hendladi
IndoForum Beginner D
- No. Urut
- 113568
- Sejak
- 15 Jan 2011
- Pesan
- 685
- Nilai reaksi
- 2
- Poin
- 18
KAIRO, KOMPAS.com - Pemimpin utama oposisi Mesir, Mohamed ElBaradei, memperingatkan potensi kerusuhan dan kekerasan di negeri itu setelah Presiden Hosni Mubarak, Kamis malam, mengumumkan bahwa dia tidak akan mengundurkan diri sebelum pemilihan pada September mendatang.
"Mubarak berjudi dengan negaranya dengan tetap berkuasa," kata ElBaradei sebagaimana dikutip CNN. Dia mengulangi pesannya di akun Twitter, yaitu, "Mesir akan meledak. Tentara harus menyelamatkan negara ini sekarang."
Bentrokan antara rakyat dan tentara, yang secara tradisional diyakini rakyat Mesir berpihak pada mereka, akan sangat menghancurkan, kata ElBaradei, seorang pemenang Hadiah Nobel Perdamaian dan mantan direktur Badan Energi Atom Internasional. Pandangan ElBaradei berubah jam sebelumnya, ketika rakyat Mesir, termasuk ribuan orang di Tahrir Square, Kairo, berharap Mubarak mundur ketimbang mendelegasikan kekuasaan kepada Wakil Presiden Omar Suleiman.
Perubahan terbaru itu mengagalkan tuntutan para pemimpin oposisi atau mereka yang telah berunjuk rasa di Tahrir Square selama lebih dari dua minggu. Satu protes massa lain akan direncanakan lagi Jumat ini, setelah salat.
"Mubarak hanyalah salah satu bagian dari rejim ini," kata aktivis hak asasi manusia Gigi Ibrahim, salah seorang demonstran di Tahrir Square, kepada CNN. "Orang-orang sudah berada di sini selama 17 hari, dan mereka bukan untuk (mendukung) Suleiman," kata Ibrahim. "Mubarak telah kehilangan semua legitimasinya, dan sekarang penyerahan kekuasaannya kepada wakil presiden tidak sah sebagaiman juga dengan kekuasaan Mubarak."
ElBaradei mengatakan kepada CNN bahwa rakyat Mesir tidak akan menerima perbahan terbaru itu. "Suleiman dianggap sebagai perpanjangan tangan Mubarak. Mereka kembar. Tak satu pun dari mereka diterima oleh rakyat," katanya. "Demi negara Mesir, mereka harus pergi." ElBaradei mengatakan, sebuah dewan pemimpinan dan pemerintah sementara harus memimpin negara Afrika Utara itu selama satu tahun dalam transisi menuju proses yang lebih demokratis.
Pernyataan Mubarak tentang intervensi asing, dan tekadnya untuk melihat proses transisi, bukan merupakan apa yang paling ingin didengar oleh kerumunan massa di Tahrir Square. "Mundur. Mundur!" teriak mereka saat ia berpidato.
Setelah pidato tersebut, Ketua Parlemen Ahmed Fathi Srour mengatakan kepada televisi negara, Nile TV, bahwa langkah Mubarak itu telah menempatkan wewenang untuk menjalan pemerintahan sehari-ari di tangan Suleiman.
Sementara itu, Oman Suleiman menyebut unjuk rasa selama dua minggu terakhir sebagai "revolusi orang-orang muda." Suleiman meminta kepada para pengunjuk rasa untuk pulang ke rumah dan kembali bekerja.
Namun hal itu tidak terjadi Jumat pagi. Yaser Fathi, salah seorang penyelenggara protes pasca-pidato Mubarack di kota Alexandria, mengatakan kepada CNN bahwa ratusan demonstran sedang bergerak ke pangkalan militer Mesir. Mereka meminta angkatan bersenjata untuk campur tangan dan berteriak, "militer harus turun tangan agar Mubarak turunr," kata Fathi.
Khalid Abdalla, seorang demonstran di Tahrir Square dan bintang film "The Kite Runner," Jumat dini hari mengatakan, "Sekarang merupakan momen yang sangat menyedihkan. Semua orang bingung," kata aktor itu. "Orang-orang mencoba untuk mencari, apa lagi yang mereka bisa lakukan."
Pemenang Nobel Ahmed Zewail, calon potensial presiden Mesir, mengatakan, ia melihat "beberapa skenario yang berbeda" di mana transisi bisa terjadi. "Yang penting adalah bahwa tentara akan melindungi transisi ini sampai sebuah konstitusi baru tercapai," kata Zewail kepada CNN sebelum pidato Mubarak. "Saya sangat menghargai fakta bahwa angkatan bersenjata mengendalikan apa yang terjadi."