarannya belum dapat dikendalikan. Sampai-hingga FBI pun ikut turun tangan, memecahkan; cara menghentikan penyebaran worm & mencari penyebar worm yg menyebabkan segala kekacauan itu.
Tak lama setelah kekacauan, sebuah pesan tak bertuan muncul di internet. Pesan itu berisi permintaan maaf atas segala kekacauan yg terjadi, karena dirinya (si pengirim pesan) yg jadi dalangnya. Ia juga melampirkan cara menghentikan worm tersebut. Sayangnya, karena masalah jaringan, cuma sedikit orang yg membaca pesan itu sehingga berita tersebut tidak ter-publish.
Berikutnya, panggilan anonim terhubung ke redaksi The New York Times. Si penelepon menjelaskan bahwa temannyalah yg menciptakan worm di internet. Ia bercerita bahwa temannya sedang mengerjakan eksperimen teknologi. Akan tetapi eksperimennya gagal sehingga menimbulkan worm yg menyebar liar. Ia juga menjabarkan, bahwa temannya meminta si penelepon untuk menulis pesan di internet. Sayangnya cuma sedikit orang yg membaca pesan tersebut. Hingga akhirnya ia berinisiatif untuk menghubungi pihak The Times.
Hal itu tentu saja mengejutkan pihak The Times. Mengingat FBI belum berhasil menemukan dalang dari worm perusuh tersebut. Akhirnya, berdasarkan informasi si penelepon tersebut, The Times merilis berita bahwa dalang dari kerusuhan internet itu ialah Robert Tappan Morris (23), mahasiswa pascasarjana di Cornell University. Berita ini langsung direspon cepat oleh FBI. Mereka menahan Morris & rekan-rekannya--termasuk si penelepon--untuk diinterogasi.
Diketahui bahwa Morris adalah putra dari seorang kriptografer di National Security Agency (NSA). Morris adalah ilmuwan komputer yg menyelesaikan gelar sarjana di Harvard University pada Juni 1988. Agustus 1988, ia mendaftar di Cornell University untuk melanjutkan pendidikan pascasarjana. Saat itulah ia berniat untuk mengerjakan eksperimen. Morris harap mengembangkan program yg dapat menyebar secara perlahan tanpa & tersembunyi. Untuk menutupi jejaknya, Morris merilis eksperimennya dengan meretas komputer MIT. Sehingga bila terjadi kesalahan, maka yg teridentifikasi sebagai pelaku ialah mahasiswa MIT, bukan dirinya.
Dari proses interogasi bersama FBI, & setelah melihat berkas-berkas komputernya, Morris pun ditetapkan sebagai tersangka. Tahun 1989, pengadilan menyatakan Morris bersalah. Ia sudah melanggar undang-undang Computer Fraud and Abuse Act, yg baru disahkan pada 1986. Dalam undangan-undang tersebut ditegaskan bahwa dilarang untuk mengakses situs yg dilindungi secara ilegal. Ya, seperti yg Morris lakukan itu, meretas komputer MIT untuk eksperimennya.
Hari itu, Morris secara resmi ditetapkan sebagai pelanggar perdana dari undangan-undang tersebut. Worm yg Morris ciptakan dinamai dengan Morris Worm, jadi worm perdana yg menyerang sistem internet. Karena kecerobohannya, Morris harus menjalani hidup dalam supervisi & melaksanakan pelayanan masyarakat selama 400 jam.
Kasus Morris sudah menimbulkan dua dampak. Pertama, sadarnya Departemen Keamanan AS akan bahayanya serangan siber. Mereka juga menyadari betapa lemahnya sistem keamanan internet AS saat itu, sehingga hal ini berbahaya untuk keamanan dokumen negara. Untuk itu, beberapa hari setelah Morris divonis, Dephan AS langsung membentuk regu tanggap darurat komputer, kemudian merancang perangkat lunak untuk mendeteksi gangguan atau virus yg muncul di komputer/internet.
Kedua, Morris sudah memotivasi peretas lain untuk mengerjakan serangan siber yg lebih gila. Mereka mempelajari program buatan Morris & menyempurnakannya, lantas dipakai untuk kegiatan yg merugikan. Sejak saat itu, perang siber terus berkobar. Perentas kian cerdas. Namun, pihak keamanan tak mau kalah. Mereka terus mengupgrade sistem keamanan daring, ya, walaupun kadang mereka kecolongan, alias gerbang keamanan itu masih dapat dibobol.
***
Nah, itulah thread ane kali ini, Gansis. Semoga menambah wawasan.
Xoxo
Sekian
A thread by: serbaserbi.com
Gambar: Google image
Sumber: klik, klik
Follow my ig: klik
Gomawoyo