Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Sebelum membaca maka cobalah untuk mencetak dua fakta ini dalam pikiran kalian. Pertama, hidup itu nggak adil. Kedua, tak ada yg gratis di dunia ini.
Okay, konflik Citayam fashion & Baim Wong akhirnya selesai, setidaknya untuk sekarang. Konflik yg berpusat antara hak paten & uang ini sekali lagi mengingatkan kita bahwa di mana ada kesempatan, di situ pula ada orang yg harap memperbanyak pundi-pundi uangnya. Katanya (katanya lo) fashion week ini dibuat oleh orang miskin sebagai hiburan tetapi pada akhirnya beberapa orang kaya ikut bermain demi popularitas & keuntungan. Hmm, cerita lama.
Memang cerita lama, & temanya sering sama, monetisasi si miskin.
Contohnya begini; ingat Bedah Rumah? Ingat Tukar Nasib? Uang Kaget? Acara-acara itu memiliki satu kesamaan yakni menargetkan orang-orang yg butuh uang, menunjukkan kehidupan mereka yg menguras air mata, lalu memberi mereka bantuan. Jika dipikirkan secara pendek maka itu adalah acara-acara yg bagus karena menolong orang miskin & membuka mata kita tentang penderitaan orang lain. Namun bagaimana kalau dipikirkan secara panjang?
Bukan rahasia lagi kalau orang miskin memang sangat mudah dijadikan sumber uang. Mungkin Anda pernah lihat beberapa youtuber yg menciptakan konten tentang memberi makan orang-orang miskin, atau juga konten tentang orang-orang yg bermain game untuk memperebutkan hadiah uang. Bagi kita yg menonton, tayangan seperti itu akan terlihat seru, menyentuh, & menginspirasi. Namun bagi pemilik tayangan, itu sumber uang yg tak ada matinya.
Jujur sajalah, orang paling dermawan pun pasti butuh uang, apalagi yg tidak. Jika seseorang menghabiskan satu juta untuk memberi makan orang miskin lalu mendapat sepuluh juta dari kontent tersebut maka orang itu dapat saja hidup mewah berkat si miskin sementara si miskin cuma kenyang beberapa jam & lapar lagi.
Memberi makan orang miskin jelas hal yg baik, tak peduli kegiatan itu direkam atau tidak. Sisanya cuma masalah si penerima apakah dia harap menerima atau tidak.
Saya pernah membaca tentang seorang tuna wisma yg menolak menerima makanan dari kelompok mahasiswa karena anak-anak itu merekamnya saat memberi bantuan itu. Saya tak bilang bahwa tindakannya itu salah, cuma saja harga diri yg terlalu tinggi akan menciptakan Anda kelaparan.
Dan sekarang kita membahas tentang harga diri. Sekarang bukan cuma orang kaya lagi yg memanfaatkan si miskin, bahkan orang miskin pun mulai memanfaatkan kemiskinannya. Pernah lihat orang mengerjakan stand up comedy dengan menghina dirinya sendiri? Ada orang yg miskin & cacat, & mereka mengpakai kekurangan itu dengan baik untuk mendapatkan uang. Ada juga orang yg bahagia hidup miskin karena dia cuma perlu duduk di pinggir jalan sembari mengemis & tak perlu mengerjakan apa pun lagi untuk mencari uang.
Orang-orang ini memanfaatkan kekurangannya, hidup dengan belas kasihan orang lain, & mendadak jadi lebih kaya dibanding orang-orang yg mengasihaninya. Harga diri? Lupakan saja. Uang adalah satu-satunya Tuhan berwujud fisik di dunia ini.
Singkat mengatakan semua kembali pada diri masing-masing. Beberapa orang mungkin terganggu bila dijadikan konten & itu hak mereka untuk menolak. Semua tergantung pada diri Anda. Apakah Anda harap tetap menjaga harga diri, atau mempermalukan diri demi sesuatu yg mungkin lebih baik?
Sekian dari saya mari berjumpa di thread saya yg lainnya. Hari ini 15:46
Okay, konflik Citayam fashion & Baim Wong akhirnya selesai, setidaknya untuk sekarang. Konflik yg berpusat antara hak paten & uang ini sekali lagi mengingatkan kita bahwa di mana ada kesempatan, di situ pula ada orang yg harap memperbanyak pundi-pundi uangnya. Katanya (katanya lo) fashion week ini dibuat oleh orang miskin sebagai hiburan tetapi pada akhirnya beberapa orang kaya ikut bermain demi popularitas & keuntungan. Hmm, cerita lama.
Memang cerita lama, & temanya sering sama, monetisasi si miskin.
Contohnya begini; ingat Bedah Rumah? Ingat Tukar Nasib? Uang Kaget? Acara-acara itu memiliki satu kesamaan yakni menargetkan orang-orang yg butuh uang, menunjukkan kehidupan mereka yg menguras air mata, lalu memberi mereka bantuan. Jika dipikirkan secara pendek maka itu adalah acara-acara yg bagus karena menolong orang miskin & membuka mata kita tentang penderitaan orang lain. Namun bagaimana kalau dipikirkan secara panjang?
Bukan rahasia lagi kalau orang miskin memang sangat mudah dijadikan sumber uang. Mungkin Anda pernah lihat beberapa youtuber yg menciptakan konten tentang memberi makan orang-orang miskin, atau juga konten tentang orang-orang yg bermain game untuk memperebutkan hadiah uang. Bagi kita yg menonton, tayangan seperti itu akan terlihat seru, menyentuh, & menginspirasi. Namun bagi pemilik tayangan, itu sumber uang yg tak ada matinya.
Jujur sajalah, orang paling dermawan pun pasti butuh uang, apalagi yg tidak. Jika seseorang menghabiskan satu juta untuk memberi makan orang miskin lalu mendapat sepuluh juta dari kontent tersebut maka orang itu dapat saja hidup mewah berkat si miskin sementara si miskin cuma kenyang beberapa jam & lapar lagi.
Memberi makan orang miskin jelas hal yg baik, tak peduli kegiatan itu direkam atau tidak. Sisanya cuma masalah si penerima apakah dia harap menerima atau tidak.
Saya pernah membaca tentang seorang tuna wisma yg menolak menerima makanan dari kelompok mahasiswa karena anak-anak itu merekamnya saat memberi bantuan itu. Saya tak bilang bahwa tindakannya itu salah, cuma saja harga diri yg terlalu tinggi akan menciptakan Anda kelaparan.
Dan sekarang kita membahas tentang harga diri. Sekarang bukan cuma orang kaya lagi yg memanfaatkan si miskin, bahkan orang miskin pun mulai memanfaatkan kemiskinannya. Pernah lihat orang mengerjakan stand up comedy dengan menghina dirinya sendiri? Ada orang yg miskin & cacat, & mereka mengpakai kekurangan itu dengan baik untuk mendapatkan uang. Ada juga orang yg bahagia hidup miskin karena dia cuma perlu duduk di pinggir jalan sembari mengemis & tak perlu mengerjakan apa pun lagi untuk mencari uang.
Orang-orang ini memanfaatkan kekurangannya, hidup dengan belas kasihan orang lain, & mendadak jadi lebih kaya dibanding orang-orang yg mengasihaninya. Harga diri? Lupakan saja. Uang adalah satu-satunya Tuhan berwujud fisik di dunia ini.
Singkat mengatakan semua kembali pada diri masing-masing. Beberapa orang mungkin terganggu bila dijadikan konten & itu hak mereka untuk menolak. Semua tergantung pada diri Anda. Apakah Anda harap tetap menjaga harga diri, atau mempermalukan diri demi sesuatu yg mungkin lebih baik?
Sekian dari saya mari berjumpa di thread saya yg lainnya. Hari ini 15:46