yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Asosiasi Pengusaha Daging Indonesia (APDI) mengatakan, nilai kerugian yang diderita anggotanya dalam aksi mogok selama empat hari mencapai Rp200 ribu per harinya. Seperti diketahui para pedagang sapi mogok berjualan sejak 15-18 November 2012.
“Biasanya pedagang sapi di pasar-pasar tradisional mendapatkan keuntungan Rp200 ribu per harinya,” ujar ketua APDI, Asnawi, Minggu, 18 Oktober 2012.
Asnawi mengatakan, APDI memiliki sekitar 12 ribu anggota di Jabodetabek. Jika per anggotanya mengalami kerugian per hari Rp200 ribu maka dalam 4 hari para pedagang di pasar tersebut bisa merugi sampai Rp800 ribu.
“Jika ditotal maka seluruh pedagang daging di Jabodetabek bisa mengalami kerugian sampai Rp9,6 miliar,” katanya.
Angka kerugian anggota APDI di Jabodetabek memang yang paling besar dari wilyah-wilayah lain di Indonesia. Namun, Asnawi mengatakan jumlah seluruh pedagang di Indonesia yang menjadi anggota asosiasinya mencapai 32 ribu pedagang.
Jika seluruh pedagang di Indonesia ditotal secara keseluruhan maka kerugian dari aksi mogok pedagang daging ini mencapi Rp25,6 miliar. Lebih lanjut, Asnawi mengatakan bahwa sampai akhir tahun ia belum melihat keadaan harga daging sapi di pasaran akan semakin membaik.
“Sampai akhir tahun malah saya memprediksi harga daging murni akan sampai Rp120 ribu dan daging tulang Rp75 ribu per Kg,” ujarnya.
Asosiasi meminta kepada pemerintah untuk menyelesaikan hal tersebut karena para pedagang selama ini selalu dijadikan kambing hitam oleh pembeli dan dituding ingin mengambil untuk sebesar-besarnya dari situasi sekarang ini.
Padahal ia mengungkapkan, para anggotanya yang notabenenya adalah para pedagang kecil juga merupakan korban dari program pemerintah dan mitra kerjanya yaitu para importir daging besar.
Ke depannya, Asnawi mengharap pemerintah segera bertindak mengatasi hal ini. Jangan sampai harga daging nantinya semakin menjadi tidak terjangkau bagi masyarakat apalagi mereka yang berpenghasilan rendah.
“Mau kita bukannya menambah impor tapi pemerintah harus menunjukkan klaim mereka bahwa banyak sentra-sentra penghasil daging sapi di Indonesia,” katanya.